Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 128


__ADS_3

"Ayolah Sayang di angkat," ucap Zeiro panik. Ia berjalan mondar mandir, ingin rasanya ia terbang saja ke langsung ke negara Q.


Zeiro mengirim pesan ancaman.


"Jika kamu tidak mengangkatnya, aku akan terbang sekarang juga untuk menemui mu."


"Dia ini kenapa? Ada gila-gilanya dia ini." Dewi menelpon balik, jika tidak dan Zeiro beneran terbang ke negara Q bagaimana dengan pekerjaannya.


"Halo, halo," ucap Zeiro senang saat ia mendapat telpon dari Dewi.


"Kau jangan gila ya! Pekerjaan mu saja belum selesai ingin kau tinggalkan? Aku nggak mau jika karena aku jadi penghalang mu," ucap Dewi.


"Maka dari itu, tetaplah kita berkomunikasi, aku rindu pada mu," ucap Zeiro penuh harapan.


"Heh! Kenapa kau tidak minta di temani para wanita cantik tadi? Aku rasa mereka lebih tau apa yang kau inginkan?" ucap Dewi dengan nada cemburu.

__ADS_1


"Meskipun begitu, aku tetap tidak menginginkan mereka, yang aku butuhkan adalah kamu," ucap Zeiro.


"Ah, terserahlah, bagaimana dengan pekerjaan mu?" tanya Dewi keluar dari rumah sakit.


"Ya seperti biasanya, tidak ada yang spesial. Mungkin jika kamu ada di sini pasti akan berbeda," jawab Zeiro tersenyum. Dan mereka pun ngobrol cukup lama hingga Dewi masuk ke dalam taksi lalu keluar lagi dari taksi, menuju hotel dan ia masuk ke dalam kamarnya.


Saat masuk Dewi duduk di sisi ranjangnya lalu menghidupkan televisi.


Dewi terdiam karena di dalam tv. Joshi pria yang ia fitnah tas kematian Bima, ia terkena hukuman penjara selama-lamanya.


"Hm? Apa maksud mu?" tanya Zeiro.


"Tidak ada, aku mau istirahat, besok aku akan pulang kembali ke Negara A, sepertinya aku tidak ada hubungan lagi dari Negera Q ini," ucap Dewi merebahkan tubuhnya ke ranjang.


"Ya sudah, kalau begitu tidak perlu kau datang ke sana, aku juga akan mengurus seluruh perusahaan ku yang ada di Negera Q untuk pindah ke Negera A saja jika kau tidak ingin datang lagi ke Negara Q," ucap Zeiro.

__ADS_1


"Hey! Apa urusan dengan mu? Yang aku katakan itu untuk diri ku, bukan mengajak kamu," ucap Dewi memanyunkan mulutnya.


"Karena kamu tidak suka dengan Negara Q maka aku juga akan mengikuti keinginanmu, jadi kita tinggal saja di Negera A, lagian rumah kamu adalah negara A kan?" ucap Zeiro.


'Rumah? Apa itu rumah? Apa aku selama ini tinggal di rumah? Rumah seperti apa yang mereka maksud? Tempat yang nyaman? Tempat untuk berpulang? Aku tak punya semua itu,' batin Dewi memejamkan matanya.


"Sayang, aku adalah kekasih mu, jadi tolong anggap aku adalah sebagai rumah mu," ucap Zeiro lembut.


Dewi terenyuh dan terharu mendengar ucapan Zeiro. Baru pertama ada seorang yang mengatakan seperti ini padanya, yang biasanya mereka yang selalu datang padanya untuk berlindung.


Meskipun Dewi kuat, tapi ia tetap saja manusia, ia juga butuh tempat untuk mengadu.


"Kau … tidak menyesal mengatakan itu pada ku?" tanya Dewi tersentuh.


"Tentu saja, saat pulang nanti aku akan melamar mu, ku harap kau tidak menolak ku," ucap Zeiro.

__ADS_1


Dewi terdiam dan tidak menyahutinya. Ia berpikir saat ini apa dirinya sudah siap?


__ADS_2