Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 104


__ADS_3

"Tuan, tolong jangan bersikap kasar padanya," ucap Zeiro menatap tajam Surya.


"Maaf Tuan, maaf, Anda sudah menyaksikan pertengkaran antar keluarga kami, tapi saat ini saya tidak bisa mentoleransi pada anak durhaka ini," ucap Surya merendah.


Zeiro melepaskan tangan Surya ke bawah.


"Tapi apa yang dia katakan itu benar, warisan yang di tinggalkan oleh ibunya adalah miliknya, mana bisa di bagikan begitu saja tanpa persetujuannya, dia ingin melindungi warisan dari ibunya dari orang yang serakah," ucap Zeiro.


'Sial! Bahkan Zeiro pun membelanya, bagaimana aku bisa menang melawannya jika dia punya pendukung yang kuat,' batin Surya mengeluh.


"Ehem! Baiklah- baiklah, nanti lagi kita lanjutkan. Mari istirahat dulu," ucap Surya mengangguk-angguk kebingungan.


Saat ini ia tak bisa melawannya karena ada Zeiro, ia harus membuat rencana untuk bisa mengambil warisan dari Dewi.


"Jika tidak ada yang perlu di bicarakan maka aku pulang dulu, akan tetapi aku akan bawa Bi Inah ke rumah baru ku, karena selama ini dia yang mengasuh ku," ucap Dewi melihat Bi Inah yang sedang berdiri di pojokan.

__ADS_1


"Hey! Mana bisa begitu, dia sudah lama bekerja di sini, mana bisa seenaknya kau mau mengambilnya!" ucap Surya memanas.


"Maaf Tuan, tapi saya mau ikut Nona Dewi ke rumah barunya," ucap Bi Inah yang datang mendekat.


Surya tampak geram, ia mengengam erat tangannya, saat ini ia harus menahan emosi sampai nanti Dewi yang datang sendiri dan barulah ia bisa menggertak Dewi dan mengambil hak Dewi.


"Baiklah, bawalah," jawab Surya mencoba tersenyum ramah.


"Ayo Bi, bereskan barang-barang Bibi," ucap Dewi.


"Saya sudah siap Nona," ucap bi Inah.


"Ayo kita pergi," ucap Dewi.


Mereka pun meninggalkan rumah Surya dan pergi masuk ke dalam mobil Zeiro. Mobil itu pun melaju di jalanan.

__ADS_1


Trank!


"Sial! Benar-benar sial! Lihat saja kau Dewi! Anak sialan itu! Aku akan membuat kau menderita! Sekali pun kau anak kandungku, tapi seumur hidupku aku tidak akan mengakuinya! Aku sungguh menyesal menikahi wanita murahan itu!" teriak Surya dengan suara lantang membuat Lena dan Anita berpelukan dan menghindari dari amukan Surya yang kian menjadi.


Ia membanting semua barang-barang yang ada di ruang tamu itu.


"Ibu, bagaimana ini?" tanya Anita ketakutan.


"Ssstttttt! Ayo masuk dalam kamar saja, hari ini Ayah mu marah besar, ayo," ajak Lena memeluk bahu anaknya dan mereka masuk ke dalam kamar lalu menguncinya. Sedangkan di luar Surya terus marah-marah memaki Dewi dan membanting barang-barang sebelum hatinya puas.


"Oh iya, uang yang di berikan kemaren oleh Ayah mu ada berapa juta?" tanya Lena duduk di samping Anita di sisi ranjangnya.


"Tidak banyak, hanya 5 juta saja," jawab Anita manyun.


"Haishhh ... ya sudah, simpan saja uangnya jika hanya segitu, kita harus mengumpulkan uang yang cukup banyak agar bisa beli barang branded, Ibu sekarang sedang mengincar tas Rosela pengeluaran baru itu, jika kumpul bersama teman arisan Ibu, hm … mereka pasti iri," ucap Lena sambil berpikir dan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ibu apaan sih! Malah mikir beli tas branded, kita itu haru berpikir gimana bisa dapat harta warisan si Dewi itu," ucap Anita kesal.


__ADS_2