
"Kenapa kau lakukan ini padahal aku bisa mengurusnya sendiri," ucap Dewi menutup kembali paspor itu.
"Aku tahu, aku hanya ingin meringankan beban mu saja. Ya sudah, aku pulang dulu," ucap Zeiro berdiri dan ia pun pergi meninggalkan rumah Dewi dan masuk ke dalam mobilnya.
Mobil Zeiro pun perlahan-lahan meninggalkan rumah Dewi dan melaju di jalanan.
Setelah suara mobil itu menjauh, ada rasa sedikit sepi, tidak ada lagi terdengar suara pria yang menurutnya itu menyebalkan. Entah mengapa begitu, tapi itu benar-benar nyata, ia merasa ada yang hilang dari dirinya. Wajah Dewi kembali berubah ke wajah datarnya dan menatap tempat duduk Zeiro tadi.
Ia sendiri binggung perasaan apa yang ia rasakan saat ini? Padahal ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk mengandalkan dirinya saja tanpa bantuan orang lain, akan tetapi entah mengapa Zeiro selalu saja datang membantunya, entah mengapa ia luluh saat melihat Zeiro, bahkan tanpa sadar ia melakukan apa yang di pinta Zeiro seperti mengambilkan minuman, ia bisa saja menyuruh bi Inah, akan tapi ia malah bergerak dengan sendirinya. Ada apa dengan dirinya yang sebenarnya? Apakah dirinya jantung cinta? Dewi memejamkan matanya dengan kuat dan melawan pikirannya itu agar ia tetap waras.
"Argghhh! Lupakan itu, aku harus pergi membeli mobil saja dulu," ucap Dewi menggelengkan kepalanya berusaha melupakan apa yang ia pikirkan.
Dewi berdiri sekilas melihat gelas bekas minuman Zeiro tadi lalu ia pun masuk ke dalam kamarnya, ia segera mandi dan berganti pakaian.
__ADS_1
Sat keluar dari kamar terlihat bi Inah keluar dari kamarnya sambil memegang sapu dan kain pel.
"Bi, aku pergi dulu ya, Bini bisa naik motor nggak? Biar sekalian aku belikan, jadi Bibi ke pasar pake motor sendiri saja," ucap Dewi.
"Bisa, bisa Nona," angguk bi Inah senang.
"Baiklah kalau begitu, lanjutlah bekerjanya, aku pergi dulu," ucap Dewi.
Dewi mengangguk. Ia berjalan meninggalkan bi Inah dan keluar dari rumahnya. Dewi berjalan kaki menyusuri jalan karena ia tahu rumah Zeiro jauh dari tempat jalan raya karena saking luasnya tanah yang ia miliki sehingga taksi tidak bisa masuk ke dalam.
Berjalan beberapa menit akhirnya Dewi pun sampai di jalan raya, Dewi menyetop sebuah taksi dan taksi itu pun bersendi di hadapan Dewi.
Ia segera masuk ke dalam mobil dan membetulkan posisi duduknya.
__ADS_1
"Mau ke mana Nona?" tanya sang supir.
"Ke showroom mobil," jawab Dewi singkat, ia mengambil ponsel dari tasnya dan mengecek isi ponselnya.
Yang ia lihat di ponselnya seperti bayangan Zeiro, Dewi memejamkan matanya mencoba menghilangkan bayangan wajah pria itu. Sebelumnya, ia tidak pernah merasakan ini saat bersama Andika, bahkan berpisah beberapa hari pun ia tak pernah sedikitpun merasa kehilangan, mungkinkah karena ia terlalu sibuk karena ia adalah orang yang penting dan banyak yang harus ia lakukan.
Triring! Triring! Triring!
"Astaga! Mengagetkan saja." Dewi membuka matanya dan melihat nama di ponselnya itu ia langsung tersenyum sinis.
"Halo, ada apa lagi?" tanya Dewi tanpa basa basi.
"Kau harus datang sendiri ke rumah dan jangan membawa Tuan Zeiro, jika tidak aku akan membuat hidup mu hancur!" ancam Surya dengan membelalakkan matanya.
__ADS_1