Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 70


__ADS_3

"Benar! Dasar mereka pengkhianat! Nggak tau diri dan tak tau malu! Dewi pembunuh baru saja meninggal dan mereka sudah menjadi suami istri."


"Benar, aku setuju dengan mu, mungkinkah mereka sudah lama menjalin hubungan tanpa sepengetahuan Dewi pembunuh? Jangan bilang mereka yang membunuhnya agar bisa hidup bersama?"


Dewi tersenyum, kalau netizen di beri sedikit bumbu dan terasa nikmatnya, mereka akan terus mencicipinya.


"Dewi, ini ada panggilan masuk," ucap Zeiro menyerahkan ponselnya dan Dewi menerimanya.


"Halo," jawab Dewi.


"Jadi bagaimana jika rumah dan perusahaan dan beberapa tempat usahanya semuanya saya beli 5 triliun." terdengar suara pria yang ingin menawarkan harga harta miliknya.


"Hey! Rumah dan seluruh usahanya lebih dari 5 triliun, kau ingin membeli harga segitu, kau ingin mempermainkan ku ya!" ucap Dewi memanas.


"Ya aku rasa pantasnya harga segitu, itu harga yang sudah paling mahal," ucap pria itu.


"Kepalamu! Jangan kau hubungin nomor ini lagi dari pada ku patahkan lehermu!" sanggah Dewi kesal yang langsung memutuskan panggilannya.

__ADS_1


"Kalau nggak punya buat nawar kenapa nelpon sih!" ucap Dewi mendengus kesal dan ia kembali melihat laptopnya.


Ternyata sudah banyak yang balas di komentarnya.


"Ini sudah tak wajar lagi nih, saat mereka membicarakan di pers katanya akan menangani harta milik Dewi pembunuh karena ia merasa walinya, ternyata sudah ada ahli waris yang sah, apa mereka tidak malu menjadi pencuri?"


"He-he-he, mari kita masuk," ucap Dewi bersemangat.


"Kedua ulat bulu biang kerok itu aku rasa sudah tak punya rasa malu, jika tidak mereka tidak akan menjalani hubungan ini, setidaknya haruslah menunggu beberapa bulan baru menjalani hubungan, mereka sungguh tak sabaran, mungkinkah di sini tahu apa penyebab kematian Dewi pembunuh?"


Dewi mengerutkan keningnya, kenapa ia berasa familiar dengan aku ini? Seketika wajah Dewi berubah, itu adalah aku Zeiro. Sejak kapan dia masuk di percakapan mereka yang sedang memanas itu? Dan tau jika itu adalah aku miliknya.


Dewi melihat ke arah Zeiro yang sedang berdiri di depan meja kerjanya dengan tangan kiri di dalam saku celana dan sebelah kanan memegang ponsel dan ia pun tersenyum.


"Hey! Ini kumpulan emak-emak netizen, jangan ikut gabung," ucap Dewi.


Zeiro berjalan mendekati Dewi dan duduk di sebelahnya yang ikut melihat ke layar laptop yang penuh dengan hujatan.

__ADS_1


"Kau memang adiknya Dewi pembunuh ya, aku baru percaya setelah melihat ini, kau seolah-olah punya daya tarik sendiri untuk membuat pengikut mu mengikuti mu dengan sendirinya," ucap Zeiro menyunggingkan senyumnya.


"Kau lihat saja dan jangan ikut komen," ucap Dewi merasa terganggu.


"Ayolah, aku tidak menganggu mu," jawab Zeiro.


"Terserah kau saja, tapi jangan sampai namamu buruk karena ikut campur masalah ini," jawab Dewi kembali fokus ke laptop.


"Kau mengkhawatir aku, sungguh aku sangat senang," ucap Zeiro tersenyum menatap Dewi dari samping.


"Beh!" Dewi mencibirkan bibirnya.


Lagi-lagi ada telpon yang menawarkan harga untuk rumah dan usaha milik Dewi pembunuh, Dewi tetap tidak menjualnya karena itu tidak sesuai harga yang ia harapkan, dari pada capek menerima panggilan dari orang yang terus menawar harga, akhirnya Dewi memilih menetapkan harga sendiri.


Dewi mengembalikan kembali akun asli Zeiro, ia memakai akun yang selalu di buat Zeiro berbisnis untuk ia buat pengumuman di sana.


"Di beritahukan kepada seluruh warga baik dalam mau pun luar negeri, Bahwa rumah serta harta milik usaha Dewi pembunuh akan segera di jual seharga 1 kuadriliun, jika kurang dari itu lebih baik jangan menawar. Sekian terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2