
Mereka naik mobil, di sepanjang jalan ia melihat terus pemandangan yang tidak asing itu, meskipun kematiannya baru satu Minggu, tapi rindu yang ia pendam sudah berabad-abad rasanya. Dewi tersenyum melihat negaranya lagi, meskipun ia tidak bisa bebas berkeliaran seperti dulu lagi.
"Oh ya, apa peserta dari Dewi pembunuh masuk daftar akan ikut kompetisi juga tahun ini?" tanya Dewi.
"Tentu saja mereka harus ikut demi menjaga nama baik Dewi pembunuh," jawab Zeiro.
"Sepertinya mereka tidak berlarut dalam kesedihannya, aku pikir mereka masih bersedih dan meratapi kematian Dewi pembunuh," ucap Dewi.
Perjalanan yang memakan beberapa menit itu pun mereka sampai di tempat yang akan di adakan kompetisi itu.
Tempat yang tidak asing baginya, ia juga menanam sahamnya untuk membangun gedung kompetisi ini, karena ia sangat menyukai bela diri.
'Tak menyangka, aku malah menjadi orang asing di sini,' batin Dewi melihat seluruh gedung itu mengingat di mana terakhir kali ia duduk.
__ADS_1
"Kamu harus terus siap siaga, besok adalah pertandingannya, kompetisi ini tidak memilih wanita atau perempuan, yang terkuat tetaplah menjadi pemenangnya karena itu tidak mungkin karena Dewi pembunuh juga perempuan, ia bisa mengalahkan seluruh lawannya, aku harap kamu juga begitu," ucap Zeiro.
"Kau tidak perlu meragukan kemampuanku, aku bahkan bisa mengalahkan semua peserta," ucap Dewi.
"Aku harap Dewi pembunuh terlahir kembali, ayo kita masuk ke dalam, kamu harus banyak istirahat, aku akan menemui kepala kompetisi dulu," ucap Zeiro meninggalkan Dewi di depan pintu masuk ke dalam ruang penginapan.
Dewi masuk ke dalam kamarnya, padahal setiap sudut ruangan ini ada desainnya. Ia berharap bagi peserta akan nyaman tinggal di kamarnya.
Dewi menghempaskan tubuhnya di kasur itu melihat ke atas langit-langit.
Dewi keluar dari kamarnya lalu mencari Zeiro. Setelah mencari-carinya akhirnya ia menemukan Zeiro sedang bercakap-cakap dengan kepala kompetisi di atas balkon. Ia melihat ke atas sangat sayup, naik melalui tangga pasti kelamaan, ia pun memanjat gedung itu dan menghampiri Zeiro.
"Dewi," ucap Zeiro terkejut yang lebih terkejut lagi adalah kepala kompetisi itu. Karena yang ini adalah perbuatan yang di lakukan oleh Dewi pembunuh jika ia akan segera bertanding.
__ADS_1
"Siapa dia?" tanya Kepala kompetisi itu melihat Dewi.
"Maaf pak, ini adalah peserta saya, dia memang selalu tidak sopan begini," ucap Zeiro menekan kepala Dewi, Dewi mengambil tangan Zeiro dan menghempasnya.
"Bukan itu, maksud saya, ini adalah hal yang sering di lakukan oleh Dewi pembunuh, tidak menyangka ternyata ternyata ada gadis lain yang bisa memanjat gedung ini tanpa terjatuh," ucap kepala kompetisi itu tersenyum.
"Oh begitu ya, saya harap peserta saya ini bisa mengikuti jejak Dewi pembunuh," ucap Zeiro menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
'Penerus kepala mu, aku memang Dewi pembunuh itu," batin Dewi melipat tangannya dengan wajah manyun.
"Kamu mau apa ke sini?" tanya Zeiro melihat ke arah Dewi.
"Berikan aku kunci mobil, aku ingin pergi ke suatu tempat," ucap Dewi mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Mau ke mana?" tanya Zeiro merogoh kantongnya tapi tidak mengeluarkan kuncinya.