Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 79


__ADS_3

"Ya, kau sangat berbeda, meskipun kau ingin, tapi kau bisa menahannya." perlahan-lahan Zeiro mendekati Dewi dan menatap Dewi penuh cinta.


"Hey! Kau! Lebih baik menjauh, aku akan memukul mu dengan gayung ini!" seru Dewi mengangkat gayungnya.


"Hm … bagaimana jika kita bersenang-senang malam ini." antara Zeiro dan Dewi sangat dekat, dan Zeiro memajukan lagi wajahnya ke hadapan Dewi dan itu hanya berjarak 3 cm.


Dewi terdiam dan menatap Zeiro. Sedangkan Zeiro tangannya memegang pinggang Dewi, sedangkan tangannya yang satu lagi ingin membuka handuk Dewi yang menggantung di dadanya. Zeiro mendekati wajah Dewi pelan-pelan dan ingin menciumnya.


Gedubrak!


Dewi menendang Zeiro hingga ia mendarat di atas kasur.


"Dasar Brengsek! Semua pria itu sama saja! Benar-benar menyebalkan! Dasar pria mesum!" denggus Dewi kesal, ia kembali masuk ke kamar mandi dan berganti pakaian.


"Dia sangat sulit di dekati, tapi aku suka." Zeiro tersenyum, terlihat sudut bibir kirinya naik ke atas.


Dewi keluar dari kamar mandi dengan wajah kesalnya.

__ADS_1


"Kalau begitu kau tidurlah di sini, aku mau tidur di tempat lain saja." Dewi keluar dari kamar itu dan mencari tempat tidur yang lain.


Dewi membuka satu persatu pintu itu tapi tidak ada yang terbuka, semuanya terkunci.


Zeiro membuka celananya dan memakai handuk, ia turun ke bawah dan mendapati Dewi sedang membuka pintu tapi tidak bisa.


Terlihat Dewi mundur kebelakang dan ia sudah bersiap menendang pintu kamar itu.


"Hey! Apa yang kau lakukan!" teriak Zeiro membuat Dewi berhenti dan tidak jadi menendang pintu itu.


"Pantas saja kamar tadi terbuka padahal sudah ku kunci, ternyata kau membukanya dengan sidik jari mu, kalau begitu aku sungguh tidak aman tidur di sini," uap Dewi menatap Zeiro sayup.


"Tenang, aku tidak akan mengganggu mu, tidurlah," ucap Zeiro.


"Hm … laki-laki mana ada yang bisa di percaya, di percaya juga akan berkhianat." Dewi melipat tangannya sambil membuang wajahnya ke samping.


"Kau seperti ini malah aku melihat bukan Dewi pembunuh yang di khianati Andika, tapi kamu yang lebih mirip di khianati Andika, atau jangan-jangan bahkan Dewi pembunuh berbagi cinta Andika dengan mu dan Andika mengkhianati kalian berdua?" tebak Zeiro.

__ADS_1


"Asumsi macam apa itu? Dah lah, aku mau tidur, aku harap kau tidak masuk dalam kamar ku tiba-tiba." Dewi menyelonong masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu dengan kuat.


Dewi merebahkan tubuhnya di kasur lalu memejamkan matanya.


****


Ke esokkan paginya.


'Ughhhh! Apa ini? Kenapa tubuhku berat sekali, seperti ada yang menindihnya? Akhh … mungkin aku kelelahan,' batin Dewi dengan keadaan mata terpejam.


Karena menurutnya tubuhnya kelelahan, ia pun melanjutkan tidurnya lagi. Ia harus benar-benar memfreshkan tubuhnya agar terasa sedikit ringan dan baru ia akan berendam dengan air hangat.


Beberapa saat kemudian.


'Tapi kenapa tubuhku masih terasa berat? Aku benar-benar merasa kelelahan atau ada hati yang menindih ku?' batin Dewi sebisa mungkin membuka matanya.


Setelah matanya terbuka, tangannya merasakan tubuhnya, ternyata berat hanya di bagian perutnya saja.

__ADS_1


__ADS_2