
Dewi pun meninggalkan tempat tersebut, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Mobil terus melaju dan sampailah ia di penginapan.
Dewi sejenak terdiam di dalam mobil, ia binggung bagaimana ia akan menghadapi Zeiro, itu pasti sangat canggung, dari pada dia menghadapi Bram dan anak buahnya meskipun ia harus bertaruh dengan hidupnya.
Dewi pun memilih keluar dan menuju kamarnya.
"Aku lelah, aku ingin istirahat saja," ucap Dewi merebahkan tubuhnya di kasur, ia pun memejamkan matanya agar ia bisa tidur.
Beberapa jam kemudian.
Tok! Tok! Tok!
Dewi terbangun, ia segera bangun dan membuka pintu, dan itu ternyata Zeiro.
"Kamu aku telpon kok nggak di jawab, aku pikir terjadi sesuatu pada mu," ucap Zeiro lega saat melihat Dewi baik-baik saja.
"Kenapa kamu mencari ku?" tanya Dewi, ia mengucek matanya. Rasanya belum puas tidur.
__ADS_1
"Tentu saja aku khawatir, dari siang tadi perginya dan ini sudah malam hari, kau juga tidak menghubungiku."
"Oh iya, itu kunci mobil ada di dalam mobil, kau datang ke sini untuk mengambil mobilmu kan? Kalau begitu aku lanjut tidur lagi," ucap Dewi ingin menutup pintu, tapi Zeiro menghalang dengan kakinya.
"Hey! keluarkan kaki mu!" seru Dewi. Zeiro berusaha masuk ke dalam kamar Dewi.
"Aku ingin berbicara pada mu," ujar Zeiro. Dewi pun melepaskan pintu itu dan duduk di ranjangnya.
"Katakan apa yang ingin kau bicarakan." Dewi melipat tangannya sambil melihat jendela yang masih terbuka.
"Aku ingin mengatakan jika aku …." ucapan Zeiro terhenti karena tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Triring! Triring! Triring!
"Halo," jawab Zeiro.
"Tuan, kami sudah menemukan Jhon, karena ketahuan, ia pun kabur dari tempat tinggalnya dan saat ini tempat tinggalnya di bakar olehnya sedangkan keluarga dari pria yang di bawa ke rumah sakit itu ada di dalam, saat ini kamu sedang menyelamatkannya," ucap Mat.
"Baiklah jika begitu, selamatkan mereka semua, kalian juga tetap jaga keselamatan kalian," pesan Zeiro.
__ADS_1
"Baik Tuan." angguk Mat.
"Sial! Dia benar-benar seperti belut saja. Ayo kita makan malam." Zeiro menarik tangan Dewi dan membawanya menuju mobilnya.
"Aku belum mandi," ucap Dewi dengan wajah masam.
"Kau tidak perlu mandi, di mata ku kau tetap wangi dan cantik." Zeiro tersenyum lalu membukakan pintu mobil untuk Dewi.
"Ini bukan masalah di matamu, tapi aku yang risih tau," ucap Dewi manyun.
"Setelah makan malam kau akan ku bawa ke tempat pemandian air panas." Zeiro menghidupkan mesin mobilnya lalu menginjak pedal gas mobil dan melaju di jalanan menuju sebuah restoran.
Zeiro pun menghidupkan sebuah tv kecil di mobilnya dan memutar berita karena ia sangat suka berita, apa lagi berita tentang dirinya.
"Lepaskan aku! Bukan aku pembunuhnya!" teriak seorang pria yang ada di tv kecil itu, Dewi sangat mengenali dia. Dia adalah Joshi, musuh Dewi.
"Jelaskan saja di kantor polisi, karena semua bukti sudah menunjukkan kepada mu, saat ini belum ada lagi yang bisa di curigai," ucap polisi itu yang saat ini sedang berada di kediaman Joshi.
Joshi di bawa ke dalam kantor polisi meskipun ia meronta-ronta.
__ADS_1
"Katanya dia mafia, kenapa dia takut pada polisi?" tanya Dewi heran.
"Kau mengenalinya?" tanya Zeiro melihat ke arah Dewi.