
Para bawahan Bram menembak Dewi, sedangkan ia duduk santai sambil merokok di pojokan dengan memakai jas anti peluru.
Dor! Dor! Dor!
Dewi menghindar lalu menendang meja itu hingga mejanya terbalik agar ia bisa berlindung dari peluru itu, Dewi melompat dengan membawa meja tersebut untuk mendekati salah satu bawahan Bram, setelah mendekatinya Dewi membuang meja lalu menendang pergelangan tangan bawahan Bram dan senjata apinya terjatuh, dengan secepatnya Dewi mengambilnya, ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan menembak bawahan Bram.
Dor! Dor! Dor!
Dewi menembaknya tepat sasaran, beberapa orang kepalanya bocor dan mati. Sisanya masih melancarkan tembakannya.
Dewi bersembunyi di balik sofa, lalu menembak yang lain juga. hanya sisa 2 orang lagi, Dewi keluar dari persembunyiannya.
Kedua orang itu menembak Dewi, Dewi menghindarinya lalu melompat dan menembak kedua orang itu karena dirinya adalah penembak jitu, ia selalu mengincar kepala karena kebanyakan kepala tidak mengunakan pengamanan.
Akhirnya kedua orang itu mati.
"Ternyata aku meremehkan mu ya," ucap Bram berdiri setelah melihat anak buahnya sudah mati.
"Kenapa? Kau sungguh menganggap aku lemah, tapi sebelum kamu mati, aku akan beri tahu siapa aku yang sebenarnya," ucap Dewi menodongkan senjata apinya di hadapan Bram, Bram juga menodongkan senjata apinya ke hadapan Dewi.
"Kalau begitu katakan siapa kau sebenarnya," ucap Bram.
"Aku adalah Dewi pembunuh," ucap Dewi.
__ADS_1
"Tidak mungkin, Dewi pembunuh sudah mati, rem mobil juga blong, sisa mayatnya juga sudah di deteksi jika itu adalah mayatnya, lalu bagaimana kau menyebut dirimu sebagai Dewi pembunuh," ucap Bram tak percaya.
"Kau tau itu transmigrasi, aku pindah ke tubuh wanita lain, tentu saja aku tahu tentang semuanya, makanya aku bisa menyelamatkan harta milik ku dengan wasiat yang aku buat sendiri, karena aku sudah mengatakan semuanya aku tidak perlu lagi membuatkan kamu hidup," ucap Dewi.
"Ha-ha-ha, tidak menyangka kita bertemu lagi meskipun itu tidak bisa di percaya, dulunya kita adalah rekan kerja bertemu kembali malah menjadi musuh. Karena melihat kau bisa menghindari peluru tadi aku sedikit percaya jika kau Dewi pembunuh, karena hanya Dewi pembunuh yang bisa menghindari peluru sebanyak itu, lihat saja aku akan menyebarkan masalah ini, agar para mafia mengejar dan memburu mu," ucap Bram.
"Kau tidak bisa melakukan itu, karena kau akan mati di tanganku," ucap Dewi.
Dor!
Sebuah tembakan mengarah ke arah Bram, Bram langsung memakai penutup kepala yang terbuat anti peluru.
Dor! Dor! Dor!
Dor!
Dewi menembak bagian pergelangan tangan Bram karena hanya itu yang tak tertutup membuat senjata apinya terlepas, ini adalah kesempatan Dewi, Dewi membuang senjata apinya lalu berlari menghamburkan tubuhnya ke arah Bram membuat mereka terjatuh bersama, Dewi secepatnya duduk di atas tubuh Bram lalu membuka penutup kepala Bram lalu menghajarnya tanpa ampun, Dewi berdiri lalu meraih tangan Bram lalu mematahkannya.
Krak!
Krak!
Tanpa ampun lagi Dewi membuat Bram tak bisa bergerak lagi, hanya menyisakan satu nafas.
__ADS_1
"Katakan pesan terakhir mu sebelum kau mati," ucap Dewi.
"He-he-he, jika ada di kehidupan baru lagi, maka aku berharap jika kita bisa bertemu lagi dan menjadi bawahan mu lagi dan bisa membunuh mu secara permanen," ucap Bram terbata-bata.
"Permintaan macam apa itu," ucap Dewi yang langsung menghantam ulu hatinya dengan kuat, lalu mematahkan lehernya.
Krak!
Dewi berdiri setelah memastikan jika Bram sudah mati.
"Aku berharap tidak ada kehidupan lagi untukmu, aku mengutuk mu semoga kau rainkernasi menjadi babi buta saja," ucap Dewi kesal.
Dewi mengambil buku dan pena di tas kecilnya, ia pun meletakan pena itu di tangan Bram dan menuliskan di kertas tersebut.
"Hm … kira-kira siapa yang aku salahkan ya?" tanya Dewi berpikir.
Dewi teringat seseorang, dia adalah musuh dirinya, seorang mafia yang baru, yang mereka tahu Bram adalah notarisnya dan khalayak tidak tahu jika Bram dan mafia itu berteman, jadi Dewi mengambil kesempatan ini untuk menghukum mereka sekaligus.
Dewi menuliskan di kertas itu dengan nama "Joshi".
"He-he-he, terima kasih Joshi karena sudah menjadi musuh ku, kalian baik-baik lah terima akibatnya," ucap Dewi tersenyum sinis, ia mengambil tissue lalu membasahkannya dengan air lalu menghapus sidik jarinya.
Setelah semuanya selesai, Dewi pun pergi meninggalkan rumah itu lalu menuju mobil.
__ADS_1
"Siapa suruh kalian semua mengkhianati ku, aku tidak akan memberi ampun pada kalian," ucap Dewi menghidupkan mobilnya lalu menginjak pedal gas mobilnya.