
Andika mengerutkan dahinya.
"Ini ambil surat wasiat ini dan sana kamu periksa." Dewi menjepit kertas itu antara kedua jarinya.
Andika mengambilnya dengan wajah masam. "Rino! Ke sini dulu!" panggil Andika kepada salah satu pekerjaan.
"Ada apa Tuan?" tanya Rino mendekatinya.
Andika mengajak Rino ke pojokan untuk berbicara.
"Rino, kamu pergi periksa kedua tulis tangan ini di tempat ahlinya, apa keduanya benar-benar sama atau ada perbedaan, kamu secepatnya hubungi aku jika sudah ada hasilnya, cepat sana pergi," ucap Andika.
"Baik Tuan," angguk Rino pergi berlari masuk ke dalam mobilnya dan secepatnya meninggalkan tempat tersebut.
'Sial! Jika itu benar-benar tulisan dari Dewi pembunuh, maka aku pasti tidak akan dapat apa-apa,' batin Andika, ia mendengus kesal dan khawatir.
Andika kembali menuju Dewi dengan wajah kesal.
"Dan kamu jangan berpikir untuk menyobeknya ya, karena aku punya 100 salinannya," ucap Dewi tersenyum sinis.
__ADS_1
"Kau jangan berbangga dulu, siapa yang tahu, bisa jadi kau hanya menyontek tulisan Dewi saja dan membuatnya sendiri," jawab Andika tak mau kalah.
"Oh ya, di mana brankasnya, aku tebak kau pasti tidak bisa membukanya kan? Tentu saja tidak bisa membukanya, karena brankasnya terbuat dari besi pilihan, besi itu tidak akan rusak meskipun di bakar, meskipun di bakar di dalamnya ada lapisan yang bisa melindungi barang yang ada di dalamnya. Kau pasti sudah berusaha merusaknya dan sudah ratusan kali mencoba untuk membuka sandinya, tapi tetap tidak berhasil kan? Jadi dari pada kau membiarkan brankas itu menjadi pajangan, lebih baik kau beri padaku, karena hanya aku yang bisa membukanya. Tapi tentu saja harta itu adalah milikku karena seluruh harta itu sudah ia berikan pada ku," ucap Dewi tersenyum mengembang.
'Sial! Dia tau semuanya, apa benar-benar Dewi memberikan seluruh hartanya pada wanita ini? Jika begitu selama pengabdian ku, aku dapat apa?' batin Andika. Ia mengerakkan giginya, dia benar-benar kesal.
"Kamu tidak bisa mengambil semua hartanya, aku yang selama ini yang selalu menjaga Dewi, dan Dewi sudah menjadikan aku walinya, tidak mungkin dia memberikan semuanya kepada wanita yang tidak jelas seperti mu!" sanggah Andika, ia tak tahu apa yang terjadi jika semua harta itu jatuh ke tangan wanita yang ada di hadapannya itu.
"Hey! Kau itu cuma hewan peliharaannya, jangan mengaku-ngaku sebagai walinya, kalau kau bersikeras untuk mengambil harta Dewi, aku akan mendatangi langsung notarisnya dan menyebarkan surat wasiatnya, coba kamu tebak, seujung kuku kamu tidak akan mendapatkan apa pun. Karena apa? Lebih baik mempunyai surat sepotong dari pada tidak sama sekali, mau di bolak balik pun tetap aku yang menang. Jadi aku akan menegosiasi dulu pada mu, lebih baik kau beri brankas itu atau kau tidak akan mendapatkan harta Dewi sama sekali," ancam Dewi. Ia membelalakkan matanya di hadapan Andika.
Hati Andika mulai resah, bagaimana jika dia memang tidak mendapatkan apa-apa? Ia berusaha untuk tenang karena tulisan tangan itu belum jelas statusnya.
Triring
Triring
Triring
Ponsel milik Andika berbunyi.
__ADS_1
"Halo," jawab Andika.
"Tuan, hasilnya benar, ini adalah tulis tangan Dewi pembunuh," jawab Rino.
"Apa!" Andika terbelalak, ia berjalan menjauhi Dewi dan berjalan keluar.
"Apa sudah memastikannya?" tanya Andika jantungnya mulai berdegup kencang.
"Benar Tuan, keseluruhannya sama, meskipun ada yang tidak sama, tapi itu tetap tulisan tangan Dewi," jawab Reno.
"Sial! Benar-benar sial! Apa yang harus aku lakukan, sia-sia aku berbuat banyak selama ini!" Andika mengengam erat tangannya, ingin rasanya ia membunuh Dewi saat itu juga.
'Di dalam berkas itu ada cap ku, jika aku mendapatkan capnya maka aku punya bukti yang kuat untuk mengajukan di pengadilan dan menghukum Andika dengan seberat-beratnya,' batin Dewi.
Andika kembali masuk ke dalam rumah. "Aku akan lapor polisi jika kau sudah memalsukan surat wasiat itu!" ucap Andika menunjuk-nunjuk ke arah Dewi.
"He-he-he, kalau begitu aku juga akan melapor pada polisi jika kau mencuri harta Dewi pembunuh sedangkan ia tidak pernah menyuruhmu untuk mengurus hartanya dan seharusnya harta ini akan di urus oleh pihak berwajib." Dewi melipat tangannya sambil menyunggingkan senyumnya.
"Lihat saja nanti! Aku tidak akan membiarkan mu mendapatkan harta Dewi," ucap Andika meninggalkan Dewi di rumah itu, ia pergi entah ke mana.
__ADS_1
"Hey kalian semua pergi dari rumah ini," usir Dewi kepada orang yang sedang merenovasi rumah itu.