
"Baiklah, jika itu terbaik untuk mu," jawab Zeiro mengangguk.
Tapi Zeiro belum tahu apa alasan Dewi begitu dendam pada Andika, tidak mungkin karena dia fans berat Dewi pembunuh dan ingin membalas dendamnya.
'Aku harus balas satu persatu mereka yang mengkhianati ku, pertama-tama yang ada di depan mata, Andika dan Mei, lihat saja kalian nanti! Aku akan membuat hidup kalian menderita. Kedua aku harus menemukan pelaku pembunuhan ku, bagi pembunuh ku itu aku benar-benar tidak akan melepaskannya, lihat saja nanti,' batin Dewi.
Triring
Triring
Triring
Ponsel milik Zeiro berbunyi dan ia segera mengangkatnya.
"Halo Pak, ada apa?" tanya Zeiro.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya kepala kompetisi.
__ADS_1
"Dia sudah sedikit membaik," jawab Zeiro.
"Baguslah jika begitu. Hm … begini, masalah pertandingan tadi, kamu juga melihatnya kan? Jika dia tadi sudah menekan titik vital seluruh peserta dari negara Q, jadi sampai sekarang mereka belum bisa berdiri dan bergerak, ada sebagian dari merek yang mengompol dan buang air besar di celana, mereka hanya bisa di pindahkan dari tempat pertandingan. Ki sudah melakukan cara agar mereka bisa bergerak, tapi sepertinya itu hanya bisa di lakukan oleh peserta mu saja," ucap kepala kompetisi.
"Oh begitu ya, baiklah, setelah dia sedikit membaik lagi aku akan mengajaknya kembali," jawab Zeiro mengangguk.
"Baiklah, jika begitu, maaf sudah merepotkan mu, semoga dia cepat sembuh," ucap kepala kompetisi itu tersenyum.
"Iya pak, terima kasih," ucap Zeiro memutuskan panggilannya.
"Kamu lihatlah terus pemandangan itu sampai hatimu puas, biarkan mereka menanggungnya sedikit lebih lama lagi," ucap Zeiro membaringkan tubuhnya di pasir sambil memejamkan mata.
"Ayo, aku sudah siap," jawab Dewi mantap.
"Terlihat dari wajahmu kau sepertinya mempunyai semangat baru," ucap Zeiro tersenyum.
Seulas senyum di bibir Dewi, tapi secepat kilat wajahnya berubah datar.
__ADS_1
Zeiro berdiri dan berjalan ke arah mobilnya yang di ikuti Dewi dari belakang, mereka masuk ke dalam mobil.
Zeiro melajukan mobilnya kembali menuju gedung kompetisi.
Sesampainya di sana, para reporter berdatangan ingin mewawancarai Dewi, tapi di mereka di halangi petugas agar tidak mendekati Dewi, karena Dewi saat ini sedang di butuhkan.
"Mari Nona saya antarkan tempatnya," ucap salah satu petugas itu memberi jalan. Dewi mengangguk.
Dewi pun di antar ke sebuah ruangan yang sangat tidak enak di cium, mereka masuk pun harus menutup hidungnya. Sedangkan di dalam mereka harus tersiksa menahan bau busuk, ada sebagian sudah pingsan karena sudah tak sanggup menahan bau busuk yang bercampur baur itu.
"Maaf, para petugas harap keluar, aku ngak mau cara kerjaku di lihat oleh orang lain," ucap Dewi.
"Baiklah jika begitu," angguk petugas itu setuju dan memilih untuk pergi.
Dewi melihat sekeliling ruangan itu memastikan jika di dalam tidak ada kamera CCTV atau kamera lainnya yang mengawasinya.
Dewi berkeliling dan mendapati ada 4 buah kamera kecil yang di pasang 4 sudut ruangan.
__ADS_1
"Heh! Apa maksudnya ini? Ingin mencuri ilmu ku? Kalian tidak di perbolehkan," ucap Dewi meremas kamera itu satu persatu dan hancur jatuh ke lantai.
Mereka yang mengawasi dari balik layar seketika layar mereka menghitam dan tidak berfungsi lagi.