
"Apa orang yang terkenal itu sebenarnya hidup nyatanya sangat tragis ya?" tanya Dewi.
"Menurut aku begitu, lihatlah, anak wanitanya harus menikah dengan anak temannya Ayahnya meskipun hanya pernikahan bisnis padahal mereka sama-sama tidak cinta, bagaimana jadinya jika mereka hidup bersama tapi hanya kerja keterpaksaan. Maka dari itu, di akhir hidupku aku tidak mau seperti itu, aku ingin hidupku penuh cinta bersama orang yang aku cintai." Zeiro melihat Dewi sambil tersenyum penuh bunga-bunga.
Dewi tidak menyahut, ia fokus melihat ke depan. Ya berharap kedepannya seperti apa yang ia harapkan, hidup tenang tanpa gangguan.
Tak lama, mereka pun sampai di sebuah restoran, Zeiro memberhetikan mobilnya di depan restoran itu lalu memarkirkannya.
"Ayo," ajak Zeiro melepaskan sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.
Zeiro mendekati Dewi dan menggandeng tangan Dewi meskipun ngeri-ngeri sedap takut Dewi tiba-tiba mematahkan tangannya, tapi Dewi tidak melakukan apa-apa, dia pura-pura tidak tahu saja.
Mereka masuk ke dalam dan semua mata memandang ke arah Dewi dan Zeiro, mereka terlihat sangat serasi.
Siapa yang tidak mengenal Zeiro, bahkan wajah Dewi juga sudah terkenal karena pertandingan itu.
"Lihatlah, mereka bergandengan tangan, jangan-jangan mereka pacaran?" bisik salah satu karyawan di sana.
"Aku rasa begitu, tapi mereka terlihat serasi sekali," jawab temannya merasa hatinya meleleh.
"Hiks, aku tak rela jika Tuan Zeiro sudah punya pasangan, hati benar-benar hancur. Sudahlah, aku tak semangat bekerja lagi," sahut temannya yang lain duduk di lantai.
"Tenang saja, belum ada berita jika mereka pacaran, mungkin saja wanita itu hanya teman singgah saja," ujar temannya menenangkan meskipun ia juga tak rela.
"Sini buku menunya, biar aku yang antar," ucap pegawai yang terduduk ke lantai itu tiba-tiba bersemangat.
__ADS_1
"Silakan Tuan Zeiro mau pesan apa," ucap pegawai itu tersenyum genit memberikan buku menu kepada Zeiro sendiri saja, ia sama sekali tidak peduli pada Dewi yang ada di sana.
"Aku mau pesan yang ini 4 porsi, yang ini 3 porsi dan ini 2 porsi, sama minuman 3," ucap Zeiro.
"Wah, makan Tuan Zeiro banyak juga ya, pantas saja tubuh Tuan sangat kekar karena makan banyak," ucap pegawai itu menunjuk ke arah dada Zeiro tapi Zeiro menghindar.
Pegawai itu menjadi malu lalu melihat ke arah Dewi.
"Oh ini siapanya Tuan?" tanya pegawai itu sambil tersenyum.
"Dia … adalah orang yang aku cintai," jawab Zeiro tersenyum ke arah Dewi penuh cinta. Dewi mencibir, ingin rasanya ia muntah.
Mendengar jawaban Zeiro, pegawai itu langsung lari ke dapur dekat teman-temannya dan menangis sesenggukan.
"Aku tidak terima! Aku tidak terima jika Tuan Zeiro sudah memiliki kekasih," ucap pegawai itu duduk di lantai sambil menangis.
"Hey! Tadi dia pesan apa?" tanya temannya.
"Tidak tahu! Tidak ingat! Aku kesal!" denggus pegawai itu kesal, ia membuka celemeknya dan pergi meninggalkan restoran.
Dengan terpaksa salah satu pegawai yang lain datang menghampiri Zeiro dan Dewi.
"Maaf Tuan dan Nona, tadi pesan apa ya, teman kami tadi lupa tadi apa yang di pesan oleh Anda," ucap pegawai itu.
Zeiro mengatakan apa yang ia pesan tadi.
__ADS_1
"Baik Tuan, Nona, harap menunggu ya," ucap pegawai itu mengambil kembali buku menu yang di tinggalkan oleh temannya itu lalu membawanya ke meja lalu memesankan kepada koki di belakang.
Dewi memanyunkan mulutnya.
"Kamu kenapa seperti itu?" tanya Zeiro melihat Dewi yang berubah.
"Haishh … sangat sulit jalan dengan mu, bahkan aku tak terlihat." Dewi mengangkat alisnya.
"Jangan seperti itu, hati ku hanya akan ada pada mu," ucap Zeiro.
"Cih! Siapa yang peduli hati mu untuk siapa, mau kau berikan pada anjing aku juga tak peduli," sahut Dewi menarik sudut bibirnya ke samping.
"Nanti kau menyesal, tidak akan ada yang mencintai mu setulus aku," ucap Zeiro terkekeh.
"Terserah kau saja," jawab Dewi memutarkan bola matanya.
Tak lama makanan pun sampai, pegawai itu meletakkan makanan itu di atas meja.
"Silakan Nona, Tuan di nikmati," ucap pegawai itu tersenyum ramah.
Zeiro mengangguk. Zeiro memberikan piring yang ada di hadapannya ke arah Dewi.
"Mau ku suapkan?" tanya Zeiro.
"Aku punya tangan." Dewi mengambil garpu dan pisau lalu memotong roti dan memasukkan ke dalam mulutnya. Akan tetapi belum sampai lagi ke dalam mulutnya, Zeiro memegang tangan Dewi lalu mengarahkan tangan Dewi ke mulutnya dan melahap roti itu dengan tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Zeiro.