
Dewi pun menyebrang ke seberang dan masuk ke dalam restoran itu.
"Selamat datang Nona, silakan duduk," ucap pegawai restoran itu ramah.
Dewi pun duduk di meja restoran tersebut.
"Silakan Nona mau pesan apa?" tanya salah satu pegawai mendekati Dewi dan memberikan buku menunya.
Dewi menerimanya dan melihat menu makanan apa yang akan ia pilih. Aku mau salad sayur dengan ikan Salmond," pesan Dewi.
"Baik Nona, harap tunggu sebentar," ucap pegawai restoran itu. Dewi mengangguk.
Pegawai itu pun pergi untuk memesankan pesanan Dewi kepada para koki. Dewi melihat tv besar yang di sana ada berita tentang Andika yang akan di penjara seumur hidup.
"Rasakan itu, dia berani ingin mencuri harta milik Dewi pembunuh akhirnya dia kena batunya," ucap salah satu warga yang sedang makan di sana bersama teman-teman kantornya.
"Benar, sayang sekali malah Dewi pembunuh sudah meninggal," ucap mereka.
"Tapi sekarang bukankah sudah ada ahli waris sah Dewi pembunuh kan? Dia juga tidak kalah cantik dengan Dewi pembunuh, jika ingin bertemu dengannya aku ingin mengajaknya berfoto," ucap pria yang lain.
__ADS_1
Dewi langsung mengalihkan tempat duduknya dan menundukkan kepala agar mereka tidak menyadari keberadaan dirinya, jika tahu maka akan ribet hidupnya. Ia mengambil tasnya dan menutup wajahnya dengan tas.
"Silakan Nona makanan Anda," ucap pegawai itu kepada Dewi.
"Iya." angguk Dewi. Dewi pun langsung melahap makanannya dengan cepat agar ia bisa pergi dari sana dengan secepat mungkin. Setelah makan Dewi pun buru-buru membayarnya dan ia pun keluar dari restoran tersebut.
Dewi berdiri di pinggir jalan dan menyetop taksi.
"Taksi!" panggil Dewi. Sebuah taksi mendekat, Sebelum masuk Dewi melihat sekilas ke arah restoran tersebut dan kemudian ia pun masuk ke dalam taksi.
"Bukankah dia adalah adik angkat Dewi pembunuh ayo kejar dia," ucap salah satu pria yang menyadari jika tadi adalah Dewi. Mereka pun berlari dan sayangnya taksi sudah melaju.
"Nona mau ke mana?" tanya supir taksi.
"Aku ingin ke rumah sakit kasih bunda," jawab Dewi.
"Baik Nona." angguk sang supir. Mobil terus melaju di jalanan. Dewi mengambil ponselnya dan melihat layar ponsel.
"Hm … seperti dia sedang sibuk, apa yang dia bahas sampai dia tidak memberi ku kabar?" tanya Dewi sambil berpikir melihat keluar jendela.
__ADS_1
"Argghhh … kenapa aku malah ingat dia, ah sudahlah!"
Perjalanan yang tak begitu lama, Dewi pun sampai di depan rumah sakit.
Dewi keluar dari taksi dan membayar ongkos taksi tersebut lalu ia pun menuju rumah sakit.
Dewi berjalan masuk ke dalam rumah sakit dan berhenti di depan pegawai yang sedang bertugas.
"Ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya pegawai itu.
"Aku ingin bertemu dengan pasien yang bernama Mei, tapi saya dengar dia masuk rumah sakit jiwa, kira-kira di ruangan mana ya?" tanya Dewi.
"Oh, sebentar ya Mbak," ucap pegawai itu melihat di layar komputernya untuk mencari nama Mei.
"Oh ya Mbak, dia ada di ruangan 17," ucap pegawai itu.
"Oh baiklah kalau begitu, terima kasih banyak," ucap Dewi.
"Sama-sama." angguk pegawai itu tersenyum ramah.
__ADS_1