
Zeiro mendekati pria itu.
"Apakah Anda yang akan membeli aset milik Dewi pembunuh?" tanya Zeiro.
"Ya benar." angguk pria itu.
"Baiklah, ikut saya," ajak Zeiro. Pria itu pun mengikuti Zeiro.
"Ayo ke ruangan ku," ajak Zeiro kepada Dewi dan mereka bersama-sama menuju ruang utama.
Sesampainya di depan ruang utama, Zeiro menekan sebuah layar dan meletakkan sidik jarinya dan pintu itu terbuka secara otomatis.
"Ayo silakan masuk," ucap Zeiro mempersilakan. Pria itu masuk ke dalam dan duduk di sofa, Dewi duduk berhadapan pria itu.
Melihat itu, Zeiro langsung duduk di dekat Dewi dan menyuruh Dewi untuk menggeser sedikit, agar ia yang duduk di hadapan pria itu. Dewi melihat Zeiro dengan menekuk alisnya. Karena yang akan menangani masalah ini adalah dirinya, bukan Zeiro, kenapa seolah-olah Zeiro dia adalah pemilik asetnya?
"Jadi bagaimana? Anda setuju dengan pembelian aset Dewi pembunuh?" tanya Zeiro mengatup kedua tangannya dan mengengam.
"Bolehkah aku melihat semua suratnya dulu?" tanya Pria itu.
Dewi memperlihatkan surat-suratnya dan pria itu melihatnya.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan membelinya," ucap pria itu mengangguk setelah mengamati cukup lama.
Zeiro tersenyum melihat Dewi dan Dewi pun membalas senyum Zeiro.
"Berikan rekening Anda, saya akan mengirimkan uangnya," ucap pria itu mengambil ponselnya dari saku jasnya.
Dewi mencatat nomor rekeningnya di sebuah kertas dan memberikan kepada pria itu.
"Sini, biar aku aja yang berikan." Zeiro mengambil kertas itu dari tangan Dewi lalu memberikan kepada pria itu sambil tersenyum.
Pria itu melihat Zeiro sedikit aneh dan ia tetap menerima kertas itu.
"Uangnya sudah saya kirim," ucap pria itu.
"Ya sudah masuk." angguk Dewi setelah melihat SMS banking di ponselnya.
"Jadi Tuan, mulai saat ini surat ini adalah milik Anda," ucap Zeiro.
"Terima kasih," ucap pria itu mengulurkan tangannya kepada Zeiro dan mereka berjabat tangan.
Pria itu mengulurkan tangan kepada Dewi juga, tapi dengan sopan Zeiro memegang tangan Dewi.
__ADS_1
"Maaf Tuan, dia tidak biasa berjabat tangan dengan pria asing," ucap Zeiro.
"Oh begitu, baiklah, terima kasih, saya pergi dulu," ucap pria itu membawa berkas masuk ke dalam mobilnya dan mobil itu pun meninggalkan kantor Zeiro.
Mereka melihat mobil itu hingga pergi jauh dan tak terlihat.
"Kau kenapa sih?" tanya Dewi menatap Zeiro sambil menekuk alisnya.
"Kau tidak boleh berjabat tangan dengan siapa pun selain aku," jawab Zeiro dengan enteng.
"Ya udah aku mau melihat Andika untuk mengatakan selamat tinggal, karena habis pulang ini aku tidak akan bisa tinggal diam di Negara A, aku harus merebut apa yang menjadi milikku juga," ucap Dewi.
Zeiro berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam mobil. "Ayo, apa yang kau tunggu lagi!" panggil Zeiro. Dewi berjalan mendekati mobil itu dan masuk ke dalam lalu menutup pintu mobil.
Mobil pun melaju ke jalanan menuju kantor polisi.
"Apa masalah mu di negara A? Apa kau ingin menghabisi orang yang dulu membuli mu?" tanya Zeiro.
"Aku tidak peduli pada serangga kecil yang hanya menggelitiki kaki ku, tapi ada masalah lain lagi," jawab Dewi.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di kantor polisi, mereka pun masuk ke dalam kantor polisi.
__ADS_1