Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 117


__ADS_3

Saldo sejumlah 2 Milyar masuk ke rekeningnya, dan menandakan jika pemutusan kontrak tidak bisa di hindarkan.


Tak lama kemudian Jef pun datang dengan membawa berkas-berkas kontrak.


"Tuan Toha, ini adalah kontraknya, Tuan ku menyuruhku untuk mengembalikan," ucap Jef meletakkan surat kontrak itu di atas meja.


Toha terlihat matanya memerah, Jef menundukkan kepala lalu pergi meninggalkan rumah Toha.


Toha mengambil kertas kontak itu lalu merobeknya dan menginjak-injak dengan emosi.


Sedangkan Rossa dan istrinya masih di hotel untuk melangsungkan acara ulang tahunnya.


Dewi menyantap makanan dengan pelan, sesekali ia melihat Zeiro.


"Oh ya, aku ada hadiah untuk mu," ucap Zeiro.


"Apa lagi? Hadiah di rumah itu saja sudah cukup banyak, apa kau tidak merasa rugi uang mu habis gara-gara untuk membeli hadiah untuk ku saja," ucap Dewi.


"Ini hadiahnya tentu saja beda," ucap Zeiro tersenyum penuh misteri.


Ia bertepuk tangan dan seorang pegawai restoran mengantarkan sebuah kotak warna merah dan buket bunga mawar merah 99 tangkai.


Serta datang pembawa musik biola dan memainkannya. Suana menjadi syahdu.

__ADS_1


Zeiro mengambil kotak itu lalu membukanya. Ia berdiri dan berjalan mendekati Dewi dan berlutut.


"Dewi, maafkan aku tidak menyiapkan tempat dan suasana yang lebih baik dan mendadak. Tapi hati ku tidak tenang bila tidak mengatakannya dengan cepat, aku takut jika kau di ambil orang. Aku mempercepat waktu untuk menyatakan perasaan ku pada mu, ku harap kau menerimanya. Dewi, mau kah menjadi kekasih ku?" Zeiro menatap Dewi penuh harap.


Dewi terdiam menatap Zeiro, saat ini ia tidak menerimanya juga tidak menolaknya, perasaanya masih campur aduk.


"Ah kelamaan menjawabnya," ucap Zeiro mengambil tangan Dewi dan ia memasang cincin di jari manis Dewi. Cincin berlian yang mungil dan itu pas di jari Dewi.


"Kau menerimanya kan?" tanya Zeiro tersenyum.


Dewi masih diam.


"Terima kasih Sayang," ucap Zeiro memeluk Dewi. Dewi juga tidak menolak Zeiro memeluknya.


Pegawainya itu memberikan kepada Zeiro dan Zeiro pun memberikan kepada Dewi.


"Buket bunga ini penuh arti, 99 tangkai mawar merah, dan satunya lagi adalah dirimu." Zeiro memberikan kepada Dewi dan Dewi menerimanya.


"Terserah mu saja lah," jawab Dewi datar.


'He-he-he, meskipun dia tidak menjawab apa pun tapi dia tetap menerimanya, mungkinkah dia malu untuk mengatakan perasaanya juga?' batin Zeiro.


"Kamu ayo cepat foto kami," ucap Zeiro.

__ADS_1


Ckrek!


Ckrek!


Ckrek!


"Selamat Tuan," ucap pegawai itu menyalami Zeiro dan Dewi.


"Malam ini aku tidur di rumah mu ya," ucap Zeiro.


"Tidak! Kamu kan punya rumah sendiri, tidurlah di rumah mu sendiri," jawab Dewi.


"Baiklah, karena malam ini adalah malam jadian kita, jadi kita tidak usah tidur, aku akan membawa mu ke puncak gunung malam ini untuk melihat bulan," ucap Zeiro.


Zeiro mengambil buket bunga itu dari Dewi dan memberikan kepada pegawainya.


"Jaga bunga ini dengan baik jangan sampai layu," ucap Zeiro.


"Baik Tuan." angguk pegawai itu. Zeiro mengendong Dewi dan membawanya ke mobilnya.


"Hey! Lepaskan! Aku punya kaki untuk berjalan sendiri!" teriak Dewi.


"Malam spesial ini kau akan ku spesialkan," ujar Zeiro membawanya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2