Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 84


__ADS_3

Mereka berdua duduk di kursi menunggu kedatangan Andika.


"Ayo, ada yang ingin bertemu dengan mu," ucap polisi itu, dengan malas Andika keluar dan melihat Dewi lagi, ia benar-benar memasang wajah tidak suka dan bengis.


"Kenapa kau sering datang melihat ku? Padahal tidak ada yang datang melihat ku," ucap Andika tersenyum sinis.


"Kau masih saja bisa tersenyum, aku hanya heran, kenapa wartawan belum tahu juga jika kau ada di sini? Oh ya, aku hanya ingin mengatakan jika seluruh aset Dewi pembunuh sudah terjual, jadi meskipun hanya seonggok sampah pun kau tidak akan dapat," ucap Dewi tersenyum sinis.


"Jika begitu kenapa kau masih menahan ku di sini jika semua sudah terjual?" tanya Andika mengerutkan dahinya.


"Heh! Pengkhianat seperti mu apa bisa di bebaskan begitu saja?" ucap Dewi. Ia mendekat ke arah Andika. "Jika bebas pun, aku tidak akan membuatkan hidup mu tenang," bisik Dewi.


"Heh! Memangnya aku takut dengan mu? Aku punya cara juga untuk membalas mu," jawab Andika tersenyum sinis.

__ADS_1


"Benarkah? Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan ini pada mu, karena aku orangnya baik hati, maka aku harus mengatakan ini padamu. Bahwa anak mu sudah meninggal dan Mei di bawa ke rumah sakit jiwa karena depresi," ucap Dewi tersenyum.


"Apa! Kamu … kamu pasti bohong!" teriak Andika langsung berdiri dengan mata terbelalak.


"Di lihat dari ekspresi mu kau benar-benar mencintai Mei dari Dewi pembunuh, berarti beneran jika kau berkhianat," ucap Dewi tersenyum getir.


"Tentu saja aku mencintai Mei, dasar aja Dewi pembunuh itu sok suci nggak mau di sentuh, benar-benar menjijikan!" seru Andika.


"Hey! Siapa yang menyangka kan, jika Dewi pembunuh di bunuh oleh orang kepercayaannya sendiri, Ha-ha-ha, setidaknya aku senang jika dia mati!" teriak Andika tertawa lepas.


Dewi mengengam erat tangannya dan melihat Andika.


"Tertawa lah kau di penjara, kau yang dari awal hanya seonggok sampah dan kembali menjadi seonggok kotoran, kau sungguh tak berarti apa-apa. Seharusnya kau tahu jika setelah kau melakukan hal buruk dan kau akan mendapat hukuman setimpal, dan sekarang aku kehilangan semua yang berharga itu, termasuk orang yang kau cintai," ucap Dewi berpaling dan meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"Lihat saja kau! Aku tidak akan tinggal diam!" teriak Andika sambil menghentakkan meja dengan tangannya.


Dewi menghampiri salah satu polisi. "Pak, bolehkah aku bertemu dengan Joshi? Hanya sebentar saja," pinta Dewi.


"Ada hubungan apa kau dengan brandal itu?" tanya polisi itu.


"Notaris yang di bunuh olehnya adalah orang kepercayaan Dewi pembunuh dan Dewi pembunuh adalah kakak angkat ku," jawab Dewi menyakinkan.


"Apa benar seperti itu?" tanya polisi itu mengerutkan dahinya.


"Ya, aku menjadi saksinya, dia bahkan sudah ada siaran langsung dan dunia sudah tahu jika dia adalah adik angkatnya," jawab Zeiro memperlihatkan rekaman video di ponselnya. Polisi itu melihatnya dan mengangguk-angguk.


"Baiklah, ikut aku," ucap polisi itu berjalan terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2