Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 72


__ADS_3

Dewi melihat Mona dari kejauhan, rasanya juga iba, tapi apa yang dia lakukan padanya rasa sayang di hatinya seperti sudah sirna, orang lain saja ia tolong, apa lagi adik sepupu, tapi lihatlah apa yang di lakukan adik sepupu, setidaknya orang lain masih punya hati mau membantu, ya seperti membantunya menjulid sang adik sepupu dan mantan pacarnya🤣🤣🤣.


Dewi berjalan mengikuti Mei dari belakang, ia terus meronta-ronta menangis dan kadang-kadang tertawa, menandakan jika memang dia sedikit sudah tidak waras lagi.


Meskipun kasihan tapi itu adalah karma yang harus di bayar oleh mereka, sepertinya Andika juga tidak tahu jika Mei di rumah sakit dan anaknya meninggal dunia, dan ia juga tidak tahu jika Mei sudah tidak waras lagi dan segera di larikan ke rumah sakit jiwa.


"Baiklah, untuk Mei saat ini dia tidak mengancam, tapi aku harus pergi ke rumah orang-orang yang dulu paling aku percayai, aku harap mereka tidak melakukan sesuatu hal buruk di belakang ku," ucap Dewi berbalik badan dan menuju mobilnya.


Dewi masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya di jalanan ia menuju ke sebuah rumah yang familiar baginya. Sungguh banyak orang yang ia percayai dan berharap jika mereka tetap menjaga kepercayaannya meskipun ia sudah meninggal.


Sesampainya dia di rumah yang ia maksud, itu adalah sebuah rumah notarisnya, yang dulu menangani surat-surat rumah dan usahanya, dan dia bekerja sangat bagus menurut Dewi dan menjadi orang kepercayaan Dewi, tapi seminggu sebelum ia meninggal, Dewi mengambil kembali surat-surat itu dengan alasan ingin mengeceknya ulang, padahal ia sudah merasakan ada yang menjanggal di hatinya, barulah ia simpan surat-surat itu di dalam berkasnya.

__ADS_1


Sesampainya di sana, Dewi menekan bel rumah milik notarisnya itu yang bernama Bram.


Ting! Tong!


Ting! Tong!


Seorang pria berjas hitam rapi membuka pintu secara otomatis, pintu terbuka secara perlahan-lahan sedangkan dirinya sedang duduk di sofa mewahnya.


Tanpa rasa ragu, Dewi masuk ke dalam, terlihat pria itu sedang memainkan ponselnya sebentar lalu menyimpannya di saku jas miliknya.


Dwi duduk di hadapan Bram dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Bram dengan senyum tanpa iklhas.


"Aku hanya ingin tau siapa pembunuh Dewi pembunuh, kau adalah orang kepercayaan Dewi pembunuh tidak kah kau menyelidikinya?" tanya Dewi sedikit gusar, karena orang yang ia percaya tampak berleha-leha dan tidak peduli atas kematiannya.


"Untuk apa aku peduli, mau dia hidup atau mati, sungguh tak ada untungnya bagiku saat ini," ucap Bram menyenderkan tubuhnya ke sofa.


"Apa maksud mu?" tanya Dewi tak mengerti.


"Ya, saat dia masih hidup, aku ingin meminta tanah di timur dia tidak memberikannya pada ku, lalu saat dia mati pun dia sudah menyerahkan seluruh asetnya pada mu, lalu apa yang aku dapatkan!" terlihat Bram itu sangat marah.


"Itu tanah yang di timur bukan dia tidak memberikannya pada mu, hanya saja ia ingin memberikan tanah di sebelah barat untuk mu, di sana tanah yang luas dan tempatnya strategis jika kau ingin membangun usaha, sedangkan tanah di timur itu hanya hamparan hutan, mana mungkin dia memberikan tempat seperti itu untuk mu jika kau ingin membangun usaha," ucap Dewi mencoba menjelaskan, ia sungguh tidak tahu apa yang notarisnya inginkan.

__ADS_1


__ADS_2