Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 24


__ADS_3

"Hm … aku hanya ingin melihat mereka apa berubah atau tidak," ucap Dewi beralasan sambil melihat ke samping tidak mungkin kan dia mengatakan Jika dia yang saat ini bukanlah Dewi Nona rumah ini melainkan orang jauh di negeri seberang.


"Tapi lihatlah pada kenyataannya mereka sama sekali tidak berubah dan terus menyiksa Nona. Apa jangan-jangan selama ini Nona menyembunyikan kekuatan Nona ya?" tanya Bibi penasaran.


"Boleh dikatakan seperti itulah," jawab Dewi mengangguk pelan.


"Wah sama siapa nona belajar?" tanya Bibi dengan mata berbinar.


"Aku belajar sendiri di dalam kamar melalui internet," jawab Dewi ngasal.


"Oh begitu ya ternyata belajar sendiri juga bisa ya," ucap Bibi bangga.

__ADS_1


"He-he-he, kira-kira seperti itulah," jawab Dewi tidak tega membohongi sang Bibi.


"Ya udah Bibi, aku masuk ke kamar dulu." Dewi mengambil gelas di atas meja lalu meneguk jus itu sampai habis dan ia pun berjalan keluar dari dapur.


Terlihat sebuah mobil menuju rumahnya Anita cepat-cepat naik ke dalam mobil dan mobil itu meninggalkan rumah secepat mungkin.


"Kenapa mobil mu masih ada di kampus? Bukannya kamu bilang dibawa oleh Dewi?" tanya Luna.


Dewi duduk di sisi ranjang.


"Besok adalah keberangkatan ku, mereka tidak perlu aku beri tahu jika aku pegi, rasanya aku sangat senang aku besok akan pergi dan melihat mereka lagi. Andika, aku sangat merindukan mu." Dewi baring di kasurnya sambil meringkukkan tubuhnya di kasur, ia benar-benar sangat merindukan sang pacar.

__ADS_1


Dewi kembali bangun. "Aku harus pergi ke stadion untuk melihat apa yang mereka lakukan," ucap Dewi berdiri, ia mengunci pintu lalu terjun ke bawah.


Dewi meraton menuju stadion melalui ingatan pemilik tubuh asli.


Sesampainya di sana, Dewi menjauhi orang-orang agar mereka tidak melihatnya, ia melihat di sana ada mobil Anita terparkir. Dewi memanjat sebuah Gedung dan naik di atasnya, ia berlindung di balik seng yang copot dan ia menekuknya.


Terlihat mereka sedang mengotak Atik sebuah motor, dan hanya satu motor itu saja mereka otak-atikkan, juga terlihat Anita dan pria yang lain sedang menabur sesuatu di jalan yang akan di lewati untuk balapan malam nanti.


Karena jauh, Dewi tidak melihat mereka sedang menabur apa, tapi Dewi mengingat sampai mana batas mereka menaburnya.


"Mereka benar-benar ingin mencelakai ku ya, lihat saja nanti, siapa yang akan mencelakai siapa," ucap Anita tersenyum sinis.

__ADS_1


Setelah mereka rasa sudah selesai, Anita dan yang lain berkumpul, mereka juga sudah menonaktifkan kamera cctv di stadion, agar nanti tidak ada bukti yang tertinggal.


__ADS_2