
"Ck! Aku berbaik hati memperingatkan mu, jika kau tidak ingin mati lebih baik lepaskan dia," ingat Zeiro.
"Ah! Apa peduli mu! Kau lebih baik menyerahkan diri saja, atau aku akan membunuh orang yang kau cintai ini!" ancam pria itu.
Tangan pria yang memegang pisau di lehernya, Dewi menariknya lalu membalikkan tubuh pria itu hingga ia terjatuh.
Krak! Krak! Krak!
3 patahan tubuh pria itu terdengar menyilukan. Temannya yang dua orang itu sangat terkejut, hanya dalam hitungan beberapa menit saja, temannya itu mati di tempat dengan suara tulang yang di patahkan.
Mereka pun melarikan diri, dengan cepat Dewi menendang bokongnya hingga terjatuh. Dewi pun langsung meninjunya hingga pria itu pingsan. Zeiro menangkap yang satunya juga lalu menghantamnya. Pria itu juga pingsan.
"Kerja sama yang mantap," ucap Zeiro mengacungkan jempol.
"Kerja sama apa? Aku menghabisi 3 orang, kau cuma 1," ucap Dewi nyelonong masuk mobil.
"He-he-he, kau lebih cocok di panggil Dewi pembunuh," ucap Zeiro juga ikut masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Perlahan-lahan mobil pun kembali melaju dan membiarkan para pria itu di jalanan.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di pegunungan, di sana ada tangga untuk naik ke atas, dan di atas sana juga ada di buatkan seperti balkon dari bibir tebing dari batu dan di beri pagar.
Mereka berdiri di dekat pagar itu sambil melihat bintang yang gemerlapan di langit.
"Bagaimana? Apa cukup indah?" tanya Zeiro.
"Hm … Lumayan." angguk Dewi.
"Lumayan? Yang luar biasa itu seperti apa?" tanya Zeiro.
"Baiklah, akan ku siapkan untuk mu," ucap Zeiro. Dewi menekuk alisnya, apa beneran pria ini akan mengambil bintang di langit sedangkan ia hanya bercanda.
Triring! Triring! Triring!
Ponsel milik Dewi berbunyi, Dewi melihat di sana hanya nomor baru dan bukan nomor berasal dari negara A, lalu siapa yang menelponnya.
__ADS_1
"Halo," jawab Dewi.
"Maaf, apa ini bersama Nona Dewi Larasati?" terdengar suara seorang wanita.
"Ya saya sendiri, ini dengan siapa?" Dewi balik bertanya.
"Ini saya dari kepolisian negara Q, berhubungan kasus Andika. Dia akan di sidangkan beberapa hari lagi," ucap polis itu. Dewi terdiam sejenak.
"Baiklah, aku akan berangkat ke Negara Q besok," jawab Dewi.
"Baik Nona, di tunggu," ucap polwan itu.
"Kau kembali ke negara Q?" tanya Zeiro yang mendengar percakapan Dewi lewat telpon.
"Iya, akan di adakan sidang beberapa hari lagi, aku harus menghadirinya. Jadi, aku akan berangkat besok. Bukannya kau juga akan pergi ke luar negeri untuk perjalanan bisnis mu? Jadi setidaknya kita punya kesibukan masing-masing," ucap Dewi.
"Haishh … kenapa sih kita baru pacaran beberapa menit, sekarang malah terpisah dengan jarak yang cukup jauh. Kau selalu ingat ya, bahwa cincin di jari manis mu ini adalah mewakili hati ku untuk mu, jadi di mana pun kau berada, di sana ada aku," ucap Zeiro memegang tangan Dewi dan memegang cincin berlian yang terpasang indah di hari manis Dewi sambil tersenyum getir.
__ADS_1
"Kenapa kau terlihat sedih, kita juga tidak berpisah lama," ucap Dewi.
"Meskipun begitu, aku pasti akan merindukan mu di sana, oh ya besok aku akan mengantarkan mu terlebih dahulu ke negara Q," ucap Zeiro menatap Dewi.