Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 111


__ADS_3

"Untuk apa kau melakukan ini? Mengambil hati ku?" Dewi berjalan melewati Zeiro dan duduk di sisi ranjangnya.


"Aku tidak pernah melakukan ini pada wanita lain selain mu, aku hanya ingin memberikan yang terbaik saja untukmu berharap kau terima hadiah pindah rumah ini." Zeiro duduk di kursi meja rias yang ada di ujung ranjang Dewi.


"Kenapa tidak memberi tahu ku dulu?" tanya Dewi menekuk alisnya.


"Aku tadi menelpon mu dan ingin memberi tahukan kepada mu, tapi tidak kau angkat. Aku berpikir jika kau sibuk, ya sudah dari pada berlama-lama aku berinisiatif memasukkan saja barang-barang mu," jawab Zeiro enteng.


"Sudah selesai?" tanya Dewi.


"Ku rasa sudah, mungkin besok aku akan ke luar negeri, aku akan membawakan hadiah yang tidak di miliki orang lain," ucap Zeiro tersenyum.


"Jika sudah selesai, silakan pulang, aku mau istirahat," ucap Dewi merebahkan tubuhnya di kasur. Rasanya sangat lelah.


"Baiklah, baiklah, kamu tidurlah." Zeiro beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi keluar kamar, ia pun menutup pintu kamar Dewi.


Dewi pun memejamkan matanya, lagian hari juga sudah mulai memasuki sore dan tidak ada aktivitas lain lagi yang harus ia kerjakan.

__ADS_1


***


Tak! Tak! Tak!


Suara jarum jam yang berbunyi di kesunyian membuat suara jam sedikit lebih keras dari biasanya.


Dewi menutup matanya dengan kuat lalu membukanya. Di kamarnya sangat gelap karena lampu tidak ia hidupkan.


Dewi pun menghidupkan lampu tidur dan barulah sedikit terang.


"Ah, sudah jam 20:00 rupanya," ucap Dewi melihat jam ada di dinding yang remang-remang di Sinaro sedikit cahaya.


Pintu terbuka.


"Siapa?" tanya Dewi membalikan tubuhnya ke sampingnya itu. Pria itu tiba-tiba memeluknya.


"Kau … apa hobi mu sekarang suka memeluk ku?" tanya Dewi datar.

__ADS_1


"Ini bukan hobi, tapi kebutuhan. Aku membutuhkan pelukan mu untuk menambahkan energi agar aku bisa bekerja dengan semangat," sahut pria itu sambil memejamkan matanya menenggelamkan wajahnya di bahu Dewi.


"Ini sudah jam berapa, aku lapar, mau cari makanan dulu," ucap Dewi melepaskan tangan Zeiro.


"Oke, ayo kita makan ke restoran ku," ajak Zeiro bersemangat.


"Tidak, aku mau makanan yang di mask Bi Inah, dia pasti sudah masak," ucap Dewi berdiri dan mengambil handuknya dan menuju kamar mandi.


"Hm … itu … aku meminta Bi Inah tidak memasak, karena aku ingin mengajakmu makan di luar," ucap Zeiro mengangkat kedua alisnya, ia membuang wajahnya ke samping karena ia bakal tahu jika Dewi pasti memasang wajah jutek.


Dewi berhenti di depan pintu kamar mandinya dan benar saja, Dewi melihat ke arah Zeiro dengan tatapan membunuh.


"Aku keluar dulu ya, aku tunggu kamu di ruang," ucap Zeiro menunjuk ke arah pintu dan ia langsung kabur.


"Cepat sekali kaburnya, apa dia sudah mulai latihan lari cepat selama bersamaku?" Dewi masuk ke dalam kamar mandi dan ia segera mandi.


Setelah mandi, Dewi berdiri di depan lemari yang berbuka lebar. Di dalam tersusun rapi baju mahal desain dari pendesain terkenal.

__ADS_1


Dewi membuka lagi lemari sebelahnya, dan itu tersusun tas-tas branded. Dewi membuka lagi dan di tersusun di lemari, kira-kira ada 200 sepasang heels, sepatu ket dan sendal mungil.


"Dia ini benar-benar ingin memenuhi kamarku dengan barang-barang," ucap Dewi menatapnya datar.


__ADS_2