Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 89


__ADS_3

"Menggunakan pasport lama ku mana bisa, wajah ku dan wajah di foto ini sudah berubah. Sial! Ini gara-gara Zeiro, aku malah naik jet pribadinya dan tidak mengurus paspornya. Argghhh! Bikin kesal aja!" denggus Dewi kesal.


Ia kembali keluar dari bandara dan duduk di sebuah kursi sambil berpikir, bagaimana caranya agar ia bisa pulang sendiri tanpa bantuan Zeiro.


"Hm ... seingat ku di sini ada pelayaran gelap yang masuk dari satu Negara ke Negara lain, tapi itu membutuhkan 3 hari perjalanan untuk sampai ke Negara A, sangat lama. Di tambah aku ke sini tanpa pasport. Orang pasti menganggap tero ris, ya sudahlah, aku naik kapal saja, berharap Kapa itu sampai ke Negara A," ucap Dewi pasrah. Rasanya ia tak punya pilihan lain lagi selain naik kapal itu, meskipun lama, ya sudahlah.


Dewi menyetop taksi yang mengantar penumpang ke bandara, setelah kosong ia pun naik.


"Kemana Nona?" tanya supir taksi.


"Kepelabuhan manggawa," jawab Dewi. Supir taksi itu terkejut karena pelabuhan itu khusus kapal gelap, yang biasanya membawa senjata api, atau barang-barang yang di luar barang dari yang pemerintah izinkan, jika ketahuan semua orang yang ada di kapal itu akan di tangkap sekalipun ia tak terlibat.


"Nona yakin mau ke sana?" tanya pak supir khawatir.


"Iya Pak, tolong antarkan aku ke sana," pinta Dewi.


Meskipun begitu, supir taksi mengantarkan Dewi ke pelabuhan itu.


"Memangnya kenapa Nona ingin ke sana?" tanya sang supir penasaran, ia melihat wajah Dewi lewat cermin depan yang menggelantung di atas mobil.


"Tidak ada apa-apa," jawab Dewi singkat sambil melihat keluar jendela.

__ADS_1


Supir itu sesekali melihat Dewi, dan melihat barang bawaan Dewi, memang Dewi tidak membawa pakaian, hanya beberapa berkas yang ia bawa lalu ia sampul dengan plastik. Sedangkan penghargaan miliknya ada di dalam mobil Zeiro.


Tak lama kemudian, Dewi pun sampai di pelabuhan, ia membayarnya lewat rekening dan mencari kapal yang akan berangkat ke negara A.


"Pak, apa kapal ini akan berangkat ke Negara A?" tanya Dewi dengan suara keras karena ombak di laut sangat besar.


"Tidak," jawab pria itu menggeleng.


Dewi kembali berjalan mendekati seorang pria yang memakai penutup kepala yang di tutup oleh kain segitiga. Pria itu terlihat menyeramkan, tapi bagi Dewi itu tidak menakutkan sama sekali, karena menurutnya, yang menakutkan itu adalah bukan wajahnya, tapi sifat seseorang.


"Bang, apa kapal kalian berangkat ke Negera A?" tanya Dewi menghampiri salah satu pria yang sedang melepaskan tali agar kapalnya segera berangkat.


Dewi berjalan lagi dan mencari orang yang akan berangkat. Ia mendekati seorang pria bertubuh besar yang hanya memakai singlet.


"Bang, apa kalian akan berangkat ke Negara A?" tanya Dewi untuk kesekian kalinya.


"Iya, kamu mau ikut?" tanya pria itu.


"Iya." angguk Dewi. Pria itu tersenyum.


"Ayo cepat masuk, kapal sebentar lagi akan berangkat," ucap pria itu memegang punggung Dewi untuk membawanya masuk ke dalam kapal.

__ADS_1


Dari perilaku pria itu sudah tidak wajar, meskipun pun begitu Dewi tidak takut sama sekali, saat ini ia hanya takut tidak sampai ke negara A saja, mau bagaimana pun dia adalah warga Negar yang baik, ia harus punya identitas dulu baru bisa pergi kemana pun ia mau. Saat ini ia tak punya paspor, hanya bisa melakukan ini saja dulu, setelah sampai nanti di Negara A baru dirinya akan buat paspor.


"Ayo, masuk ke dalam. Tapi persyaratan kamu masuk ke negara A adalah tangan kamu di ikat dulu, dan juga barang bawaan kamu kami yang akan simpan," ucap pria itu tersenyum.


"Sangat jelas jika kapal ini membawa wanita yang akan di jual pada pria hidung belang, tapi itu tidak masalah, setelah sampai di Negera A, baru ia akan menghabisi para berandalan itu.


Dewi menyelipkan kartu ATM-nya di belakang celana saat pria itu tidak melihatnya, tapi semuanya ia berikan termasuk ponsel, akan tetapi ponsel itu ia kunci dengan sandi yang sulit dan banyak, toh itu juga bukan miliknya.


Pria itu pun mengikat tangan Dewi dengan borgol seperti yang di pakai oleh polisi, lalu membawanya ke suatu ruangan.


Pria itu membuka pintu ruangan yang ada beberapa orang penjaga itu lalu memasukkan ke dalam dan terlihat di sana ada 10 wanita yang kaki dan tangannya di borgol.


Mereka terlihat menangis, ada yang sudah tak sanggup menangis lagi hingga ia memilih diam dengan tubuh yang lemas.


Dewi masuk ke dalam tanpa penolakan, wajahnya biasa saja dan datar, mereka melihat Dewi masuk ke dalam dengan perasaan sedih.


"Kamu sangat penurut, jadi jika begitu, aku juga akan borgol kaki mu juga," ucap pria itu. Dewi hanya diam saja saat kakinya di borgol.


Ia membiarkan pria itu memborgol kan kakinya, toh juga ia bisa buka sendiri.


Dewi pun duduk di antara wanita itu. Mereka melihat dari pakaian Dewi itu terlihat bagus dan mahal, lagian Dewi sangat bersih dan bukan seperti penduduk biasa. Ia terlihat seperti anak orang kaya. Sepatu yang di pakai Dewi juga harga puluhan juta.

__ADS_1


__ADS_2