Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 99


__ADS_3

"Lebih baik tidak menjadi pengikut ku, kalian yang terluka nanti atau aku yang terluka, lebih baik kalian cari saja guru yang mengajari kalian, jika kalian bilang hanya untuk membela diri sama siapa saja kalian bisa belajar," ucap Dewi. Dosen pun masuk ruangan dan para mahasiswa duduk di kursinya masing-masing.


"Kita ucapkan selamat untuk Dewi ya, Rektor katanya akan menyiapkan hadiah buat Dewi, kita sangat bangga punya mahasiswi seperti Dewi," ucap buk Meli.


Semua orang bertepuk tangan. Tapi bagi Dewi itu hanyalah kesunyian, setelah pengkhianat itu rasanya dunia ini sepi sekali pun ia berada dia antara keramaian, belum ada baginya tempat yang bisa ia bersandar lagi, hatinya benar-benar sudah tertutup rapat, entah kapan dan siapa yang akan membukanya lagi.


"Terima kasih," ucap Dewi mengangguk.


"Baiklah, kita akan lanjut pembagian materinya ya," ucap buk Meli membuka layar proyektornya di depan ruangannya.


Ini untuk kesekian kalinya, Dewi tidur di ruangan, saat ini pelajaran baginya sangat membosankan, di tambah pelajaran yang sudah ia pelajari, sungguh membuat otaknya tidak bisa bekerja dan mengantuk. Di tambah dosen yang menjelaskannya terlalu lembek, Dewi paling tidak suka hal-hal yang berbau lembek dan lambat, karena sifatnya yang keras dan tangkas itu sangat bertolak belakang.


"Baiklah, semuanya, pembagian materinya sampai di sini, jadi untuk tugas kalian kedepannya kalian harus langsung terjun kelapangan untuk meneliti sebuah tentang kehidupan sosial masyarakat, di tunggu tugasnya minggu depan ya, untuk mempermudah, jadi kalian harus berkelompok, satu kelompok terdiri dari 4 orang, kalian bisa memilih siapa yang akan menjadi kelompok kalian, bebas ya mau pilih siapa, kalau begitu saya permisi dulu," ucap buk Meli tersenyum sambil membawa buku dan proyektornya.

__ADS_1


Dewi mengangkat kepalanya dan para mahasiswa menyerbunya.


"Dewi satu kelompok dengan ku ya."


"Dewi dengan ku saja."


"Dewi, aku akan menjadi kelompok mu."


"Aku tidak memilih siapa pun dari kalian, aku akan mengerjakan tugas sendiri," jawab Dewi berdiri.


"Yah, jangan begitu donk Dewi, aku berjanji jika kau memilihku berkelompok dengan ku maka aku yang akan mengerjakan tugasnya, kamu hanya perlu menemani saja dan tidak melakukan apa pun," ucap mahasiswa itu.


Dewi meletakan tangannya di dagu dan berpikir. "Hm ... boleh juga tuh, jadi aku akan memilih sendiri siapa orangnya, jadi kalian yang harus mengerjakannya ya," ucap Dewi.

__ADS_1


Mereka mengangguk senang.


"Aku pilih kamu, kamu, dan kamu." Dewi menunjuk ke arah pria yang memakai kaca mata, rambut yang di potong seperti batok kelapa itu.


"Kenapa dia?" tanya mahasiswa itu menekuk alisnya, karena yang di tunjuk Dewi itu adalah pria dengan penampilan culun, dia juga sering menjadi pembullyan dari mahasiswa, terkadang yang sakunya di ambil oleh mereka membuat ia tidak jajan.


"Kenapa? Kalian tidak suka? Kalau begitu aku satu kelompok dengannya saja," ucap Dewi.


"Eh tidak! Tidak! Tidak, kami mau, asalkan ada kamu siapapun yang kamu pilih kami terima," jawab mereka cengengesan.


"Oke, begitu saja, aku hari ini ada urusan, jadi kita kerjakan tugas di hari ketiga saja," ucap Dewi mengambil tasnya dan pergi meninggalkan ruangan.


"Ha-ha-ha aku di pilih Dewi!" teriak mereka yang di pilih Dewi itu.

__ADS_1


__ADS_2