Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 58


__ADS_3

"Kamu yakin tidak memberi tahu ku? Atau kau ingin di kuliti baru kau ingin memberi tahunya?" Zeiro berjongkok di hadapan pria itu.


"Aku tidak akan memberi tahunya! Siksa saja aku sampai mati! Aku tidak akan memberi tahu mu!" teriak pria itu.


"Oh begitu ya? Mat, ambilkan besi panas," perintah Zeiro.


"Baik Tuan," angguk pengawalnya yang bernama Mat itu.


Pria itu terlihat bergetar, serasa tubuhnya sudah merasakan rasa sakit terkena besi panas itu hingga ia mengeluarkan keringat dingin.


'Ternyata di cukup kejam juga,' batin Dewi.


Mat membawakan besi panas itu, terlihat besi yang memerah akibat terlalu lama di bara api. Ia memberikan kepada Zeiro. Zeiro menerimanya, dan memegang pangkal besi dengan pegangan yang dingin.


"Aku beri kamu kesempatan untuk mengatakannya sebelum besi panas ini akan membakar daging mu," ucap Zeiro memperlihatkan besi panas itu sambil menyengir.


"Aku tetap tidak akan memberi tahu mu," ucap pria itu bersikukuh, meskipun tubuhnya bergetar hebat.


"Baiklah kalau begitu, aku sudah mengingatkan mu, tapi kamu masih menutup mulut mu, jika begitu, rasakan ini," ucap Zeiro melakukan besi panas itu di kaki pria itu. Seketika pria itu menjerit kesakitan yang teramat sakit. Ia meringkukkan tubuhnya menahan sakit.


Zeiro melepaskan besi panas itu dan ria itu kembali bisa bernafas.


"Jadi bagaimana? Mulutmu yang lebih rapat atau bara apinya yang tidak terasa panasnya?" tanya Zeiro.


"Aku tidak akan memberi tahunya," ucap pria itu bersikukuh.


"Ini, coba kamu yang melakukannya," ucap Zeiro memberikan besi panas itu kepada Dewi.

__ADS_1


Dewi menerimanya, lalu ia mendekati pria itu. Pria itu sangat ketakutan, ia memejamkan matanya, ia tidak tahu, tubuh bagian mana yang akan Dewi lukai.


Tidak terjadi apapun, pria itu kembali membuka matanya, kenapa Dewi belum juga melakukannya.


Dewi langsung mencolok besi panas itu pada mata kiri pria itu, saat itu pria itu langsung menjerit histeris, sakit ini luar biasa, ia benar-benar tidak tahan lagi, sakitnya hingga ke ubun-ubun dan ke seluruh tubuhnya,rasanya ia lebih baik mati saja dari pada harus menahan sakit, apa yang di lakukan Zeiro belum seberapa, tapi Dewi ini malah lebih sadis.


"He-he-he lebih baik kau katakan, atau aku akan memotong anu mu juga lalu memberi harimau makan. Hm … atau kau seperti ini karena ada yang lindungi?" tanya Dewi menatap pria itu dengan dalam.


Pria itu terdiam, meskipun ia menatap mata Dewi tapi tetap saja, ia berusaha menghindarinya.


"Untuk apa aku melindungi sesuatu, aku hanya hidup sendiri," ucap pria itu.


"He-he-he, kalau begitu kamu cari tahu tentang keluarganya, secara tidak langsung kau mengatakan jika punya sesuatu yang di lindungi, itu pastilah yang sangat berharga," ucap Dewi tersenyum menyengir.


"Tidak! Aku tidak punya! Bunuh saja aku! Bunuh aku sampai mati!" teriak pria histeris.


"Ya, tenang saja, aku akan membunuh mu dan juga keluarga mu jika mulutmu masih rapat, jika kau mengatakannya, meskipun nyawa mu tidak selamat, Zeiro akan memastikan jika keluarga mu akan selamat dan di lindungi dari orang yang akan menyakiti keluarga mu, jadi bagaimana menurut mu?" tanya Dewi membuat tawaran.


"Katakan saja di mana mereka, kau tidak perlu khawatir karena Zeiro tidak kekurangan uang, mereka akan di beri berkecukupan makanannya," ucap Dewi.


"Mereka …." ucap pria itu terputus, meski hanya menyisakan mata sebelahnya, itu terlihat menetes air matanya.


Dewi melihat ke arah Zeiro lalu kembali melihat pria itu. "Katakan," ucap Dewi pelan.


"Mereka di tahan di tahanan milik Joe, aku di paksa untuk membunuhmu agar keluarga ku selamat. Aku sudah memberi tahu pada mu, jadi bunuh saja aku, tapi tolong selamatkan keluarga ku," ucap pria itu memohon.


"Aku akan menyelamatkan keluarga mu kau tidak perlu khawatir. Mat bawa dia ke rumah sakit," perintah Zeiro.

__ADS_1


"Baik Tuan," angguk Mat dan pengawalnya lain juga membantu membuka rantai besinya.


"Tuan, terima kasih banyak, aku pasti akan mengingat ini," ucap pria itu.


Pria itu pun di bawa ke dalam mobil untuk di bawa ke rumah sakit.


"Good job Dewi, aku akan membayar mahal untuk uang kerjamu hari ini," ucap Zeiro tersenyum senang.


"Ya aku mau 100 juta," jawab Dewi yang tak tanggung-tanggung.


"Oke." Zeiro mengeluarkan kartu ATM lalu memberikan kepada Dewi. Dewi menerimanya.


"Itu berisi 3 ratus juta, kata sandinya 232323," ucap Zeiro.


"Terima kasih, aku akan mempergunakan uang ini dengan baik," ucap Dewi menyimpan uang tersebut.


"Untuk apa? Apa untuk beramal?" tanya Zeiro.


"Enggak, tapi untuk foya-foya," ucap Dewi tertawa.


"Ya sudah, ayo aku temani kamu ke mall," ucap Zeiro berjalan terlebih dahulu. Dewi mengikuti Dewi Zeiro keluar dari markasnya.


"Hio, kamu tolong selidiki dulu di mana keluarga pria itu berada, dan sebisa kalian selamatkan mereka," perintah Zeiro.


"Baik Tuan," angguk pengawalnya yang bernama Hio. Hio pun pergi bersama pengawal yang lain masuk ke dalam mobilnya dan pergi.


Zeiro dan Dewi masuk ke dalam mobil, mereka pun pergi meninggalkan markas.

__ADS_1


"Kamu ingin ke mall yang mana?" tanya Zeiro sambil menyetir mobilnya.


"Ke mall Serui," jawab Dewi.


__ADS_2