Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 113


__ADS_3

"Wah, Anda sangat beruntung mendapatkan wanita sepertinya, kalau boleh tau dia dari keluarga mana?" tanya mereka lagi.


"Aku harap kalian tidak bertanya lebih dalam lagi, atau aku tidak akan melepaskan perusahaan kalian," ancam Zeiro sambil tersenyum yang mengerikan.


"Eh, maaf Tuan, maaf kami tidak akan berbicara lagi," ucap mereka ketakutan.


Orang-orang berdatangan dan datang mendekati Zeiro dan bersalaman, tentu saja mereka melontarkan pujian-pujian yang indah.


"Kau lanjutlah berbincangnya, aku ingin mengisi perut dulu," ucap Dewi meninggalkan Zeiro tanpa menunggu jawaban dari Zeiro.


Dewi mengambil piring kecil lalu mengambil beberapa potong kue kering dan basah.


Seorang wanita cantik mendekatinya dan berdiri di samping Dewi juga mengambil kue yang di pegang Dewi.


"Aku melihat kamu datang bersama Tuan Zeiro ya?" wanita itu terlihat tersenyum melihat kue yang ada di garpunya.


Dewi terdiam lalu melihat ke arah wanita itu. "Apa urusan mu?" tanya Dewi datar.


"Kamu sendiri tahu jika Tuan Zeiro adalah orang terkenal, kalau kau tidak punya titel lebih baik menjauh saja," ucap wanita itu tersenyum melihat Dewi.

__ADS_1


"Ck! Kenapa memangnya? Aku mau dekat dengan siapa pun apa peduli mu? Kita sama tidak punya urusan lebih kau urus saja dirimu," ucap Dewi menatapnya tajam.


"Aku berbaik hati mengatakan ini pada mu, karena wanita seperti mu hanya akan menjadi mainannya saja," ucap wanita itu.


"Hm … kalau aku bilang dia yang aku permainkan apa kau percaya?" ucap Dewi menyengir.


"Mana ada seperti itu, aku tidak percaya, kau jangan mengada-ada," ucap wanita itu menaikkan sudut bibirnya.


"Tidak percaya ya sudah, aku juga nggak menyuruh mu untuk percaya," ucap Dewi pergi meninggalkan wanita itu.


Dewi duduk di sebuah sofa yang tempatnya tersembunyi, ia pun duduk di sofa itu sambil menyantap kue tersebut.


"Hai cantik," sapa pria itu menyisir rambutnya ke belakang. Dewi melihatnya sekilas ke arah pria di sampingnya itu yang mengernyitkan matanya sebelah ke arah Dewi menggodanya.


Dewi tidak mempedulikannya dan terus makan.


"Cantik siapa nama mu?" tanya pria itu memajukan wajahnya dan mendekatinya.


"Kau lebih baik jangan menganggu ku makan, aku kalau marah seperti harimau," ingat Dewi.

__ADS_1


"Ah mana mungkin begitu, wanita secantik kamu bagaikan bidadari turun ke langit," puji pria itu sambil ingin mencolek pipi Dewi.


Secepatnya Dewi menangkap tangan pria itu dan membalikan tangan pria itu dengan cepat kebelakang.


"Aduh, aduh, aduh, sakit! Tolong lepaskan!" teriak pria itu kesakitan.


"Beraninya kau ingin menyentuhku, apa ku patahkan saja tangan mu saja," ucap Dewi menekannya dengan kuat.


"Ah, jangan! Jangan! Jangan! Lepaskan aku tidak berani lagi dengan mu," ucap pria itu merintih kesakitan.


"Jika begitu lebih baik kau pergi," ucap Dewi.


"Iya, iya, iya aku pergi." angguk pria itu.


Zeiro pun datang melihat Dewi memegang tangan pria.


"Ayo kita pergi, acaranya akan segera di mulai," ajak Zeiro memegang tangan Dewi. Dewi melepaskan tangan pria dan mendorongnya hingga ia terjungkang.


Dewi pun mengikuti Zeiro pergi dari sana dan bergabung dengan para tamu undangan yang sudah bersiap-siap untuk mengikuti acara tersebut.

__ADS_1


"Baiklah, para tamu undangan, acara resmi di mulai!" teriak pembawa acara.


__ADS_2