Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BSB 103


__ADS_3

"Tidak mau, aku tidak mau melepaskannya," ucap Anita berlaku manja di hadapan Zeiro.


Zeiro membuka tangan Anita dan mendorongnya hingga Anita terjembab.


"Tuan, apakah Anak yang kau didik sungguh tidak sopan kepada para tamu Anda?" tanya Zeiro menatap tajam Surya.


"Aku benar-benar minta maaf atas perilaku dia, aku minta maaf," ucap Surya membungkukkan badannya beberapa kali.


"Kamu cepat minta maaf dengan Tuan Zeiro," ucap Surya membelalakkan matanya ke arah Anita.


Sedangkan Anita senyum-senyum melihat Zeiro.

__ADS_1


"Kau memanggilku ingin mengatakan apa?" tanya Dewi tanpa basa basi.


"Mari duduk dulu, tapi ini masalah keluarga," ucap Surya. Mereka pun duduk di sofa itu, Zeiro juga ikut duduk di sana.


"Ehem! Dewi, kamu kan sudah dapat hasil dari warisan Dewi pembunuh dari yang Ayah lihat di video mu, jadi Ayah harap warisan dari ibumu tolong lepaskan, Anita adalah adik mu meskipun dia adik tiri, Lena juga adalah ibumu juga meskipun Ibu sambung, jadi harta itu biarlah untuk mereka, mereka juga adalah keluargamu juga, lagian harta dari Dewi pembunuh sangat banyak dan itu tidak akan habis jika kamu menikmatinya sendiri," ucap Surya lembut. Lena tersenyum mengangguk-angguk.


Dewi melihat ke arah Lena tersenyum itu, ia sungguh merasa jijik.


"Hey! Kau jangan tak tahu diri! harta yang kau dapatkan sudah banyak, anggap saja warisan itu sebagai balas budi dari kami mengasuh mu!" bentak Surya.


"Heh! Kalian semua membuat mental ku di ambang batas apa itu kau sebut balas budi? itu adalah harta milik ibu ku, bukan milik mu, aku akan mengurus seluruh wasiat yang di berikan ibuku kepada ku, baik kau mau pun mereka berdua tidak ada yang menyentuh ya, jika kau berani mengambilnya aku akan menghabisi mu!" ancam Dewi dengan menunjuk mereka semua yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Kau! Kau benar-benar anak durhaka! Sia-sia selama ini aku membesarkan mu! Bahkan kau memberikan sedikit saja kau tak mau! Untuk apa aku selama ini membesarkan anak durhaka seperti mu!" teriak Surya dengan wajah merah padam.


"Cih! Aku bukan anakmu! Mereka juga bukan keluarga ku, aku hanya punya ibu yang sudah meninggal! Bahkan kau tak pantas di sebut Ayah! Jadi kau jangan coba-coba untuk berpikir untuk mengambilnya!" balas Dewi.


"Kau! Kau lebih baik pergi dari rumah ini! sepeserpun aku tidak akan memberikan harta itu kepada mu! Mulai sekarang kau bukan anakku!" teriak Surya dengan suara lantang dan ia sangat murka.


"Kau juga tidak mau tinggal di rumah yang penuh hantu ini, aku juga tidak butuh uang mu! Tapi aku akan memperjuangkan warisan dari ibuku! Kau tidak berhak mendapatkannya, aku peringatkan kau sekali lagi, jangan coba-coba berani menyentuh warisan ibu ku, atau kau berakhir menyedihkan!" ancam Dewi dengan membulatkan matanya.


Surya mengatupkan rahangnya, ia benar-benar gusar, tubuhnya bergetar hebat karena tak bisa menahan amarahnya yang membeludak itu.


"Kurang ajar! Mati saja kau sana!" teriak Surya mengangkat tangannya dan ingin memukul Dewi, tapi Zeiro secepatnya menangkap tangan Surya, Zeiro tahu jika Dewi yang melawannya bisa jadi Surya mati di buatnya, untuk menghindari itu, lebih baik dirinya turun tangan.

__ADS_1


__ADS_2