
Dengan sigap tangan pria itu ia tarik dan ia masuk ke pelukan pria itu lalu menyikut dada lalu menarik tangannya dan membantingnya ke aspal jalan.
Pria yang ada di mobil tadi menodongkan senjata apinya ke arah Dewi dan menembaknya.
Dor!
Dewi melompat menghindari sambil menendang pemilik senjata api itu membuat senjata apinya terlepas dari tangannya dan Dewi pun mendarat di tanah dan mengambil senjata api itu.
Dor!
Dewi menembak kaki pria itu hingga kakinya mengeluarkan darah. Dewi menembak kaki sebelahnya lagi dan membuat ia tak bisa berdiri lagi.
Dewi juga menembak perut ketiga pengendara motor itu hingga mereka terluka.
"Sayang sekali ini terjadi di jalan raya, jika tidak aku bisa membunuh kalian," ucap Dewi menginjak senjata api itu hingga rusak. Dewi pun masuk ke dalam mobil.
"Kamu sudah aman, bisakah kamu naik mobil yang itu saja, karena aku mau pulang," ucap Dewi.
Pria itu tertegun dan ia keluar dari mobil. Ia membungkukkan badannya di samping mobil Dewi.
__ADS_1
"Terima kasih sudah menolong ku, jika boleh tau siapakah nama Anda Nona?" tanya pria itu.
"Tidak perlu tau namaku, aku hanya orang numpang lewat saja," ucap Dewi sambil memutar stir lalu melajukan mobilnya meninggalkan pria itu.
Pria itu tersenyum. "Sungguh wanita luar biasa," pujinya terkagum-kagum. Ia melihat mobil yang depannya sudah hancur akibat menabrak pembatas jalan itu, tapi masih bisa di gunakan. Ia pun masuk ke dalam mobil dan menyetir mobilnya untuk pulang ke kediamannya.
Triring! Triring! Triring!
Dewi melihat ponsel yang berbunyi dan melihat nama di layar ponsel.
"Dia lagi dia lagi, benar-benar menyebalkan," denggus Dewi kesal.
Dewi membiarkan ponselnya terus berbunyi dan ia terus melajukan mobilnya.
"Dia ini benar-benar seperti penguntit," ucap Dewi.
"Nona," sapa bi Inah tersenyum senang.
"Bagaimana? Bini suka dengan motornya?" tanya Dewi tersenyum.
__ADS_1
"Suka banget Nona, keren abis," jawab bi Inah mengacungkan jempolnya.
"Syukurlah. Di mana dia?" tanya Dewi melihat ke dalam rumahnya.
"Tuan … ada di …." bi Inah tidak bisa melanjutkan pembicaraannya dan ia hanya melihat ke dalam rumah.
"Di mana dia?" ulang Dewi.
"Dia ada di kamar," jawab bi Inah yang terpaksa menjawabnya.
"Terserah dia sajalah, yang penting tidak di kamarku," ucap Dewi berjalan menuju kamarnya.
"Anu Nona, di sekarang ada di kamar …."
"Aaaaaaaa! Sialan! Ngapain kamu di kamarku!" teriak Dewi membulatkan matanya, tinju hampir mengenai kepala Zeiro, untung saja Zeiro menghindar secepatnya.
"Oke, aku bisa jelaskan kenapa aku ada di sini, kamu tolong tenang ya," ujar Zeiro berusaha menenangkan.
"Kau lebih baik beri alasan yang masuk akal atau aku akan memesan peti mati untuk mu sekarang," ucap Dewi menatap tajam Zeiro.
__ADS_1
"Baiklah, aku masuk ke dalam kamar mu ingin menambahkan beberapa pakaian, tas, sepatu dan beberapa perhiasan untuk mu, hanya itu saja," ucap Zeiro melihat ke arah lemari pakai baru yang besar.
Dewi melihat lemari yang tersusun rapi di kamarnya itu yang sebelumnya tidak ada, dan juga ada laci tempat perhiasan di sana.