Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
bab 59


__ADS_3

Tak lama kemudian mereka pun sampai di mall, Dewi keluar dari mobil dan masuk ke dalam mall yang di ikuti Zeiro.


"Kau kenapa mengikuti ku? Setahuku pria tidak suka berbelanja," ucap Dewi dengan mata yang menyapu seluruh mall itu berpikir apa yang harus ia beli.


"Dulu aku nggak suka, berbelanja, tapi sekarang aku suka," jawab Zeiro tersenyum.


"Sejak kapan?"


"Saat ini," jawab Zeiro. Dewi langsung manyun.


Dewi pun berjalan menuju tempat penjual baju anak-anak, lalu ia pergi tempat penjualan mainan. Barulah ia pergi membeli baju untuk dirinya sendiri.


"Kamu punya anak?" tanya Zeiro.


"Apa aku sudah terlihat seperti sudah menikah?" tanya Dewi sambil memilih baju.


"Iya, seperti sudah menikah dengan ku," jawab Zeiro yang langsung kabur dari pada lehernya di patah oleh Dewi.


"Cepat sekali kaburnya, aku juga tidak akan ngapa-ngapain dia juga, sayangkan bank duitku mati begitu saja," ucap Dewi. Dewi pun sibuk memilih pakaiannya.


Di seberang sana, Zeiro sedang memilih jas untuknya. Setelah selesai memilih baju, Dewi langsung menuju kasir. Ia langsung membayarnya lalu menuju mobil milik Zeiro.

__ADS_1


Zeiro juga membawa barang-barangnya masuk ke dalam mobilnya.


“Antarkan aku ke panti asuhan dulu,” pinta Dewi sambil memakai sabuk pengamannya.


“Oh jadi baju-baju ini kau berikan pada mereka ya? Aku pikir kau gunakan untuk baju anak kita,”ucap Zeiro.


“Hey! Kau jangan bercanda, atau aku benar-benar akan mematahkan leher mu,” ancam Dewi.


“Sudah ku duga,”  ucap Zeiro manyun.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di depan panti asuhan, Dewi membawa barang-barang itu keluar dari bagasi mobil. Panti asuhan ini adalah tempat ia sering memberi sumbangan, anak di sini juga sudah mengenalnya, mereka sangat menyayangi Dewi pembunuh, Dewi juga baik dan sayang dengan mereka.


`Sayang sekali ya,aku datang dengan wajah berbeda. Jika tidak mereka pasti akan sangat senang,` batin Dewi tersenyum kecut.


Mereka berdua pun menuju panti itu dan Dewi mengetuk pintu.


“Permisi!” panggil Dewi dari balik pintu.


“Sebentar.” Terdengar suara dari dalam mendekati pintu lalu membuka pintu.


Cklek!

__ADS_1


Pintu pun terbuka, terlihat seorang wanita paruh baya keluar dengan penutup kepalanya.


“Silakan masuk Nona, Tuan,” ucap wanita paruh baya itu yang berjabat sebagai kepala di panti itu. Zeiro dan Dewi masuk  ke dalam dan mereka pun di persilakan untuk duduk di sofa.


“Maaf Nona, Tuan, anak-anak sudah tidur, mereka tidak bisa menyambut kalian,”ucap kepala panti itu sambil tersenyum.


“Tidak apa-apa buk, biarkan saja mereka beristirahat. Oh ya, ini ada sedikit pakaian dan mainan untuk anak-anak, semoga saja mereka suka,” ucap Dewi.


“Wah, terima kasih banyak Nona, Tentu saja mereka suka sekali, sekarang sudah jarang ada yang ngasih, selain pejabat yang sedang cari suara atau bantu atas jabatan mereka. Biasanya yang selalu memberi begini adalah Dewi pembunuh, sayang sekali dia sudah pergi untuk  selama-lamanya. Tapi ke datangan Nona hari ini dan membawa mainan seperti ini mengingatkan aku pada Dewi pembunuh, bahwa anak-anak sangat senang mainan seperti ini, biasanya mereka pasti akan membawanya tidur.” terlihat di wajah wanita paruh baya itu sangat sedih hingga matanya berkaca-kaca.


Dewi dan Zeiro terdiam melihat ke arah ibu itu yang terasa air matanya menetes.


Anak-anak sangat sedih atas kepergian Dewi pembunuh, mereka kehilangan sosok yang benar-benar menyayangi mereka dengan tulus, ia berbagi bukan karena ada maunya, tapi ia memang ingin berbagi. Tidak seperti para pejabat, pas saat mereka ingin mencalonkan diri barulah mereka datang untuk meminta doa, setelah menjadi pejabat mereka hilang bagai  di telan bumi.


“Setelah tau jika Dewi pembunuh meninggal dunia, anak-anak sangat sedih, mereka bahkan tidak mau makan, ada juga yang ingin pergi langsung ke rumah Dewi  untuk memastikan jika itu hanyalah bohong, tapi setelah seminggu kemudian setelah di bujuk dengan berbagai cara, barulah mereka kembali seperti semula, tapi sebagian yang masih terbawa mimpi memanggil-manggil nama Dewi pembunuh, setidaknya itu bisa membuat kami tenang sedikit,”ucap ibu itu menyeka air matanya.


Mendengar itu, Dewi merasa sedih,  ia juga mau bagaimana lagi agar anak-anak tidak merasa kehilangan, ia berharap itu semua cepat berlalu, dan berharap ada orang kaya yang menyumbang sebagian hartanya untuk panti ini tanpa minta pamrih  apa pun.


“Ibu yang sabar ya, doakan semoga ada Dewi pembunuh ke dua, karena Dewi pembunuh itu tidak kuat, hanya saja ia mempunyai hati yang tulus, makannya ia menjadi kuat karena doa dari anak-anak,”ucap Dewi tersenyum.


Ibu itu mengangguk setuju. “Semoga Dewi tenang di alam sana dan selalu bahagia, kami di sini selalu mendoakan yang terbaik untuk Dewi kami.”

__ADS_1


“Oh ya, ini ada sedikit uang di kartu ATM, tidak banyak, setidaknya bisa membantu untuk anak-anak,”ucap Dewi memberikan kartu ATM yang di berikan Zeiro kepada kepala panti.


__ADS_2