
Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi, menyalib mobil-mobil di depannya.
Tak lama kemudian, ia pun sampai di penginapannya, dan Dewi langsung berlari ke tempat penginapannya. Ia mengambil surat-surat yang ia ambil di brangkas waktu itu, ia membawanya semua dan masuk ke sam mobil Zeiro, kali ini ia duduk di kursi penumpang di belakang.
"Kamu yang setir ya, aku sedang memilah surat-surat mana yang harus aku keluarkan saat pers nanti," ucap Dewi.
"Baiklah, tapi nanti malam kau traktir aku makan," pinta Zeiro.
"Oke!" jawab Dewi singkat karena ia sibu dengan surat-suratnya. Kali ini ia benar-benar ingin bertekad untuk menghancurkan Andika, setelah ini ia hanya ingin hidup tenang, dan menikmati hidupnya.
'Hm … Andika, kau sangat keras kepala untuk mendapatkan harta warisan ku, aku akan mempermalukan mu di depan umum, kau pikir yang waktu itu aku beri adalah surat asli, itu hanya surat fotokopi karena yang asli ada di tanganku, aku hanya berpura-pura menjatuhkan surat ini di hadapan wartawan,' batin Dewi tersenyum sinis.
Surat wasiat sudah ada, surat kepemilikan juga sudah ada, dia melupakan sesuatu, Dewi mengambil kertas dan pena dari dalam tas miliknya.
__ADS_1
"Zeiro, bisakah berhenti sebentar?" pinta Dewi.
"Baiklah," jawab Zeiro mengangguk, ia menepikan mobilnya lalu memberhentikan secara pelan.
Dewi pun menulis, di sana ia menulis jika semua surat-surat warisan akan balik nama menjadi Dewi Larasati apa bila ada sesuatu kendala pada Dewi pembunuh.
"Selesai, silakan jalan kembali," ucap Dewi. Mobil pun perlahan-lahan melaju di jalanan.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan perusahaan Zeiro. Ya, di sana sudah banyak orang yang sedang berkumpul, terutama salah satu stasiun televisi swasta maupun lokal. Dan itu akan live secara langsung.
Zeiro dan Dewi masuk di kerumunan itu dan berdiri di depan orang banyak. Melihat Zeiro datang, semuanya langsung bersiap-siap dengan kameranya menghadap ke depan.
"Apa kamu siap?" tanya Zeiro menatap Dewi dengan tatapan penuh cinta, seperti mereka sedang di pelaminan.
__ADS_1
"Aku siap," jawab Dewi mengangguk mantap.
"Kamu jangan takut, ada aku di sini," ucap Zeiro tersenyum.
"Aku tidak takut, aku sudah terbiasa berdiri di keramaian," jawab Dewi enteng.
"Haishh, punya wanita kuat malah nggak bisa di manjain," omel Zeiro.
"Baiklah untuk semua pers yang hadir hari ini, ada sesuatu yang akan di sampaikan oleh wanita cantik di samping ku ini, silakan," ucap Zeiro mempersilakan Dewi untuk berbicara.
"Terima kasih saya ucapkan karena kalian semua hadir di sini, dan mau mendengarkan apa yang ingin aku sampai kan, baiklah tidak perlu berlama-lama lagi, aku akan memperkenalkan diri ku. Namaku adalah Dewi Larasati, aku adalah adik angkat dari Dewi pembunuh, ahli waris sah dari Dewi pembunuh, karena aku punya buktinya. Terutama buat kalian yang kenal dengan Dewi pembunuh, kalian juga kenal siapa Andika juga, dia adalah pacarnya Dewi pembunuh, tapi belum sampai sebulan Dewi pembunuh meninggal, Mei adik sepupu Dewi pembunuh sudah hamil 5 bulan dan mengakui jika itu adalah anak dari Andika, tolong kata apa ini semua? Ingat kalian saat siaran langsung beberapa minggu yang lalu dia mengatakan jika Dewi pembunuh akibat mati di sebabkan oleh bom, tidak kah kalian bertanya mereka tahu dari mana sedangkan saat kejadian itu mereka tidak ada di tempat," jelas Dewi panjang lebar.
"Benar juga ya, waktu siaran langsung itu Andika mengatakan jika di masih pacarnya Dewi pembunuh, tapi ada kabarnya jika Mei hamil, dan juga mengatakan Dewi meninggal akibat bom, dari mana dia tahu ya?" tanya mereka juga merasa ada yang ganjal dengan kejadian ini.
__ADS_1