
Dewi sangat tau kekuatan dari pengikutnya, jadi ia akan membuat tubuh mereka kaku lalu setelah pertandingan mereka selesai nanti dia akan membuat perhitungan kepada mereka.
Dewi memukul bagian titik vital bagian terlemah mereka, satu persatu peserta negara Q terduduk tak bergerak kaku terdiam, hanya mata mereka yang bisa melihat ke kiri dan kanan.
Sekarang tinggal giliran peserta dari negara lain yang masih bertahan. Dewi menyengir lalu menghantam mereka yang datang satu persatu itu. Dewi menarik tangannya peserta yang lain dan sekalian ia ikut berputar, bagi mereka yang mendekat akan terpental.
Dewi melempar pria yang ia pegang tadi hingga mendarat di kursi penonton. Dewi kembali menyerang mereka dengan tangannya sendiri.
Menghantam kepala mereka, memukul pundak menendang membuat mereka sedikit pun tidak bisa menyentuhnya karena Dewi punya perisai yang sigap.
__ADS_1
"Gila! Dia menantang seluruh peserta ternya dia punya kemapuan itu," ucap salah satu penonton terkagum-kagum.
"Tapi lihat saja dulu, sampai mana dia akan bertahan," jawab temannya.
"Tapi sudah melawan ratusan orang seperti ini sungguh sangat hebat, pesertanya kurang lebih itu ada 720 orang, dia sudah mengalahkan setengahnya, bahkan peserta dari negara Q yang terkenal kuat saja lihatlah, meraka hanya bisa duduk dan tidak bisa berbuat apa-apa," sahut temannya yang lain.
Zeiro yang duduk di samping pembawa acara itu terus memperhatikan Dewi, di wajahnya sungguh ia tak punya rasa takut dan kelelahan, ia malah bersemangat untuk menghabisi mereka semua, seolah-olah para peserta itu memindahkan energinya kepada Dewi.
Andika melihat Dewi secara saksama, karena ia sering bersama Dewi pembunuh ia tau betul seluruh gerakan Dewi pembunuh hanya saja ia tidak bisa mengerjakannya. Dari yang ia lihat seluruh gerakkan yang di gunakan Dewi sama persis dengan Dewi pembunuh.
__ADS_1
'Mungkinkah dia benar-benar adik angkat Dewi pembunuh? Apa semua gerakkan Dewi pembunuh ia turunkan kepada anak itu?' batin Andika.
"Sayang, kenapa gerakan wanita itu familiar ya?" tanya Mei melihat ke arah Andika yang masih memperhatikan Dewi.
"Eh, hm … menurut aku tidak terlalu mirip," jawab Andika sedikit gugup.
Dan akhirnya pertarungannya pun selesai, mereka terkapar di lantai panggung pertandingan. Seluruh penonton bangun dan bertepuk tangan dengan meriah.
Zeiro berdiri memberikan tepuk tangan kebanggan, ia berjalan maju menuju Dewi yang masih berdiri mengengam erat tangannya karena ia rasanya masih kurang sebelum ia bisa menghajar Andika.
__ADS_1
"Bravo Dewi, kamu luar biasa, apakah Dewi pembunuh akan terlahir kembali?" Zeiro mengengam tangan Dewi yang gemetaran, dari yang di rasakan Zeiro bukanlah gemetaran kehabisan tenaga atau ketakutan, tapi gemetaran yang penuh dendam dan amarah yang belum terlampiaskan. Zeiro memeluk Dewi lalu membisikkannya.
"Dewi, aku mohon sampai di sini saja dulu ya, semua dendam dan amarah mu pasti akan terbalaskan seiringan waktu, aku pasti kau akan mendapatkan keadilannya, tapi untuk saat ini kau memang pemenangnya, tapi statusmu saat ini kau masihlah peserta negara A. Kamu tenang saja, aku pasti akan membantu mu untuk menyelesaikan seluruh masalah mu yang masih membelenggu di hatimu, aku janji," ucap Zeiro. Dewi membuka genggaman tangannya namun tangan itu masih bergetar.