
"Mana mungkin aku tersesat di tempat yang sudah ribuan kali ku lewati," gumam Dewi yang terus berjalan.
"Kemana gadis itu pergi," ucap Zeiro yang ingin mengejar Dewi, akan tetapi ia di tahan oleh Amel.
"Tuan Zeiro mau ke mana?" Amel memeluk Zeiro dari belakang.
"Hey lepaskan!" Zeiro melepaskan tangan Amel dan menghempaskan lalu mengejar Dewi.
"Tuan!" teriak Amel. Zeiro tidak mempedulikannya dan terus berlari melihat ke kiri dan kanan mencari Dewi.
"Dewi! Dewi!" teriak Zeiro.
"He-he-he dia mencari ku ya, kalau gitu cari aku sampai dapat," ucap Dewi berjalan dan bersembunyi.
"Dewi! Dewi!" teriak Zeiro panik karena ia tidak menemukan Dewi. "Kenapa larinya sangat cepat sih, sehingga aku tidak bisa menemukannya," ucap Zeiro terus berlari dan memanggil Dewi.
__ADS_1
Dewi berjalan perlahan-lahan sambil melihat-lihat. "Sayangnya identitas ku adalah orang dari negara A, jika tidak aku sudah tinggal di sini," ucap Dewi berdiri di tepi pagar pembatas yang di depannya ada danau penuh dengan bunga teratai merah.
"Tapi tenang aja, setelah aku menjadi pemenang nomor satu di dunia nanti aku bisa pergi kemanapun aku mau kan?" ucapnya tersenyum, ia menghirup udara segar, wangi teratai itu sampai di hidungnya.
"Dewi! Dewi!" teriak Zeiro yang terus mencarinya. Akhirnya ia menghentikan langkahnya, hatinya merasa lega karena melihat Dewi yang sedang berdiri melihat hamparan teratai itu dengan rambut melambai-lambai di tiup angin malam.
Zeiro berjalan santai mendekati Dewi lalu berdiri di sampingnya.
"Aku hampir mati mencarimu kau malah menikmati hidupmu di sini," ucap Zeiro.
"Jika di bilang ingin menghabiskan waktu dengan siapa, aku ingin menghabiskan waktu dengan mu saja," jawab Zeiro tersenyum.
Dewi menatap Zeiro manyun lalu melihat kembali hamparan teratai itu.
Zeiro membuka jasnya lalu menutupi tubuh Dewi. "Kau akan masuk angin jika hanya memakai pakaian seperti ini," ucap Zeiro.
__ADS_1
"Heh! Ini baju kan kamu yang beli," ucap Dewi.
"Tidak apa, aku akan selalu menghangatkan mu," jawab Zeiro tersenyum.
"Berhentilah tersenyum seperti itu kepadaku seperti orang mesum," ucap Dewi menatap Zeiro sayup.
"Oke, oke, oke, ayo kita balik ke tempat istirahat, besok kau harus bertanding dan harus banyak istirahat," ucap Zeiro menarik tangan Dewi untuk pergi dari sana.
Sesampainya di kamar Dewi, Dewi pun membuka pintu dan masuk ke dalam, Zeiro juga ikut masuk ke dalam.
"Hey! Ngapain kau masuk ke dalam!" teriak Dewi menutup pintu kamarnya membuat Zeiro terdorong keluar. Dewi membuka pintu kamar itu lagi lalu melempar jas Zeiro lalu menutup pintu dengan kuat membuat Zeiro terkejut.
"Gadis ini, saat ia terbangun, ia seperti harimau, tapi saat tidur ia seperti kelinci manis," ucap Zeiro tersenyum dan ia balik ke kamarnya.
Dewi duduk di sisi ranjang lalu merebahkan tubuhnya di kasur.
__ADS_1
"Andika, sepertinya kau tak bisa ku gapai lagi, aku seolah-olah tidak mengenali diri mu lagi, memang aku tak pernah tau tentang diri mu, aku hanya percaya apa yang aku lihat. Kau pria baik dan tak pernah kasar, jangankan menghardik, marah saja kau tak pernah, apa yang membuatmu berubah?" Dewi memejamkan matanya membayangkan masa-masa indahnya dulu.