Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 122


__ADS_3

Pemandangan itu sungguh sangat indah, orang-orang melihat dan mereka pun berfoto di sana. Dewi tidak tertarik untuk berfoto, ia hanya melihat matahari itu tenggelam dengan sendirinya.


Tak terasa malam tiba-tiba saja menghampiri dan suasana kota menjadi gelap yang di terangi oleh lampu-lampu yang sangat indah, udara juga sudah mulai sejuk dan angin sepoi-sepoi juga berhembus membuat rambut Dewi melambai-lambai.


Seorang pria mendadak memberikan jasnya di punggung Dewi, Dewi melihat pria itu yang sudah ada di sampingnya melihat ke bawah, kota yang indah itu.


"Ambil kembali jas mu, aku tidak membutuhkannya," ucap Dewi mengulurkan jas pria itu kepada pemiliknya.


"Pakai saja, nanti kau masuk angin," ucap pria itu tidak menerima pemberian Dewi.


"Aku bukan wanita lemah." Dewi meletakkan jas itu di atas pagar pembatas balkon.


"Sekali pun kau tidak lemah tapi kau tetap wanita, tubuh wanita dan pria itu berbeda, sekuat apa pun wanita pasti ada kelemahannya," ucap pria itu melihat ke arah Dewi sambil tersenyum.


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, dan juga jangan sok akrab dengan ku, kita tidak saling mengenal," ucap Dewi balik badan dan pergi meninggalkan pria itu.


Akan tetapi pria itu memegang tangan Dewi membuat Dewi menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Pria itu langsung menarik tangan Dewi dan membawanya masuk ke dalam kamarnya, lalu mengunci pintu kamar itu.


Dewi menekuk alisnya melihat perlakukan pria itu.


"Untuk apa kau membawaku ke dalam kamar mu?" tanya Dewi tenang.


"Dari tadi aku terus memperhatikan mu, kau sangat cantik. Rasanya aku sangat menginginkan mu. Temani aku malam ini, maka aku akan memberikan apa yang kau mau," ucap pria itu mendekati Dewi secara perlahan-lahan.


Biasanya jika ada seorang pria yang mendekat, wanita akan berjalan mundur, Dewi melipat tangannya sambil menunggu pria itu mendekat.


Setelah pria itu mendekat dan memegang bahunya, pria itu ingin menjatuhkan Dewi ke kasur, akan tetapi sedikit pun tidak bergerak. Ia mencobanya lagi mendorong Dewi ke atas ranjang, tapi hasilnya tetap sama, sedikit pun Dewi tak bergerak.


"Kau bilang aku punya kelemahan, aku saja tidak tahu apa kelemahan ku, kecuali pria itu," ucap Dewi meninggalkan pria itu yang sedang memegang anunya yang sangat sakit.


"Kau … kau harus bertanggung jawab jika aku tidak punya keturunan!" teriak pria itu meringis kesakitan.


"Kenapa minta pertanggung jawaban dari ku? Siapa suruh kamu yang kurang ajar pada ku," ucap Dewi tersenyum sinis dan keluar dari kamar tersebut.

__ADS_1


"Hey! Tunggu!" teriak pria itu lagi.


Dewi tidak mempedulikannya dan membiarkan pria itu kesakitan, Dewi pun kembali menuju kamarnya.


"Sial! Wanita ini sungguh lain dari yang lain, siapa dia sebenarnya? Dia sangat terlatih seperti tentara, apa jangan-jangan dia adalah … pembunuh bayaran?" tebak pria itu.


Dewi masuk kemar dan merebahkan dirinya. Baru saja berbaring ponsel miliknya berbunyi.


Triring! Triring! Triring!


"Halo," jawab Dewi.


"Kamu di mana sekarang?" tanya Zeiro.


"Di hotel," jawab Dewi. Zeiro pun mengalih panggilan video. Dan terlihatlah wajah Dewi yang cantik itu.


Mendadak terdengar dari luar ada suara pria berteriak.

__ADS_1


"Tolong! Ada pembunuh bayaran!" teriak pria itu dengan kencang.


__ADS_2