
"Nggak nyangka banget jika dia mampir di restoran kita, aku juga mau minta tanda tangan dia," ucap yang lain, mereka berlari kebelakang mencari kertas dan pena.
Para pegawai berdatangan ke arah Zeiro dengan genit. "Tuan Zeiro, Tuan Zeiro minta tanda tangannya donk," pinta mereka meletakkan kertasnya di hadapan Zeiro tersenyum manis.
Dewi memajukan mulutnya hingga 1 cm melipat tangannya dan bersender di kursi, sungguh menganggu waktunya saja.
"Tuan, tanda tangan donk, kami semua penggemar berat Tuan, plisss," ucap mereka memohon dengan menkedip-kedipkan matanya.
"Eh itu …." Zeiro melihat ke arah Dewi yang sedang bersiul melihat seluruh restoran itu.
"Kami mohon Tuan, sangat sulit bertemu dengan Tuan, ini adalah hari keberuntungan kami bisa bertemu dengan Anda, sangat sulit bertemu dengan Anda lagi," ucap mereka menggosok-gosokkan tangannya.
"Boleh aku beri mereka tanda tangan ku?" tanya Zeiro.
"Terserah, kan kau yang punya tangan," jawab Dewi menarik sudut bibirnya ke atas.
"Baiklah, aku akan tanda tangan ini." Zeiro mengambil pena lalu menanda tangani kertas itu satu persatu.
"Wah, terima kasih Tuan Zeiro!" teriak mereka yang terlanjut senang.
Mereka berlari ke belakang di sana mereka tertawa, mencium kertas yang di tanda tangani oleh Zeiro dan melompat-lompat saking senangnya.
__ADS_1
"Kamu itu seharusnya duduk di rumah aja," ucap Dewi datar.
"Kenapa?"
"Kau itu selalu emas batangan, kemana-mana menjadi pusat perhatian."
"Begitu kah? Apa aku terlihat seperti itu?" tanya Zeiro meletakkan tangannya di dagu.
"Udahlah, jangan sok narsis."
Para pegawai restoran mengantarkan makanan lalu menyajikan di atas meja.
"Silakan Tuan, Nona," ucap pegawai itu ramah.
"Hm … maaf, ada perlu apa lagi Nona?" tanya Zeiro melihat pelayan itu sedang tersenyum mengembang.
"Sedang lihat Tuan makan. Eh … itu saya kembali ke dapur," ucap pelayan itu berlari ke dapur karena malu.
Dewi melahap makanannya tanpa mempedulikan sekitarnya.
"Kenapa kau makan seperti anak kecil, jika kau ingin lagi aku akan memesankan untukmu," ucap Zeiro menyeka mulut Dewi yang meninggalkan sisa makanan sambil tersenyum, orang yang melihatnya pasti akan sangat iri. Waw sungguh romantis.
__ADS_1
Di pandangan Dewi, Zeiro tersenyum bukan senyuman romantis, tapi senyuman yang mengerikan.
"Kau serius?" tanya Dewi membelalakkan matanya.
"Ya pesan saja sesuka mu," jawab Zeiro mengangguk.
'He-he-he, aku akan membuat mu bangkrut.' Dewi mengangkat tangannya. "Nona pelayan, aku mau 10 porsi lobster mozarelanya!" ucap Dewi.
"Baik Nona, tunggu sebentar," ucap pelayan itu.
"Ow … aku tidak tau kau bisa makan sekuat itu."
"Aku bahkan bisa makan lebih dari ini," jawab Dewi menghabiskan makanannya yang masih tersisa di piring.
"Apa aku sedang memberi makan babi," gumam Zeiro dengan suara pelan sambil melihat ke arah lain.
"Kau mengatakan aku babi tapi melihat ke lain, apa kau minta di pukul," ucap Dewi membelalakkan matanya.
"Hey! Kau kenapa suka sekali membelalakkan mata mu, aku tau mata mu indah, tapi bukan seperti itu cara memamer kepada orang," ucap Zeiro.
"Nona pelayan, tambah 10 porsi lagi!" panggil Dewi.
__ADS_1
"Baik Nona, harap menunggu," ucap Pelayan itu, sebenarnya sangat kaget, seorang wanita dengan makan yang sangat banyak, tapi merek tetap harus memenuhi keinginan pelanggannya.