Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 106


__ADS_3

"Pembicaraan macam apa itu?" ucap Dewi manyun.


"Sudahlah, aku pasti akan memberikan keuntungan untuk mu, tidak perlu khawatir, bahkan aku bisa memberikan salah satu perusahaan ku pada mu untuk kau pimpin sendiri," ucap Zeiro.


"Tidak! Aku akan membangun perusahaan ku sendiri," tolak Dewi.


Zeiro mengerutkan alisnya. "Bukannya kau tidak pernah terjun ke dunia bisnis? Lalu bagaimana kau mau membangun perusahaan tanpa pengalaman? Bisa bangkrut perusahaan mu," ejek Zeiro.


'Beh, aku kan memang punya perusahaan dari dulu, tentu saja aku tahu cara berbisnis,' batin Dewi menatap Zeiro sayup.


"Kau sungguh meragu kemampuanku, kita lihat saja nanti bagaimana aku akan berbisnis," tantang Dewi mengangkat dagunya.


"Terserah kau saja," ucap Zeiro mengalah.


Triring! Triring! Triring!


Ponsel Milik Zeiro tiba-tiba berdering, ia pun segera mengangkatnya.


"Halo," jawab Zeiro.


"Tuan, pembuatan paspor yang Anda pinta sudah selesai," ucap salah satu pegawai yang membuat paspor milik Dewi.


"Baiklah, antarkan alamat yang akan ku kirim nanti," ucap Zeiro.

__ADS_1


"Baik Tuan."


Zeiro pun mengirim alamat Dewi saat ini.


"Tamu mu tidak mau beri minum meski air putih," sindir Zeiro.


"Aku tidak menyuruhmu bertamu, kau sendiri yang datang. Lalu Tuan Zeiro yang terhormat, kapan Anda pulang?" tanya Dewi mengusirnya dengan halus.


"Sebentar lagi, aku ingin menunggu sesuatu yang datang," ucap Zeiro menaikkan kakinya sebelah.


Dewi berjalan ke dapur dan mengambil satu gelas dan mengambil sebuah teko dan mengisi air putih dari dispenser.


Ia pun berjalan dan meletakkan di atas meja, minuman lah sampai perut mu kembung," umpat Dewi.


'Tunggu waktunya saja Dewi, aku bisa menaklukkan dirimu,' batin Zeiro sambil menuangkan air ke dalam gelas lalu meneguknya sambil melihat Dewi.


"Ada apa dengan tatapan mata mu itu? Kau ingin mengatakan jika aku cantik ya," ucap Dewi membuat Zeiro menyemburkan air dari mulutnya dan ia batuk-batuk.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Zeiro memegang dadanya.


"Kenapa?" tanya Dewi menatap Zeiro.


"Kau dari dulu sampai sekarang tetap cantik kok, jika ada yang mengatakan kau jelek akan aku penjarakan mereka," ucap Zeiro.

__ADS_1


"Cih! banyak gaya! Jadi sampai kapan kau duduk di sini menunggu barang mu yang datang, aku mau pergi untuk mengurus sesuatu," ucap Dewi menatap Zeiro yang senyam-senyum.


"Sebentar lagi," ucap Zeiro melihat keluar jendela.


Tin! Tin! Tin!


Sebuah mobil berhenti di depan rumah Dewi. Dewi mengernyitkan dahinya. Mungkinkah itu yang di tunggu Zeiro? Tapi kenapa harus di depan rumahnya?


"Itu dia sudah datang," ucap Zeiro berdiri saat melihat seorang pria berjas mendekati rumah Dewi.


"Ini Tuan, barang Anda yang Anda pinta," ucap pria itu memberikan sebuah berkas coklat kepada Zeiro.


"Terima kasih," ucap Zeiro menerimanya.


"Sama-sama Tuan," ucap pria itu menundukkan kepala memberi hormat dan ia pun pergi kembali masuk ke dalam mobilnya.


Zeiro masuk ke dalam dan meletakkan map itu di atas meja di depan Dewi.


"Untuk mu," ucap Zeiro kembali duduk di sofa.


Dewi mengambil berkas itu dan melihat isi dalamnya dan mendapati sebuah paspor, ia pun mendapat sebuah paspor ada namanya.


Dewi menatap Zeiro sambil mengerutkan dahinya, Zeiro menaikkan dahinya sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2