
Melihat makanan lezat Dewi tanpa pikir panjang lagi ia mengeksekusi kan makanan itu agar segera pindah ke dalam perutnya.
'Hm … aku tahu kelemahannya sekarang, asalkan ada makanan maka dia akan tergiur,' batin Zeiro mengangguk-angguk.
"Kamu nggak makan?" tanya Dewi saat melihat Zeiro santai sambil menatapnya makan.
"Melihat mu saja aku sudah kenyang," jawab Zeiro tersenyum. Dewi menjadi tertegun dengan ucapan Zeiro.
"Hm … kalau begitu kau tidak perlu makan lagi, lihat saja aku makan sampai kenyang," jawab Dewi mengangkat kedua alisnya tapi sambil melihat makanan mana lagi yang harus ia santap duluan.
Zeiro tersenyum hampir tertawa.
"Kau dari tadi senyam-senyum, sungguh mengerikan tau senyuman mu itu," ucap Dewi manyun.
Triring! Triring! Triring!
Ponsel milik Dewi berbunyi di dalam tas kecil miliknya, sedangkan Dewi tangan masih bercelemotan dari makanan.
"Biar aku yang bantu angkat," ucap Zeiro mengambil tas milik Dewi dan mengambil ponselnya.
__ADS_1
Zeiro melihat nama yang menelpon Dewi dengan mengernyitkan dahinya.
"Siapa?" tanya Dewi melihat perubahan wajah Zeiro.
"Anita," jawabannya. Tanpa persetujuan dari Dewi, Zeiro mengangkatnya dan mengspeakerkan suara ponsel itu.
"Halo, Dewi, kamu di suruh pulang sama Ayah, ada yang ingin dia bicarakan," ucap Anita.
"Kenapa? Apa dia rindu?" tanya Dewi menyengir.
"Ah terserah kau saja, pokoknya kau harus pulang segera, kalau tidak Ayah pasti akan marah," ucap Anita antara kesal, tidak mau bicara tapi di paksakan.
"Ya terserah kamu saja, yang pasti aku sudah mengatakannya, jika Ayah murka habislah kamu." panggilan di putuskan oleh Anita mungkin saking kesalnya dia.
"Cih! Dia sungguh berlagak sekarang, mentang-mentang sekarang sudah terkenal, jadi dia melupakan keluarga yang mengasuhnya," ucap Anita mendengus kesal.
"Aku akan temani kamu," ucap Zeiro.
"Kamu kenapa sih, sekarang suka sekali mengikuti ku? Apa sekarang kamu sudah ganti hobi malah menjadi pengikut ku? Kamu nggak punya pekerjaan kah?" tanya Dewi menaikkan alisnya sebelah.
__ADS_1
"Bukannya begitu, besok aku keluar negeri dalam perjalanan bisnis ku, maka dari itu, aku hari ini khusus untuk menemani kamu, jika tidak hari ini, mungkin aku pasti akan merindukan kamu," ucap Zeiro. Jika di lihat dirinya saat ini seperti anak kucing yang minta di elus.
"Haishh ... terserah kamu deh," ucap Dewi pasrah, ia kembali menyantap makanan yang masih ada di hadapannya.
Setelah makan, mereka berdua pun naik mobil. Mobil itu meluncur di jalanan menuju ke rumah orang tua Dewi.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di sana, terlihat ayah dan ibu sambung duduk di sofa, sedangkan Anita baru saja keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga.
"Dewi kamu datang juga," ucap Surya mendekati Dewi, Zeiro juga menghampiri Dewi.
"Anda ... Anda … bukankah Anda Tuan Zeiro? Apa kabar?" Surya membungkukkan badannya memberi hormat. Zeiro mengangguk.
Anita terbelalak menutup mulutnya, rasanya tak percaya, Tuan Zeiro yang terkenal yang hanya bisa di lihat dari tv itu ternyata bertamu di rumahnya. Ia berlari mendekat.
"Tu-Tuan Zeiro, Anda kah itu?" tanya Anita yang terus menatap Zeiro dengan mata berbinar, seperti bertemu dengan orang yang ia cintai yang sekian tahun tak bertemu. Anita langsung memeluk Zeiro.
Zeiro melepaskan Anita tapi Anita memeluknya erat.
"Anita! Kamu jangan tidak sopan seperti itu!" seru Surya.
__ADS_1