
"Ayolah, ini di tempat keramaian, tolong bersahabat sedikit, sebentar lagi penyerahan penghargaan untuk mu, ayo duduk di saja," ajak Zeiro yang terus merangkul pundak Dewi tanpa mempedulikan ancaman Dewi.
Mereka duduk, di kursi nomor dua dan acara pun segera di mulai.
"Baiklah, karena pemeran utama hari ini datang maka acaranya akan segera di mulai," ucap pembawa acara.
Sebuah penghargaan piala yang di baluti butiran mutiara dan berlian 1500 carat di bawakan hati-hati oleh pengantar penghargaan.
"Ini adalah penghargaan yang hanya di kompetisi internasional saja, jika menemukan piala seperti ini, maka itu barang curian atau palsu ya. Rasanya tidak menyangka ya, setelah Dewi pembunuh meninggal beberapa Minggu yang lalu, dan akhirnya ada penerusnya lagi, dan saya harap dan semua berharap jika nanti akan ada penerus terus menerus seperti ini. Baiklah tidak perlu berlama-lama lagi, marilah kita sambut bintang internasional kita, yaitu DEWI LARASATI DARI NEGARA A." tepuk tangan bergemuruh dengan meriah.
Dewi pun berdiri dan menundukkan kepala memberi hormat kepada para penonton lalu ia pun berjalan menuju podium.
"Baiklah, untuk penyerahan penghargaannya langsung di berikan oleh Tuan Zeiro Ananda Wahyudi," ucap pembawa acara tersenyum melihat Zeiro.
Zeiro bangun dari tempat duduknya dan menuju podium dengan bangganya. Seluruh penonton memberi tepukan tangan dengan meriah. Seketika wajah Dewi cemberut.
"Kenapa harus dia sih," ujar Dewi manyun. Zeiro berdiri di samping Dewi dengan senyum lebar.
"Silakan Tuan Zeiro," ucap pembawa acara.
Zeiro pun mengambil penghargaan itu dari atas Napan lalu menyerahkan kepada Dewi. Dewi pun menerimanya.
"Beri tepuk tangan yang meriah, untuk Tuan Zeiro Ananda Wahyudi dan Nona Dewi Larasati," ucap pembawa acara dengan suara lantang, sekali lagi para penonton memberi tepuk tangan meriah.
__ADS_1
Dewi di beri mikrofon untuk menyampaikan sepatah kata dan terima kasih.
"Untuk semua, terima kasih banyak sudah menerima tantangan saya, jika kalian tidak menerimanya mungkin saya tidak akan ada di sini, dan untuk kalian semua berjuanglah," ucap Dewi tersenyum. Para peserta bertepuk tangan dengan semangat. Dewi mengembalikan mikrofonnya.
"Hanya itu saja? Tidak ada yang lain?" tanya pembawa acara itu. Dewi menggeleng.
"Jika di lihat-lihat, Tuan Zeiro dan Nona Dewi sangat serasi ya, Dulunya semua orang ingin menjodohkan Tuan Zeiro dan Dewi pembunuh, sayangnya sang Dewi sudah punya kekasih duluan dan sekarang ia sudah pergi untuk selama-lamanya, jadi para penonton berharap kali ini agar Tuan Zeiro dan Nona Dewi berjodoh," ucap pembawa acara.
"Nggak mauuu, kalau Tuan Zeiro sudah ada yang punya, hatiku bakal hancur!" teriak penonton wanita.
"Aku juga, aku nggak rela jika Tuan Zeiro sudah ada yang punya, biarkan aja Tuan Zeiro jomblo aja," sahut yang lain.
"Ha-ha-ha, jangan begitu donk, masa kalian tega membiarkan orang tertampan begini jomblo seumur hidup? Siapa pun pilihan Tuan Zeiro kita doakan semoga langgeng, adem, ayem hingga ajal menjemput. Silakan Tuan dan Nona," ucap Pembawa acara.
Di kursi penonton, orang-orang berbisik-bisik menanyakan keberadaan Andika dan Mei.
"Mungkin saja dia sedang mengurus istrinya yang hamil itu kali. Sangat lucu, Dewi pembunuh baru meninggal beberapa Minggu yang lalu dan Mei itu sudah hamil, sudah kelihatan jika Andika dan Mei ini berkhianat di belang Dewi, saat ini kepala penyelengara sedang memikirkan cara untuk menyingkirkan mereka berdua dan mencari kesalahan mereka, rasanya mereka itu mencemari nama baik Dewi pembunuh, lagian Andika juga tidak berguna," ujar temannya.
Dewi mendengar percakapan mereka karena mereka duduk tidak berjauhan.
"Tapi dia punya kelebihan, kelebihannya mengambil hati Dewi pembunuh, sisanya nggak ada," sahut pria itu dengan gelak tawa.
Seulas senyum menghiasi bibir Dewi, tidak menyangka masih ada orang yang mau melihat kebenarannya dan saat ini masih ada yang memihaknya.
__ADS_1
Acara pun di mulai, pertandingan antar peserta dari negara lain.
"Karena kamu memenangkan juara kompetisi ini, jadi tadi aku janji akan mengajak mu pergi, ayo kita pergi," ajak Zeiro. Ia mengambil penghargaan yang Dewi pegang lalu meraih tangan Dewi.
Mau tak mau Dewi pun ikut keluar dari tempat tersebut dan menuju mobilnya.
"Oh ya, sebelum itu, ayo kekantor polisi," ajak Dewi.
"Hm … untuk apa?" tanya Zeiro menekuk alisnya.
"Ayo saja, anggap saja sebagai kejutan," jawab Dewi.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil, penghargaan itu Zeiro letakan di depan, meskipun bingung dengan permintaan Dewi, tapi Zeiro tetap mengikutinya.
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Zeiro.
"Apa?"
"Kenapa kau sangat membenci Andika dan Mei?" tanya Zeiro yang terus menyetir mobilnya.
"Siapa yang tidak membenci pengkhianat itu, sedangkan orang yang duduk tidak jauh dari kita saja membencinya, bahkan kepala penyelengara kompetisi itu akan menggulingkan Andika dari jabatannya," ucap Dewi.
"Dari yang kulihat, seperti seolah-olah kau yang di khianati, apa kau sedang mendalami peran mu?" tanya Zeiro.
__ADS_1
"Ah sudahlah, oh ya rekaman Cctv yang aku minta tadi malam tolong kirimkan kepada ku," ucap Dewi mengeluarkan ponselnya dan mengulurkan tangannya meminta ponsel Zeiro.
"Hm … ini tidak gratis lho, kamu harus menerima permintaan ku baru aku berikan," ucap Zeiro menyengir.