
"Sudah sayang, jangan biarkan seorang pecundang merusak suana hati mu, dia tidak penting bagi hidup kita yang penting kebahagian hidup kita," ucap Mei menenangkan Andika.
"CK ck ck, keluarga bahagia? Ha-ha-ha ketika dua pengkhianat bertemu dan sama-sama gatal, akhirnya menghasilkan benih, semoga saja benih mu itu tidak menurunkan sifat kalian berdua, jika tidak akan ada korban selanjutnya. Aku beri saran agar anak kalian di didik oleh pemulung saja, karena kalian tidak pantas di sebut manusia, melainkan hewan peliharaan," ucap Dewi terkekeh lalu meninggalkan mereka. Zeiro juga mengikuti Dewi pergi mengarah ke mobilnya.
Dum!
Andika memukul mobilnya dengan kuat. "Sial! Benar-benar sial! Beraninya dia memprovokasi ku! Lihat saja nanti, aku tidak akan tinggal diam dan membalas semua penghinaannya hari ini!" ucap Andika mendengus kesal.
Mobil Zeiro melaju di jalanan, mereka mencari restoran untuk mentraktir makan meskipun di kompetisi sudah di sediakan makanan.
"Aku tau banyak tentang Dewi pembunuh, apa jangan-jangan kau …." Zeiro menatap mata Dewi dengan saksama.
Dewi memutar bola matanya. 'Jangan-jangan Zeiro tahu jika aku adalah Dewi pembunuh?' batin Dewi dag-dig-dug.
__ADS_1
"Kau adalah penggemar berat Dewi pembunuh," ucap Zeiro membuat Dewi berasa di timpa wajan.
'Huh! Untung saja dia tidak curiga,' batin Dewi.
"Ya, ya, anggap saja begitu, aku hanya kasih saja pada Dewi, belum sebulan dia meninggal eh pacarnya sudah menjadi suami adik sepupunya dan ia menjadi iparnya, benar-benar miris hidupnya. Kenapa tidak dari dulu menyadari, malah setelah mati baru terbongkar semuanya, kalau begitu apa artinya kebaikan yang telah di curahkan selama ini? Sungguh waktu yang terbuang sia-sia karena menjalani hidup dengan para pengkhianat," ucap Dewi sedih, ia meletakkan sikunya menopang di pinggir jendela melihat kaca dan bercermin. Ia menatap wajahnya yang malang itu.
"Kau mengatakan itu seolah-olah yang mengalami itu adalah dirimu sendiri," ucap Zeiro menyengir melihat ke depan.
"Aku tuh sedang mendalami peran ku sebagai Dewi pembunuh, bagaimana jika ada di posisi dia, itu sangat menyakitkan."
Sesampainya di sebuah restoran besar, mobil Zeiro berhenti lalu masuk ke parkiran restoran.
"Kita makan di sini, ayo turun," ajak Zeiro membuka sabuk pengamannya lalu keluar dari mobil.
__ADS_1
"Dewi kenapa kamu nggak keluar dari mobil?" tanya Zeiro berdiri di jendela tempat duduk Dewi.
"Kau bilang makan di sini, ya sudah aku duduk di sini saja," jawab Dewi mengangkat alisnya.
Zeiro menyunggingkan senyumnya. "Sejak kapan kamu pandai melawak begini? Apa perlu aku gendong masuk ke dalam?" tanya Zeiro tersenyum.
Dewi pun membuka sabuk pengamannya lalu mengikuti Zeiro masuk ke dalam restoran.
'Benar juga, sejak kapan aku pandai bercanda? Setau ku, aku adalah orang yang kaku dan serius,' batin Dewi.
"Selamat datang Tuan, Nona, silakan duduk," ucap salah satu pegawai restoran mengatup kedua tangannya memberi hormat.
Zeiro mengangguk lalu memegang tangan Dewi membawanya duduk di kursi di meja nomor 10.
__ADS_1
"Silakan Tuan, Nona," ucap pegawai itu memberikan buku menu.
Para pegawai berdekatan dan mulai berbisik-bisik. "Itu bukannya Tuan Zeiro yang terkenal itu? Aku pengen minta tanda tangan dia, aku fans berat dia," ucap salah satu pegawai gelagapan.