
Dewi mengendus kesal, ia masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu kamarnya lalu menghempaskan tubuhnya di kasur.
Di perjalanan, Zeiro tersenyum, rasanya juga salah tingkah. Ia tertawa jika tahu bagaimana ekspresi wajah Dewi besok, apa dia benar-benar akan mematahkan lehernya?
Dewi mengambil tissue basah lalu menyekanya dengan kuat hingga kulitnya berubah menjadi merah. Tak puas dengan itu, Dewi pun segera membuka pakaiannya dan segera mandi.
"Zeiro itu beraninya dia mencium ku! Aku benar-benar kesal di buatnya!" ucap Dewi mengambil sabun dan membersihkan bekas yang di cup oleh Zeiro.
Ke esokkan harinya, Dewi memakai pakaian dress yang tidak pernah ia pakai di saat ia masih menjadi Dewi pembunuh, biasanya dia sering memakai celana yang di desain oleh desainer terkenal. Tapi sekarang ia malah memakai dress, dan dengan tubuh ini ia terlihat benar-benar wanita cantik.
Tok!
Tok!
Tok!
__ADS_1
Sebuah pintu di ketik dari luar. Dewi berjalan ke depan pintu, karena ia yakin, siapa lagi yang suka mengetuk pintu selain Zeiro.
Saat membuka pintu, hampir saja Dewi menunjang pria pengantar makanan itu karena ia berpikir jika dia adalah Zeiro.
"Nona ampun Nona, saya tidak berbuat salah, saya hanya di suruh Tuan Zeiro mengantarkan makanan untuk Nona," ucap pria pengantar makanan itu berjongkok sembari menutup wajahnya.
"Oh kamu ya, aku pikir Zeiro yang datang, kenapa tidak dia sendiri yang mengantarnya?" tanya Dewi mengambil kotak makanan yang di peluk pria itu.
"Katanya biar romantis," jawab pengantar makanan itu juga bingung, justru romantis itu jika dirinya sendiri yang datang mengantar makanan sambil bawa buket bunga agar orang yang dia sukai akan senang.
"Baik Nona, saya permisi dulu," ucap pria itu menundukkan kepala memberi hormat dan ia pun pergi.
Dewi membawa masuk kotak makanan itu dan menaruhnya di meja, ia pun membuka kota makanan itu, seketika wajah Dewi berubah manyun melihat sebuah bunga mawar di dalam box makanan itu dan bertuliskan.
__ADS_1
"**Selamat pagi, habiskan makanannya, setelah pengambilan penghargaan, aku akan bawa kamu ke suatu tempat**"
"Beh! Dia ingin membujuk ku?" Dewi melemparkan bunga dan tumisan itu ke tong sampah lalu melahap sarapan paginya dengan lahap, karena ia juga sudah lapar.
Setelah menghabiskan makanan, Dewi keluar dari kamarnya lalu berjalan melewati lorong untuk menuju gedung pertandingan karena hari ini masih di adakan pertandingan. Meskipun Dewi adalah pemenangnya, setidaknya negara lain tidak ingin pulang dengan tangan kosong karena meski pun seluruh peserta dari berbagai negara sudah di kalahkan Dewi.
Para penjaga tempat itu menundukkan kepala memberi hormat dan saat Dewi maju beberapa langkah ternyata Zeiro ada di sana sedang menunggunya.
Wajah pria tampan itu tersenyum dan menyambut Dewi dengan mengulurkan tangan.
"Beraninya kau menemui ku! Masalah kita belum selesai," ucap Dewi menatap tajam Zeiro.
"Ayolah, di tempat ramai seperti ini kamu tidak mungkin akan benar-benar mematahkan leher ku kan?" ucap Zeiro merangkul Dewi dan memeluk pinggang Dewi layaknya pasangan serasi.
__ADS_1
"Brengsek! Lepaskan tangan busuk mu itu, sebelum aku mematahkan seluruh jari-jari tangan mu," ancam Dewi.