
"Iya, Ibu juga sedang berpikir bagaimana cara kita bisa mendapat harta Dewi dan sekalian harta Surya, setelah itu baru kita pergi dari sini dan keluar negeri," ucap Lena mengangguk-angguk sambil berpikir.
"Nah, gitu donk, Ibu gimana biar si Surya itu mau memberikan seluruh hartanya kepada Ibu, lihatlah, bahkan dia sangat membenci Dewi anak kandungnya send demi Ibu. Berarti dia pasti akan memberikan seluruh hartanya untuk Ibu juga, pokoknya Ibu jangan sampai lengah, begitu ada kesempatan kita harus ambil," ucap Anita yakin.
"Kamu juga harus berjuang donk, jangan Ibu sendiri aja, kamu juga harus pinter-pinter cari muka di depan Surya," ucap ibunya.
"Baiklah, ayo sekarang kita beraksi." Anita duluan keluar kamar.
"Hey! Apa yang kau rencanakan!" teriak Lena dengan suara pelan.
"Ssstttttt! Ibu diam saja," ucap Anita meletakkan jari telunjuknya di ujung jarinya.
Terlihat Surya sedang duduk di sofa dengan kedua tangannya di kepala seperti orang stres.
"Ayah, maafkan aku Ayah. Gara-gara Aku, Ayah harus bertengkar dengan Dewi dan membuat menjadi sedih." Anita membaringkan kepalanya di pangkuan Surya.
Surya mengelus kepala Anita layaknya anak kandungnya.
__ADS_1
"Sudah tidak apa-apa, Ayah akan berjuang untuk kamu," ucap Surya lembut.
Lena juga mendekati suaminya itu dan duduk di sampingnya, jika di lihat mereka seperti keluarga bahagia yang baru saja menghadapi cobaan.
"Kalian tidak perlu khawatir ya, aku akan berusaha mendapatkan harta warisan itu bagaimana pun caranya untuk kalian," ucap Surya memeluk Lena.
Tak lama kemudian, mobil pun sampai di depan rumah Dewi.
Mereka pun keluar dari mobil, bi Inah terpana melihat rumah milik Dewi.
"Iya, ayo masuk," ajak Dewi. Mereka pun masuk ke dalam. Zeiro juga ikut masuk ke dalam dan duduk di sofa.
"Nona Tuan, saya buatkan minuman ya," ucap bi Inah berjalan menuju dapur.
"Itu Bi, tidak perlu, di dapur tidak ada apa-apa," jawab Dewi.
"Oh, begitu ya, kalau begitu biar Bibi belanja," ucap bi Inah bersemangat.
__ADS_1
"Nanti saja, Bibi istirahatlah dulu, karena hari ini Bibi membersihkan rumah saja dulu," jawab Dewi.
"Baik Nona, tapi kamar pembantu yang mana ya Nona?" tanya bi Inah menjengahkan kepalanya.
"Pilih saja yang mana Bibi suka, tapi kamar yang besar itu adalah kamar ku." tunjuk Dewi di sebuah kamar dengan pintu yang di relif dengan hiasan seperti emas di depannya.
"Wah, Nona sangat royal sekali, tidak sia-sia aku ikut Nona, terima kasih Nona." BI Inah tampak kesenangan, ia mencari-cari kamar yang cocok untuknya, karena kamar itu lumayan banyak, kira-kira ada 7 kamar dan 1 kamar utama.
"Dewi bagaimana jika aset dari Dewi pembunuh investasi kan ke perusahaan ku dulu, kita akan menjadi partner kerja sama," saran Zeiro.
"Baiklah, asalkan kau memberikan keuntungan yang banyak untuk ku," jawab Dewi mengangkat alisnya.
"Baiklah, itu tidak masalah asalkan kau investasi seluruh aset Dewi pembunuh kepadaku, dan tidak bekerja sama dengan perusahaan lain," jawab Zeiro serius.
"Kenapa? Kau takut jika nanti aku lebih kaya dari mu?" tanya Dewi dengan seulas senyum di bibirnya.
"Tidak! Aku takut kau berpaling dariku," jawab Zeiro pelan.
__ADS_1