
Zeiro menyimpan ponselnya ke dalam mobilnya dan ia duluan masuk ke dalam air lalu menyiram Dewi dengan air.
"Hey! Apa yang kau lakukan!" teriak Dewi melindungi dirinya dari siraman air.
"Ayo masuk ke dalam air, aku biasanya hanya melihat ini di TV, tidak pernah melakukannya, jadi aku ingin melakukan dengan mu," ucap Zeiro yang terus menerus menyiram Dewi.
"Apa! Kau sangat katrok, kalau begitu jangan salahkan aku ya," ucap Dewi juga ikut menceburkan diri ke dalam air lalu menerpa Zeiro dan mereka tengelam bersama di lautan.
Dewi timbul di permukaan akan tetapi tidak melihat Zeiro. Dewi mencarinya dan ia tidak melihat Zeiro.
"Zeiro! Zeiro! Kamu di mana!" terima Dewi panik. Ia menyelam kembali dan berenang mencari Zeiro, mana tau Zeiro tengelam dan hanyut.
Ia pun mencarinya dan tiba-tiba dari belakang ada yang memeluknya. Dewi melihat kebelakang dan ternyata itu adalah Zeiro.
"Hey! Sialan! Kau membuatku panik!" Dewi memukul Zeiro dan ia malah tertawa.
"Ha-ha-ha, apa kau mencari ku? Ternyata kau juga khawatir pada ku juga ya," ucap Zeiro tersenyum.
"Siapa juga khawatir pada mu, aku hanya takut kau di makan Buaya atau di telan Anakonda." Dewi berjalan ke daratan karena rasanya sudah cukup mainnya.
Zeiro dari belakang memeluknya lagi dan menghempaskan tubuhnya ke dalam air.
"Hey! Sudah cukup mainnya," ucap Dewi mengusap wajahnya dari air laut itu.
"Aku baru pertama kali main, jadi tidak tahu rupanya seenak ini, bagaimana kita habiskan waktu di sini lagi, dan hari-hari berikutnya kita akan melakukannya lagi," saran Zeiro yang tubuhnya terapung di dalam air.
"Lakukan saja dengan dirimu sendiri." Dewi duduk di dalam air dan merasa bajunya berat oleh air.
Zeiro terus menyiramnya dengan air dan Dewi ikut membalasnya.
__ADS_1
Tak terasa bermain air cukup lama, jam sudah menunjukkan pukul 13:20 menit.
"Sudah siang, ayo pulang ganti pakaian dulu nanti masuk angin," ajak Zeiro.
Mereka masuk ke dalam mobil dalam keadaan basah kuyup, Zeiro segera menghubungi asistennya.
Tuuut! Tuuut! Tuuut!
"Halo Tuan," jawab asistennya.
"Kamu belikan pakaian untuk Dewi dan makan siang kami."
"Anda mau makan apa Tuan?"
"Pesankan spaghetti bolognese 3 porsi, steak daging sapi premium 3 porsi, dessert box coklat 2 dan minuman jus jeruk 1, jus alvokado 2," ucap Zeiro.
Krucuk! Krucuk! Krucuk!
"Ehem!" Zeiro berdehem mendengar suara perut Dewi yang berbunyi sambil tersenyum.
Dewi memegang perutnya dan menatap Zeiro. "Jangan ketawa kamu!" seru Dewi.
"Tidak! Mana ada aku ketawa, aku hanya senyum," jawab Zeiro mengepalkan tangannya dan meletakkan di atas mulutnya sambil tersenyum.
"Bilang saja kau mengejek ku," ujar Dewi manyun.
"Aku hanya heran saja, kau makan banyak tapi masih saja lapar, tubuhmu juga nggak gemuk-gemuk aku curiga jika kau cacingan," ucap Zeiro menyengir.
"Sialan! Emangnya aku anak kecil yang cacingan, mana ada aku begitu. makanan yang ku makan itu menjadi energi dan aku membutuhkan energi yang banyak agar bisa melawan para penjahat, kau mengerti," ucap Dewi melihat Zeiro dari dekat.
__ADS_1
"Ya ya, ku rasa hanya kau saja punya fisik yang berbeda dari yang lain." angguk Zeiro.
"Tentu saja, karena aku rajin olahraga, jadi apa pun yang aku makan itu tidak akan jadi lemak. Memangnya aku gadis yang lain, ngemil sambil tiduran dan nonton Drakor atau ngemil sambil baca novel romantis dan tertawa sendiri, senyum sendiri, geli sendiri, nangis sendiri. Hidupku saat ini tidak semudah itu masih banyak yang harus aku lakukan," ucap Dewi panjang lebar.
"Ya kamu sangat berbeda, mungkin jika wajah kalian serupa bahkan aku mengira kau adalah Dewi pembunuh sesungguhnya," jawab Zeiro mengangguk.
'Aku memang Dewi pembunuh sesungguhnya,' batin Dewi mencibir.
Dan tak lama, mereka pun sampai di rumah Zeiro, untungnya di sana asisten Zeiro sudah ada di rumah. Baju berserta box makan siang ada di atas meja dan itu sudah di siapkan oleh asistennya.
"Sana kamu ganti baju dulu," ucap Zeiro memberikan paper bag yang berwarna ungu itu kepada Dewi, Dewi mengambilnya tanpa ekspresi.
"Kenapa wajahmu di tekuk begitu? Jangan bilang kau minta aku yang ganti pakaian mu," goda Zeiro.
"Jika masih sayang nyawamu jangan coba-coba melakukan itu," ancam Dewi.
"He-he-he kenapa malu-malu, Kitakan sudah tidur bersama," jawab Zeiro melihat ke atas langit-langit dengan meletakkan tangan kiri di dagunya. Mendengar itu membuat wajah Dewi memerah, ia sangat malu karena ada asisten Zeiro juga di sana.
Bak!
Dewi menendang Zeiro hingga ia nyunsep di lantai.
"Tuan! Tuan! Anda tidak apa-apa?" tanya asistenya panik menghampiri Zeiro dan memeriksanya.
"Aku … baik … baik … saja." Zeiro meringis kesakitan.
"Berani kau mengatakan itu lagi akan ku patahkan leher mu," ancam Dewi. Ia pun masuk ke dalam kamar yang pintunya tidak terkunci lalu mandi.
"Itu Tuan, tidak apa-apa jika Tuan bersama Nona Dewi terus? Dari yang aku lihat dia sangat kasar kepada Tuan dan dari ucapannya juga tidak main-main?" tanya asistenya membantu Zeiro duduk di sofa.
__ADS_1