Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 66


__ADS_3

"Sekali pun kau orang terhebat sekali pun, aku tidak akan mengalah," ucap Andika menatap tajam Zeiro.


"Heh! Tidak menyangka ya, ternyata ada orang yang berani melawan ku? Kalau kau tidak ingin mengalah ya sudahlah, tapi setiap perbuatan mu akan ada balasannya," ucap Zeiro.


"Kau panggil lah pengacara mu itu, aku akan melawan mu dengan diri ku sendiri, aku tidak memerlukan pengacara, kapan pun kau memanggilku aku akan siap," ucap Dewi berdiri.


Andika menatap Dewi dengan geram. "Huh! Jangan berpikir untuk menang!" ucap Andika mendengus kesal.


Dewi dan Zeiro pun pergi dari kantor polisi itu dan menuju mobilnya.


"Kau yakin melawan dia tanpa pengacara?" tanya Zeiro.


"Lalu kenapa tidak? Dia berani ingin mengambil alih, aku juga tidak akan segan mempermalukan dia di depan umum sehingga membuat orang-orang jijik dengannya, aku akan membuat dia kehilangan mukanya sehingga ingin rasanya di kembali ke selokan lagi berteman dengan kodok," jawab Dewi.

__ADS_1


"Oke, baiklah, kau ingin kemana lagi?" tanya Zeiro.


"Hm … kau bilang ingin membawaku ke suatu tempat," ucap Dewi membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.


Zeiro juga masuk ke dalam mobil dan memakai sabuk pengamannya.


"Kamu tidak ingin melihat istrinya Andika dulu?" Zeiro menghidupkan mesin mobilnya.


"Baiklah kalau begitu," ucap Zeiro melajukan mobilnya di jalanan menuju tempat yang ia maksud.


"Kurang ajar kau wanita sialan! Aku akan menuntut mu atas kematian anak ku! Aku akan menjalankan mu seumur hidup! Aku tidak terima! Aku tidak terima!" teriak Mei dengan air mata bercucuran, mata yang memerah dan rambut kusut masai.


"Buk harap tenang, Anda jangan terlalu banyak bergerak," bujuk suster itu.

__ADS_1


"Tidak! Aku akan membunuh wanita itu! Ya aku akan membunuh wanita itu karena sudah merenggut nyawa anakku, lihat saja nanti kau! Aku akan membunuh mu mengantikan nyawamu untuk anak ku!" teriak Mei mengeram.


"Dokter! Dokter! Pasiennya mengamuk!" teriak suster yang lain, sedangkan ada 2 suster di dalam ruangan menahan Mei.


Dokter pun datang lalu memeriksa Mei, karena Mei terus meronta-ronta, tak ada pilihan lain lagi, ia pun menyuntikkan obat penenang ke dalam tubuh Mei. Mei pun terbaring lemah di brankar.


"Sepertinya ia mengalami stres berat, jika di biarkan maka akan akan terganggu fungsi sarafnya dan mengakibatkan gangguan kejiwaan. Sayang sekali tidak ada keluarganya yang datang, ponselnya juga tidak ada. Jika seperti ini hanya bisa di masukkan ke rumah sakit jiwa," ucap Dokter itu.


"Mau bagaimana lagi Dok, tapi Dok, seingat saya, saya lihat dia di televisi jika dia adalah adik sepupu Dewi pembunuh, mungkin kita bisa beri tahu kepada mantan pacar Dewi pembunuh, siapa itu namanya," ucap suster itu mengingat-ingat.


"Ya sudah, kalau begitu kalian saja yang cari, saya mana punya waktu untuk mencari keberadaannya, karena masih banyak pasien yang harus saya tanggung jawabkan," ucap Dokter itu. Ia pun pergi meninggalkan ruangan karena ada pasien gawat darurat yang baru datang.


"Sana kamu cari, kamu yang punya ide," ucap suster yang lain kepada suster yang menyebutkan identitas Mei.

__ADS_1


__ADS_2