Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 65


__ADS_3

"Apa kau bilang! Masalah tadi malam saja aku belum perhitungan dengan mu lagi, dan sekarang kau meminta lagi, apa kau benar-benar ingin nama mu ada di batu pusaran?" Dewi membelalakkan matanya.


"Ayolah, aku mendapatkan ini tidak mudah, harus melalui tahap-tahap yang sulit," ucap Zeiro dengan wajah sedikit memelas seolah-olah dia benar mengalami masa sulit.


"Heh! Memangnya aku percaya dengan ucapan mu itu, dengan identitas mu saat ini itu tidak sulit untuk kau mendapatkannya, cepat berikan," paksa Dewi.


"Mana bisa aku berikan begitu, kau harus memenuhi keinginan ku dulu," ucap Zeiro tak mau kalah.


"Itu, ambil saja penghargaan itu sebagai gantinya," ucap Dewi menunjuk ke arah penghargaannya itu.


"Mana bisa aku menerima itu, kan sudah di bilang itu hanya penghargaan yang di berikan kepada pemenang, jika ada di tempat lain itu pencurian atau palsu," jawab Zeiro menyengir.


"Nggak mau ya sudah, aku bisa ambil sendiri nanti," ucap Dewi ngambek.


"Sana kamu ambil, itu sudah di hapus dari rekaman," ucap Zeiro tertawa.


"Brengsek! Kau sengaja melakukannya kan? Cepat berikan aku rekaman itu," pinta Dewi lagi.


"Baiklah, baiklah, aku akan memberikannya," ucap Zeiro mengeluarkan ponselnya dan menyerahkan kepada Dewi.


Dengan tersenyum Dewi menerimanya, baru saja ia mengulurkan tangannya, Zeiro menarik kembali ponselnya.

__ADS_1


"Kalau kau mau aku harus dapat imbalan donk, masa aku kerja tanpa pamrih." Zeiro melebarkan senyumnya.


"Lalu kau ingin apa? Jangan bilang kau ingin mencium ku?" tebak Dewi menatap Zeiro sayup.


"Tidaklah, aku masih sayang nyawaku kok, aku hanya ingin mengelus rambutku saja," ucap Zeiro melihat rambut Dewi yang lurus tergerai.


Dewi merampas ponsel di Zeiro, Zeiro tersenyum dan mengelus rambut Dewi.


"Kau jangan sampai merusak rambut ku atau aku akan membangkrutkan perusahaan mu untuk aku ke salon," ucap Dewi yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Aku juga tidak akan merasa dirugikan asalkan itu kamu," jawab Zeiro tersenyum.


"Huh! Menyebalkan. Ini ponsel mu." Dewi mengembalikan kembali ponsel milik Zeiro.


"Hey! Berhenti melakukannya!" Dewi menepis tangan Zeiro. "Kau lama kelamaan semakin berani aja ya," ucap Dewi mendengus kesal.


Mobil pun melaju di jalanan dan tak lama mereka pun sampai di kantor polisi.


Dewi turun dari mobil dan menuju kantor polisi dan di ikuti oleh Zeiro.


"Nona, ingin bertemu dengan Tuan Andika?" tanya polisi itu.

__ADS_1


"Jangan panggil dia Tuan, dia itu hanyalah pencuri, dan karena Dewi pembunuh juga sudah tidak ada, dua itu bukan siapa-siapa lagi," ucap Dewi mengingatkan.


"Baiklah Nona," angguk polisi itu.


Polisi itu pun membawa Dewi ke ruang tahanan di mana Andika berada.


Saat melihat Dewi, Andika langsung pasang mata membunuhnya. Sedangkan Dewi menyunggingkan senyumnya.


"Bagaimana? Enak di penjara?" tanya Dewi menyengir.


"Memangnya hanya dengan begini kau bisa memenjarakan ku, aku kenal banyak pengecara hebat, dan aku bisa mengambil kembali harta Dewi pembunuh itu," ucap Andika dengan mata yang terpancarkan kemenangan.


"Oh ya? Kau pikir aku membiarkan mu mengambil harta milik Dewi pembunuh begitu saja, aku punya segala cara untuk membuatmu menghilang di muka bumi, dan lagi, kau jangan berpikir setelah menjadi kekasih Dewi kau merasa hebat, orang-orang juga sudah tau kebusukkan mu itu. Kau juga bukan siapa-siapa tanpa Dewi pembunuh, kekuatan tidak ada apa lagi kekayaan, kau hanyalah gembel yang di pungut Dewi pembunuh di selokan, jadi apa kau pantas mendapatkan harta Dewi? Kalau hanya hewan peliharaan tetaplah menjadi penurut dan tidak memintanya lebih," ucap Dewi.


"Sial! Aku tidak akan kalah dengan mu!" teriak Andika menghentakkan tangannya di atas meja dengan kuat.


"Jangan melakukan hal lebih, atau kau akan kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup mu," ucap Dewi memperingatinya.


"Apa yang aku takutkan, kau hanya punya selembar surat wasiat yang entah dapat dari mana itu, selama ini aku sudah mengolah harta milik Dewi, jadi aku tau apa yang harus aku lakukan, dan asal kau tau, sebagian pemegang saham di perusahaan kecil milik Dewi itu sudah berpihak kepadaku, kau tidak akan mendapatkan sepeserpun sekali pun kau punya surat wasiat itu," ucap Andika dengan mata yang berapi sambil tersenyum sinis.


"Aku bisa melakukannya, aku bisa menarik pemegang saham yang berpihak kepada mu menjadi milik ku, aku juga bisa membangkrutkan perusahaan milik Dewi dan juga bisa membangunnya dengan ulang di bawah kekuasaan ku, apa kau lupa aku berada di pihak siapa." Zeiro angkat bicara.

__ADS_1


Andika benar-benar gusar di buatnya, ia lupa jika Zeiro berada di pihak Wanita yang ada di hadapannya itu, Zeiro bisa melakukan apa pun dengan kekuasaannya. Siapa yang tidak mau bekerja sama dengan pria yang terkenal dengan bisnisnya yang mendunia itu, orang gila yang tidak mau, orang bodoh saja mau kalau di beri keuntungan.


__ADS_2