Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 127


__ADS_3

Dewi pun masuk ke dalam di rumah sakit jiwa itu, ia berjalan dan melihat para orang gila di teras rumah sakit.


Ada yang sedang bernyanyi balon ku ada lima, ada yang menangis sambil memeluk boneka. Ada yang tertawa ngerasa nggak punya beban hidup, jangan-jangan dia pura-pura gila biar nggak punya beban hidup.


Berbagai macam di lorong yang Dewi temukan, jika masuk ke rumah sakit jiwa bukannya tambah sembuh, melainkan tambah gila karena temanan sama yang gila.


Sampailah Dewi di kamar nomor yang di berikan oleh pegawai rumah sakit tadi dan Dewi membukanya.


Terlihat wanita dengan rambut semberaut kusut masai yang tak terurus sedang memeluk boneka kecil. Ia menatapnya penuh cinta ke arah boneka itu, sungguh ia menyayangi boneka itu layaknya anak sendiri.


Dewi berjalan pelan dan mendekati Mei yang tidak seperti ia kenal dulu lagi. Dahulu ia sangat modis dan cantik, semua itu hanya tinggal kenangan bagaikan air di hisab ke bumi.


Dewi menarik nafasnya dan ia mendekati Mei.

__ADS_1


"Mei," ucap Dewi melihat Mei. Ada rasa ibanya juga tapi … balik lagi, sakit itu juga ia rasakan bagaikan menggoresnya lagi.


Mei tidak menyahut dan ia terus bermain dengan boneka tersebut. Ia mengendongnya lalu menimang Boneka itu sambil bernyanyi.


"Mei, jika kau tidak bersekongkol dengan mereka, aku sudah pasti menyelamatkan mu dalam keadaan apa pun dan bagaimana pun karena kau adalah satu-satunya keluarga yang aku punya. Tapi … bahkan kau sedikit pun tidak menghalangi rencana mereka dan malah mengkhianati ku dari masa aku hidup. Mei katakan pada ku bagaimana agar aku bisa memaafkan mu," ucap Dewi sedikit sedih.


Mei sama sekali tidak peduli dengan orang di sekitarnya dan ucapan Dewi, ia terus bermain dan tersenyum melihat boneka tersebut.


Triring! Triring!


Triring! Triring!


Dewi diam melihat wajah Zeiro yang sedikit kelelahan.

__ADS_1


"Hay sayang." seulas senyum dari terlihat dari bibir Zeiro. Jika di lihat dari senyum Zeiro bisa di katakan saat melihat Dewi lelahnya langsung hilang.


"Kamu kenapa?" tanya Dewi.


"Tadi aku habis main golf dengan rekan bisnis ku, sebenarnya aku tidak mau, tapi karena aku pikir kamu sibuk jadi aku ikut saja. Jadi bagaimana? Apa hukuman yang di dapatkan Andika?" tanya Zeiro menyeka keringat di keningnya dengan handuk kecil.


Terlihat dua orang wanita mendekati Zeiro dengan genitnya.


"Tuan, sini biar kami bantu mengelap keringat Tuan," ucap seorang wanita yang memakai rok pendek yang hampir saja terlihat anunya dan baju tali satu.


Dewi terlihat kesal dan ia langsung menutup ponselnya.


"Lihatlah! Aku di sini lelah mengurus masalah ku ternyata dia sedang bersenang-senang dengan wanita cantik nak s3xsi itu, pria menyebalkan! Semua pria sama saja brengseknya!" omel Dewi. Ia melihat ke arah Mei. Mei juga tidak bisa di ajak berbicara, Dewi pun memilih untuk pergi saja, tak ada hubungannya lagi dengan dirinya, saat ini moodnya sedang buruk.

__ADS_1


Zeiro terus menghubungi Dewi tapi Dewi tidak mempedulikannya.


"Sial! Ini gara-gara kalian yang membuat kekasih ku marah! Kalau begitu jangan datang ke sini lagi!" seru Zeiro mendengus kesal.


__ADS_2