Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 80


__ADS_3

Dewi melihat perutnya yang ternyata ada tangan yang besar. Ia melihat kebelakang ternyata ada Zeiro yang masih tertidur pulas.


"Sialan! Ternyata dia!" gerutu Dewi menarik tangan Zeiro dan menghempasnya ke belakang. Tapi tangan itu naik ke tubuh Dewi.


"Jangan salahkan aku mematahkan tanganmu," ucap Dewi memegang tangan Zeiro.


Zeiro memeluk erat Dewi dengan kuat. "Biarkan aku memelukmu sebentar saja. Kau tahu? Dari kecil aku nggak di peluk oleh Mama atau pun Papa, mereka sangat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Biasanya aku hanya bersama Bibi pengasuh menemaninya memasak dan melakukan pekerjaan lain, sedangkan aku tidak di bolehkan berteman dengan siapa pun, mereka bilang, teman akan berpengaruh buruk pada ku jadi aku tak punya teman. Aku hanya ingin merasakan memeluk dan di peluk, ingin merasakan kehangatannya, dan itu sangat nyaman," ucap Zeiro tersenyum, tapi matanya tetap terpejam.


Dewi terdiam. Jika di ingat-ingat ia juga begitu, dari kecil orang tuanya sudah meninggal, waktu itu ia di asuh oleh kakek dan mengajar ilmu bela diri hingga ia lupa siapa dirinya. Di umurnya waktu itu seharusnya ia bermain bersama teman-teman, mengenali dunia remaja, memuja idola atau menyukai teman laki-laki secara diam dan berbagi rahasia dengan teman perempuan. Tapi itu tidak ada di dalam hidup Dewi, semuanya berlalu begitu saja sampai ia mengenal Andika.


Menerima Andika karena kasihan, tapi setidaknya ia merasakan pelukan hangat dari Andika meskipun itu palsu.


"Sudah selesai belum meluknya?" tanya Dewi datar.


"Belum, aku ingin kehangatan mu masuk ke dalam tubuhku, agar aku tidak merasa kedinginan lagi di saat malam tiba," jawab Zeiro tersenyum manis, ingin rasanya Dewi mencubit pipinya.


"Kalau tidak mau kedinginan, lain kali hidup bara api dan tidur di dalamnya," ucap Dewi mengambil tangan Zeiro dan membuangnya ke samping. Dewi pun berdiri bersiap-siap ingin ke kamar mandi.


"Tunggu dulu," pinta Zeiro. Dewi melihat ke arah Zeiro dan Zeiro segera bangun dari tempat tidurnya dan tiba-tiba memeluk Dewi dengan erat.

__ADS_1


"Sepertinya aku benar-benar sudah jatuh cinta pada mu. Aku mencintai mu Dewi, setiap mata ini terpejam aku selalu terbayang wajah mu, aku tidak berharap kau membalasnya, setidaknya aku bisa menyatakan perasaan ku pada mu dan berharap suatu saat nanti kau menerima ku dengan segenap hatimu," ucap Zeiro menenggelamkan wajahnya di bahu Dewi.


"Jangan bilang aku hanya pelampiasan karena cinta mu tak kesampaian kepada Dewi pembunuh?" tanya Dewi manyun.


"Ini beda Dewi, aku rasa perasaan ku pada Dewi pembunuh itu hanya perasaan suka, tapi kalau bersama mu, itu adalah perasaan ingin memiliki. Ya sudah, kamu pergilah mandi, aku akan telpon asisten ku untuk membeli pakaian untukmu," ucap Zeiro mencium kening Dewi lalu meninggalkan Dewi di dalam kamar.


Dewi mematung sesaat, jika di dilihat dari wajahnya, Zeiro benar-benar kesepian. Dia memang seorang yang berkuasa, tapi tak semua orang ia percayai. Setiap orang pasti membutuhkan tempat sandaran di saat ia dalam masalah, kesepian, dan tempat ia meluahkan isi hatinya.


"Ya sudahlah, aku lebih mandi dulu," ucap Dewi membuka bajunya lalu masuk ke dalam kamar mandi dan merendamkan tubuhnya di air hangat.


Zeiro pun menelpon asistennya untuk membelikan pakaian untuk Dewi.


"Dewi, aku akan membantu mu sampai akhir, sampai kau membuka hatimu untukku, aku sangat ingin bisa memeluk mu setiap hari dan melihat mu saat di pagi hari dan terus menemaniku di setiap hari ku."


"Ini Tuan, pakaiannya," ucap asisten itu memberikan paper bag kepada Zeiro. Zeiro menerimanya lalu membawanya ke kamar Dewi.


Tin!


Sidik jari terdeteksi, pintu pun terbuka.

__ADS_1


"Apa Dewi masih mandi?" tanya Zeiro meletakkan baju itu di atas kasur. Ia pun keluar dari kamar dan menuju kamarnya.


Setelah selesai mandi, Dewi mendapati bajunya sudah ada di atas kasur, Dewi pun memakai baju itu.


Baju yang di belikan oleh Zeiro adalah Dress yang panjang sebetis tapi di depannya pendek di atas lutut. Lengan pendek berwarna biru laut cerah, sangat cocok dengan kulit Dewi yang putih.


Setelah memakainya, Dewi keluar dan ternyata Zeiro sudah ada di depan dengan jas lengkapnya berdiri menghadap ke depan.


Dewi berjalan mendekati Zeiro dan berdiri di sampingnya sambil melipat tangannya.


"Apa lagi yang kamu tunggu?" tanya Dewi melihat ke arah mobil Zeiro.


"Tentu saja menunggu kamu, ya sudah, kita sarapan dulu, setelah itu kita akan ke kantor ku, kita akan menemui pria yang akan membeli aset mu itu," ajak Zeiro menarik tangan Dewi membawanya masuk ke dalam mobil.


Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil, Zeiro menghidupkan mesin mobilnya dan kemudian melajukan mobilnya di jalanan.


"Itu … kau … tidak pernah punya pacar kah?" tanya Dewi memulai pembicaraan.


"Tidak, tidak ada yang menarik di mata ku meskipun mereka memakai pakaian sek si sekalipun," jawab Zeiro.

__ADS_1


"Kan wanita banyak yang mengantri di belakang mu, baik itu kalangan atas sampai kalangan bawah, semuanya seperti menempel kepada mu, masa satu pun tidak ada kau minati."


"Tidak, tidak sama sekali, semuanya tidak ada yang menarik seperti mu, mereka itu selain melihat ketampanan ku, mereka juga menginginkan harta dan kepopuleran ku."


__ADS_2