
"Bilang saja jika kamu tidak menyukainya karena kamu tidak terima jika Dewi pembunuh lebih memilih dia," ujar Dewi melihat ke arah Andika yang tertawa ria.
"Cih! Aku memang tidak menyukainya meskipun dia tidak pacaran dengan Dewi pembunuh, pria sok lugu itu, aku rasa dilihat dari matanya ia punya niat jahat, hanya orang lain saja yang tertipu oleh pribadinya yang sok baik itu." Zeiro mengaduk-aduk minumannya melihat tingkah gerak gerik Andika. Tak sadar Andika juga melihat ke arah Zeiro, karena sudah terlihat Zeiro melambaikan tangan sambil tersenyum.
"Kau bilang kau tidak menyukainya, kenapa kau tersenyum?" tanya Dewi menatapnya sayup.
"He-he-he, tentu saja aku harus jaga image," jawab Zeiro.
"Cih! Kalian semua palsu," ucap Dewi menjulingkan matanya.
Setelah selesai makan, seperti biasa ketua kompetisi itu memberi arahan dan peraturan-peraturan pertandingannya.
Setelah semuanya selesai, mereka pun dibubarkan, Dewi sangat ingin menemui Andika untuk melihat adik sepupunya itu, tapi ia urungkan niatnya mungkin di saat pertandingan dia pasti datang menemuinya.
Zeiro memegang tangan Dewi dan mengajaknya pergi berkeliling.
__ADS_1
"Kau ingin membawaku ke mana?" tanya Dewi mengikuti Zeiro dan melepaskan tangan Zeiro di tangannya.
"Mengajak mu berkeliling dan mengenali tempat ini," Jawa. Zeiro yang terus berjalan.
'Aku udah ribuan kali ke sini,' batin Dewi memanyunkan mulutnya melipat kedua tangannya mengikuti Zeiro melihat ke kiri dan kanan.
"Kalau aku boleh tau kenapa kau bisa menyukai Dewi pembunuh?" tanya Dewi berjalan menyaingi Zeiro.
"Aku pernah berpasangan dengannya dan kemudian kami bercerita panjang lebar, dari sana aku rasanya mengenal Dewi pembunuh, dia sangat baik, meskipun terlihat kuat tapi dia adalah wanita polos, dia mengeluarkan semua unek-unek di hatinya, akhirnya kami pernah bertaruh dan aku memenangkan batu giok yang kau lihat itu, meskipun dia sudah punya pacar, aku bermaksud memberikan hadiah itu kepadanya, sayangnya dia malah sudah meninggal sebelum aku memberikannya," ucap Zeiro menyesalinya.
'Oh jadi kau ingin memberikan ku giok itu ya, pantas saja kau menyembunyikan identitas mu saat mendapatkan giok itu,' batin Dewi, terlihat seulas senyum di bibirnya.
"Aku? Tersenyum? Mana ada aku tersenyum, itu hanya perasaan mu saja," jawab Dewi memutar bola matanya.
"Jadi bagaimana? Apa kau masih menyukainya?" tanya Dewi.
__ADS_1
"Itu sudah berlalu, aku sudah membuang jauh-jauh perasaan itu, aku sekarang hanya fokus yang ada di depan mata saja," jawab Zeiro tersenyum melihat Dewi.
"Di depan mata, apa dia?" tanya Dewi menunjuk ke arah depan ke arah wanita yang berjalan mendekati mereka.
"Tuan Zeiro, selamat malam, tidak menyangka kita bertemu lagi, apa kabar?" tanya wanita itu menundukkan kepala memberi hormat. Ia tersenyum manis lalu mendekati Zeiro dan merapikan dasi Zeiro meskipun sudah rapi.
Zeiro memegang tangan wanita itu dan menatapnya.
"Nona Amel, jangan seperti itu, seseorang pasti akan salah paham terhadap kita," ucap Zeiro melepaskan tangan wanita cantik itu ke bawah.
"Dia? Siapanya kamu?" tanya Amel melipat tangannya melihat ke arah Dewi.
"Jika aku bilang dia salah orang yang aku sukai apa kau percaya?"
"Mana mungkin selera Tuan Zeiro serendah ini kan?" ucap Wanita itu tersenyum sinis menatap Dewi dengan membulatkan matanya.
__ADS_1
"Kalian lanjutkan saja mengobrolnya, aku rasa aku tidak di perlukan pembicaraan kalian saat ini," ucap Dewi berjalan cepat ke depan.
"Hey tunggu! Kau nanti tersesat!" teriak Zeiro.