
Benar-benar di buat binggung, Ceo yang terhormat ini malah berlaku manja di hadapannya.
"Memangnya bisa lari kemana aku jika kau bisa menemukan ku juga." Dewi mengengam tangan Zeiro dan melepaskan dari pinggangnya.
"Mungkin kaulah orang yang aku nantikan, meskipun dulunya aku tidak tahu siapa yang benar-benar bisa mengisi ruang hatiku yang kosong, tapi sekarang aku sudah menemukan jawabannya. Dan itu adalah kau." Zeiro menatap mata indah Dewi dengan penuh syahdu. Dewi terdiam dan menatap Zeiro balik.
"Berhentilah berkhayal, aku ingin pergi kuliah," ucap Dewi membuyarkan pandang-pandangan yang tak menentu dan canggung.
Dewi pun berdiri, akan tetapi Zeiro langsung memegang tangan Dewi dan mengengam ya erat.
"Dewi, apa kau tau ini di mana?" tanya Zeiro.
"Ini di hotel," jawab Dewi memutar bola matanya sambil menghembuskan nafas berat.
"Ya, kau benar, ini adalah hotel ku," jawab Zeiro tersenyum.
"Pantas saja kau bisa menemukan ku," ujar Dewi mengkerucutkan bibirnya.
"Ayo kita mandi, aku akan mengantarmu ke kampus." Zeiro menarik tangan Dewi masuk ke kamar mandi.
"Berhenti! Aku bisa mandi sendiri, kau tidak perlu ikut!" ucap Dewi menatap Zeiro dengan tatapan membunuh.
"Baiklah, baiklah," jawab Zeiro menurut. Hatinya sangat bahagia dan lega setelah menemukan Dewi. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan menatap langit-langit kamar itu sambil tersenyum.
Dewi melupakan sesuatu bahwa ia tak punya baju ganti. Rasanya tidak mungkin ia meminta Zeiro membelikannya meskipun ia mau melakukannya.
Dewi menongolkan kepalanya lalu keluar dari kamar mandi.
"Ada apa lagi?" tanya Zeiro yang langsung duduk saat melihat Dewi keluar.
"Hm ... tidak ada apa-apa," jawab Dewi yang langsung menuju pintu dan keluar dari kamar, Zeiro mengekornya dari belakang.
__ADS_1
"Kau keluar kenapa memakai handuk kimono? Kenapa nggak pakai baju mu?" tanya Zeiro panik karena ia takut jika tubuh Dewi di lihat orang, karena tentu saja memakai handuk kimono tidak sama seperti memakai baju. Dewi tidak menanggapinya dan ia terus berjalan lalu berlari kecil menghampiri salah satu pegawai di sana.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya pegawai itu tersenyum ramah.
"Itu ... aku tak punya baju ganti, bisakah kau belikan satu untukku?" pinta Dewi.
"Baiklah, kebetulan sekali tidak jauh dari sini ada toko baju, jadi berikan uangnya, saya akan membelikannya," ucap pegawai itu.
Dewi binggung karena ia tak punya uang tunai saat ini.
"Biar aku yang belikan, kau cepatlah mandi," ucap Zeiro pergi meninggalkan hotel dan menuju toko baju yang berjarak hanya 30 meter dari hotelnya.
Dewi melihat punggung Zeiro yang bergegas pergi, dan ia pun terlihat berlari menuju toko baju. Segitunya dia ingin berkorban untuk Dewi.
Pegawai itu melihat Dewi dengan penuh tanda tanya, ingin bertanya tapi segan, jika tidak bertanya tapi penasaran.
"Hm … ada yang ingin kau tanyakan? Katakan saja sekarang dari pada kau penasaran nanti," ucap Dewi melipat tangannya.
"Tuan Zeiro adalah Ceo besar dan terkenal, biasa dia yang memerintah orang, aku tidak pernah melihatnya seperti itu. Mungkinkah Nona adalah orang yang spesial di hari Tuan?" tanya pegawai itu berharap mendapat jawaban.
"Hm ... itu tidak yang seperti kamu pikirkan, dia emang suka begitu kok akhir-akhir ini, nggak tau dia ngidam apa," jawab Dewi ngasal sambil melihat sekeliling hotel itu.
Namun pegawai itu menatap terus ke arah Dewi karena ia tahu jika Dewi berbohong.
"Ya sudah aku mau ke atas dulu, mau mandi," ucap Dewi menunjuk atas dan ia langsung balik badan dan pergi.
Pegawai itu menatap punggung Dewi datar, ia berpikir entah apa kelebihan dari wanita yang membuat Tuan Ceo yang terhormat itu mau membelikan baju untuknya, entah apa juga yang di lihat Zeiro hingga ia menyukainya, karena ia sudah lama bekerja di hotel itu dan belum pernah melihat Zeiro membawa wanita apa sampai harus membeli perlengkapan wanita.
Dewi masuk ke dalam kamar dan ia duduk di kasur.
"Bisa-bisanya aku malah menginap hotel Zeiro, kenapa aku tidak curiga saat ada tulisan Z di atas." Dewi menundukkan kepalanya sambil menopang kan dahi dengan tangannya.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
"Masuklah," ujar Dewi melihat ke arah pintu. Zeiro masuk ke dalam dan membawa 7 buah paper bag dan meletakkan di atas kasur di samping Dewi.
Dewi melihat Zeiro banyak sekali yang Zeiro bawa dan meraih salah satu paper bag itu, ia merasa tak enak hati jika ia tak menghargai usaha Zeiro yang sudah capek-capek berlari pergi beli pakaian yang banyak untuknya dan pakai uang pribadi dia lagi.
"Terima kasih," ucap Dewi pelan sambil membuka paper bag-nya.
"Jangan berterima kasih seperti itu, asal kamu senang, itu sudah cukup untukku," ucap Zeiro tersenyum.
Dewi tersenyum tipis. "Hm … itu, aku ingin mandi, bisakah kau tunggu di luar saja?" Dewi menyipitkan sebelah matanya dengan nada rendah.
"Oke! Ayo cepat mandi sana, setelah mengantar mu aku juga akan ke kantorku," ucap Zeiro berjalan keluar dari kamar itu.
Dewi pun masuk ke dalam kamar mandi dan ia segera bersih-bersih.
Setelah mandi, Dewi berganti pakaian, menyisir rambutnya. Ia pun keluar dengan membawa paper bag yang Zeiro beli tadi dan barang-barangnya lain miliknya.
Dewi keluar dan mendapati Zeiro masih menunggunya di depa pintu.
"Kamu ngapain masih di sini? Tapi katanya mau ke kantor," ucap Dewi mengangkat alisnya.
"Iya, aku antar kamu kuliah dulu baru akan kekantor, ayo." Zeiro mengambil paper bag dari tangan Dewi lalu meletakkan tangannya sebelah kiri lalu tangan kanannya memegang tangan Dewi dan membawanya turun dari hotel dan menuju mobilnya.
Zeiro meletakkan paper bag itu ke dalam bagasi mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Dewi dan Dewi pun masuk. Zeiro duduk di samping Dewi lalu memakai sabuk pengamannya.
Perlahan-lahan mobil pun melaju di jalanan meninggalkan hotel.
"Dari mana kau tahu jika aku ada di hotel ini?" tanya Dewi membuka pembicaraan.
"Aku melacak mu, apa kau tahu aku bahkan kurang tidur agar bisa segera menemukan mu. Tapi aku sangat penasaran bagaimana kamu bisa sampai ke Negara A, sedangkan kau tidak punya paspor?" tanya Zeiro melihat ke arah Dewi.
__ADS_1
"Aku ikut kapal gelap penjual wanita ke Negara A," jawab Dewi santai.
"Ya ampun Dewi! Apa yang kamu lakukan? Bagaimana jika kamu tertangkap dan terluka, kamu benar-benar nekat ya," ucap Zeiro panik. Ia meraih tang Dewi dan menggenggamnya erat.