Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 52


__ADS_3

"Kalian bawa mereka ke tempat perkumpulan kita, malam ini aku akan mengintrogasinya," ucap Zeiro.


"Baik Tuan," angguk pengawalnya. Mereka memanjat pohon lalu menurunkan pria yang ada di atas pohon itu ke bawah lalu membawanya masuk ke dalam mobil.


"Ayo masuk," ajak Zeiro. Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil.


"Nanti malam kamu ikut aku?" tanya Zeiro.


"Ke mana?" tanya Dewi melihat ke arah Zeiro.


"Mengintrogasi orang yang kau pukul tadi, mungkin setelah melihat mu dia akan langsung memberi rahasianya."


Mobil terus melaju dan mereka pun sampai di tempat penginapannya.


"Nanti malam aku jemput kamu ya," ucap Zeiro tersenyum lalu meninggalkan Dewi.


Dewi balik badan berjalan menuju kamarnya. saat sampai di depan pintu ia memegang gagang pintu dan berhenti sejenak.


"Hm … aku tidak mungkin duduk diam saja, aku harus pergi ke rumah ku untuk melihat-lihat." Dewi melepaskan gagang pintu lalu ia pun pergi meninggalkan kamarnya.


Dewi berjalan ke jalanan dan menghentikan sebuah taksi.


"Taksi!" panggil Dewi. Sebuah Taksi berwarna kuning berhenti di hadapan Dewi, ia pun segera menaikinya.

__ADS_1


"Mau ke mana Nona?" tanya pengemudi taksi.


"Ke jalan Raya Merah," jawab Dewi.


"Baik Nona," angguk supir taksi. Mobil pun melaju di jalanan.


"Maaf Nona, Anda pergi ke Raya Merah bukannya itu adalah tempat tinggal Dewi pembunuh ya? Ada apa Anda ingin ke sana?" tanya supir taksi penasaran, dari yang ia tahu, tempat itu tidak bisa di datangi oleh sembarangan orang.


"Hm … itu, aku adalah adik angkat Dewi pembunuh dari negara A," jawab Dewi mencoba tersenyum meskipun itu hanya di buat-buat.


Wajah supir itu berubah, karena akhir-akhir ini sering ada orang yang mengaku-ngaku sebagai adik angkatnya, saudaranya, keluarganya dan ada juga yang mengaku-ngaku sebagai gurunya, tapi kenapa saat masih hidup tidak tahu jika ada keluarga seperti mereka.


"Pak, tolong berhenti di sebuah toko buku," pinta Dewi.


Pak supir berhenti di sebuah toko buku, Dewi pun keluar untuk membeli kertas HVS dan pulpen.


"Pak, saya pinjam mejanya dulu untuk menulis ya," ujar Dewi meminta izin dari pemilik toko.


"Silakan Nona," jawab pemilik toko.


"Aku akan membuat surat wasiat untuk diriku, memangnya dia siapa! Beraninya dia menyentuh harta ku!" ucap Dewi kesal. Dewi pun menulisnya wasiat itu di kertas HVS.


Setelah selesai ia pun kembali ke dalam taksi.

__ADS_1


"Jalan pak," pinta Dewi. Taksi pun kembali melaju di jalanan. Tak lama kemudian, ia pun sampai di depan rumah Dewi, di sana sangat ramai orang, terutama menjaga tempat itu agar tidak ada yang orang sembarangan masuk.


Saat Dewi mendekati tempat itu, mereka menghalangi Dewi untuk masuk.


"Berhenti! Kamu di larang masuk! Tempat ini bukan sembarangan orang yang bisa masuk!" ucap penjaga itu tegas.


"Heh! Memangnya aku peduli dengan larangan kalian? Tidak ada yang bisa menghalangi langkahku," ucap Dewi menghajar para pengawal itu babak belur, ia menarik tangan pengawal itu lalu mematahkan tangannya, pengawal yang lain juga berdatangan, mereka menyerang Dewi bersama-sama, dengan sigap Dewi menghindarinya lalu menendang mereka secara bersamaan dan menghantam titik vital mereka hingga mereka tak bisa bergerak.


"Heh! Ingin menghalangi ku? Kalian tidak punya kemampuan itu," ucap Dewi pergi meninggalkan mereka dan masuk ke dalam rumah yang sedang di renovasi itu.


Andika sangat terkejut atas kedatangan Dewi, ia melihat keluar jika semua pengawalnya sudah tidak ada yang bergerak.


"Kau! Untuk apa kau datang ke sini?" tanya Andika dengan membelalakkan matanya.


"Untuk apa? Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan dengan rumah kakak angkat ku? Beraninya kau merubah tempatnya sedangkan kau tidak ada hak sama sekali menyentuhnya!" hardik Dewi.


"Kenapa aku tidak boleh menyentuhnya? Aku adalah walinya!" balas Andika tak mau kalah.


"Wali? Pria seperti mu tidak pantas menjadi wali. Lihatlah aku punya surat wasiat dari Dewi pembunuh, seluruh harta miliknya jatuh ke tanganku," ucap Dewi memperlihatkan kertas yang ia tulis tadi.


"Heh! Apa kau pikir dengan selembar keras ini bisa mempercayai orang-orang? Lalu di mana cap Dewi pembunuh?" tanya Andika tersenyum sini.


"Waktu membuat surat ini, dia tidak membawa capnya, tapi jika kau tidak percaya, kau bisa memeriksa tulisan ini sama atau tidak dengan tulis tangan Dewi pembunuh. Dan asal kamu tahu, berangkas milik Dewi aku tahu kata sandinya, jika tidak percaya aku bisa membukanya," ucap Dewi tersenyum sambil bercekak pinggang.

__ADS_1


__ADS_2