Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 88


__ADS_3

"Aku tidak masalah, asalkan dia suka," jawab Zeiro tersenyum.


"Hm … orang jatuh cinta emang beda ya, mati pun ia mau," celetuk asistennya dengan suara pelan.


"Apa seperti ini rasanya jatuh cinta?" tanya Zeiro memegang dadanya.


"Itu Tuan ... Anda lebih baik ganti baju dulu dari pada masuk angin," saran asistenya khawatir.


"Karena cinta aku melupakan sesuatu," ucap Zeiro berjalan menuju kamarnya yang kemaren sempat di masuki oleh Dewi, kamar itu sudah tersedia baju miliknya.


Dewi berganti pakaian, entah mengapa pakaian yang di belikan oleh asistenya selau cocok dengannya dan pas. Apa perlu ia minta membelikan pakaian kepada asisten Zeiro?.


Dewi pun keluar setelah mengganti pakaian dan menuju ruang tamu.


"Nona, silakan makan," ucap asisten Zeiro mempersilakan.


"Terima kasih," ucap Dewi mengambil box makanan itu.


"Nona, sebelumnya jika ucapan ku ini sangat lancang untuk di dengar, tapi bisakah Anda jangan terlalu kasar kepada Tuan? Tuan sangat mencintai Anda, bisakah Anda sedikit lebih menyayanginya?" tanya asisten itu. Ia sungguh tak rela jika di perlakukan kasar oleh orang lain.


Dewi terdiam lalu menatap asisten Zeiro. Ia benar-benar terganggu dengan ucapan asistennya, di sini dirinya adalah korbannya, jika ia mau, ia sudah lama mematahkan leher Zeiro saat di tempat tidur tadi pagi. Lalu kenapa ia di salahkan?.

__ADS_1


"Kau membelanya? Tentu saja karena dia Tuan mu, jika begitu bilang pada Tuan mu agar tidak terus mengikuti ku jika kau sangat sayang pada Tuan mu," ucap Dewi mendengus kesal, ia pun pergi meninggalkan rumah Zeiro dengan sangat marah.


"Nona tunggu!" panggil asistennya. Tapi Dewi terus berlari menjauh dari rumah itu dan pergi entah kemana.


Zeiro pun menuju ruang tamu dan melihat ada sebuah box makanan yang sudah terbuka.


"Hm … di mana Dewi?" tanya Zeiro menggapai box makanan yang di buka Dewi tadi.


"Dia … dia sudah pergi Tuan. Maafkan saya Tuan karena ucapan saya dia meninggalkan tempat ini," ucap asistennya berlutut sambil menundukkan kepala merasa bersalah.


"Apa! Pergi kemana dia!" tanya Zeiro panik.


"Tidak tahu Tuan," jawab asistennya menggeleng.


Dewi saat ini sedang di dalam taksi untuk segera mengambil barang-barangnya.


"Pak tolong di percepat, atau aku saja yang bawa," ucap Dewi.


"Ini sudah laju Neng dan kelihatan di depan juga macet karena terlalu banyak kendaraan," ucap supir taksi itu.


"Berhenti," pinta Dewi. Dengan terpaksa supir taksi itu menepi dan berhenti. Dewi keluar dari taksi tersebut.

__ADS_1


"Eh Nona, bayar dulu baru pergi!" panggil supir taksi itu. Dewi berjalan mendekati pintu super taksi itu.


"Pindah kebelakang," ucap Dewi menatap supir taksi itu. Mau tak mau supir itu pindah, karena wajah Dewi sangat menyeramkan. Dewi masuk ke dalam mobil duduk di kursi pengemudi.


"Pakai sabuk pengaman dengan benar, jika takut pejamkan matanya," ucap Dewi mengingatkan.


Dewi pun langsung melajukan mobilnya di tengah-tengah keramaian yang sedang berlalu lalang. taksi yang dikendarai itu menyelip di antara mobil-mobil yang lain, saat di depan sangat padat, Dewi memiringkan mobilnya dan melintasi di dinding perbatasan jalan membuat mobil itu bisa melintas meski hanya dengan dua roda.


Mereka yang melihatnya sangat terkejut sekaligus terkagum.


"Wah, lihatlah sulit taksi itu, dia benar-benar keren, jika seperti itu tidak akan ada kemacetan lagi, aku harus catat nomor platnya agar bisa merasakan sensasi naik taksi itu," ucap mereka.


Beberapa menit kemudian akhirnya taksi yang di kendarai oleh Dewi lepas dari kemacetan. Supir taksi memegang dadanya, jika tidak ia bisa jantungan.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di penginapan kompetisi itu.


"Tunggu di sini sebentar, aku minta Anda untuk mengantar ku ke bandara," ucap Dewi masuk ke dalam penginapan itu dan mengambil barangnya yang menurutnya itu penting. Sedangkan baju dan koper pemberian dari Zeiro ia tinggalkan, toh ia juga bisa beli ya g baru.


Setelah mengambilnya, Dewi pun kembali masuk ke dalam taksi. Dewi kembali mengendarai taksi itu menuju bandara.


"Semoga saja tepat waktu, jika tidak aku harus menginap dulu di hotel," ucap Dewi melajukan taksinya, menuju bandara. Taksi pun melaju cepat.

__ADS_1


Sesampainya di sana, untunglah masih sempat, keberangkatan pesawat masih 2 jam lagi 1 jam lagi. Dewi membayar supir taksi itu dengan rekening karena ia tak punya uang kes. Dewi berlari ke arah penjual tiket dan barulah ia menyadari sesuatu.


"Sial! Aku tak punya pasport!" teriak Dewi membuat orang-orang di sana melihat ke arahnya yang berjongkok memegang kepalanya.


__ADS_2