
"Tidak usah, aku malam ini mau berantai di hotel saja, lagian siapa juga yang berani dengan ku," jawab Dewi.
"Tapi kan di hotel banyak para pria-pria mata keranjang, aku tidak ingin kamu terlihat oleh mereka," ucap Zeiro manja.
"Di rumah kamu juga banyak pria, kamu pikir para pengawal kamu itu buta nggak bisa lihat aku," ucap Dewi manyun.
"Bukan begitu setidaknya kalo di rumah aku kamu lebih bisa bebas, kalau kamu tidak mau mereka ada di rumah, aku akan mengusir mereka dari rumah dan membiarkan kamu sendiri saja di rumah," saran Zeiro.
"Tidak perlu merepotkan mu, aku juga sudah sampai di hotel dan cek-in, ayolah, aku bisa menjaga diri ku sendiri, mereka juga tidak akan berani dengan ku, aku juga sudah mengantuk, ya udah aku tidur dulu," ucap Dewi memutuskan panggilannya.
Dewi tidak ingin merusak hubungan Zeiro dan asistennya itu, ia juga seorang pendendam, jika nanti ia melihat wajah asisten itu ia pasti akan kesal.
Dewi pun masuk ke dalam hot tersebut.
"Selamat sore Nona, ingin pesan kamar?" tanya pegawai hotel itu.
__ADS_1
"Iya." angguk Dewi.
"Silakan Nona," ucap pegawai itu mengantarkan ke meja resepsionis.
Dewi pun mendaftar lalu membayarnya dan ia pun di beri kartu.
"Mari Nona, saya antar kan," ucap pegawai itu tersenyum ramah. Dewi mengikuti pegawai itu dari belakang menuju kamarnya.
Pegawai itu naik ke lantai 2 dan berhenti di sebuah kamar. "Silakan Nona, ini kamar Anda," ucap pegawai itu mempersilakan.
"Baiklah, terima kasih," jawab Dewi. Pegawai itu menundukkan kepala dan ia pun pamit undur diri.
"Oh, iya, aku harus menghubungi polisi di negara ini dulu," ucap Dewi mengambil ponselnya dan menghubungi polisi yang menghubunginya waktu itu.
Tuuut! Tuuut! Tuuut!
__ADS_1
"Halo selamat sore," jawab polwan itu.
"Apakah kemaren malam itu Buk polisi yang menghubungi ku?" tanya Dewi.
"Oh benar sekali, jadi bagaimana? Apa Anda sudah ada di negara Q?" tanya polwan itu.
"Iya, saya sudah ada di negara Q, besok saya akan datang ke sana," ucap Dewi.
"Baiklah, kami sangat menunggu kedatangan Anda," ucap polwan itu.
"Baik." panggilan pun di putuskan. Dewi menarik nafas dan menghembusnya dengan pelan. Dewi pun keluar dari kamarnya dan berjalan menuju balkon hotel, di sana ada beberapa orang yang sedang bersantai dengan pakaian renang yang terbuka, padahal mereka sedang tidak berenang.
"Lagi-lagi aku ke sini, negara ini banyak kenangan bagi ku, tapi tetap saja harus ku tinggalkan, jika tidak kenangan pahit ini akan terus melekat di hati ku. Tempat di mana namaku di besarkan, bersama pengikut ku yang pengkhianat, mengingatnya sungguh membuat aku kesal," omel Dewi mendengus kesal.
Mereka yang ada di sana melihat ke arah Dewi yang sedang kesal.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Dewi melihat orang-orang itu. Mereka diam dan kembali melanjutkan obrolan mereka yang sempat terhenti.
Dewi menatap jauh, dari atas balkon terlihat kota-kota di bawah, dan juga matahari sebentar lagi akan terbenam dan para orang-orang berdatangan ke balkon untuk melihat sunset.