
Ke esokkan paginya diana hati yang sangat di tunggu-tunggu.
Pagi ini Dewi sudah bersiap-siap dan sudah memakai baju seragamnya khusus dari Zeiro, seluruh peserta Zeiro berkumpul di depan teras penginapan, dan juga peserta yang lain juga sudah berkumpul.
Mereka melakukan pemanasan, menggerak-gerakkan tubuhnya agar nanti tidak terlalu kaku saat pertandingan nanti.
Para pelayan mengantarkan sarapan untuk para peserta, di sana ada roti, susu dan telur rebus.
"Kalian harus semangat ya, ikuti peraturan yang ada, jangan lengah dan jangan menganggap remeh lawan baik dia besar mau pun kecil, karena meremehkan lawan kita akan menurunkan kewaspadaan dan di sana musuh melihat celah untuk menghabisi kita," ucap Zeiro memberi semangat.
"Baik Tuan," jawab pesertanya.
"Dewi, ingat! Ini adalah di panggung kompetisi, stabilkan kekuatanmu ya, jangan sampai mematahkan tulang mereka," ucap Zeiro mengingatkan.
"Iya aku tahu," jawab Dewi.
Setelah sarapan, mereka pun di minta masuk ke dalam gedung besar itu, di sana sudah ada puluhan ribu penonton dari berbagai negara dengan membawa bendera masing-masing setiap negara.
Sangat meriah, rasanya Dewi kembali seperti dulu, di mana pertama sekali ia bertanding di ajang kompetisi internasional. Kebanggan itu kembali pada dirinya, ia sangat menyukai suasana seperti ini.
__ADS_1
"Para peserta harap berbaris di panggung untuk memberi penghormatan kepada penonton." terdengar suara yang menggema dari mikrofon seorang pembawa acara.
Para peserta berjalan menuju panggung, panggung yang sangat besar hingga muat ratusan orang.
"Kalian semua kalahkan peserta Zeiro, jangan kasih ampun pada mereka," ucap Andika kepada para pesertanya.
"Baik Tuan," ucap mereka mengangguk dan berjalan mendekati panggung.
"Para hadirin harap berdiri, peserta harap menundukkan kepala memberi hormat," ucap pembawa acara. Para peserta pun menunduk kepala memberi hormat kepada para penonton dan begitu juga para penonton menundukkan kepala memberi hormat.
"Para peserta harap kembali ke tempat duduknya masing-masing." ucap pembawa acara.
Para peserta pun kembali ke tempat duduknya.
"Peserta pertama yaitu dari negara A melawan negara B," ucap pembawa acara.
"Kamu ingat ya! Kalau tidak kuat lagi angkat tanganmu karena nyawa lebih penting," ucap Zeiro mengingatkan kepada peserta pertamanya yang maju.
"Baik Tuan," angguk Ali berjalan menuju panggung.
__ADS_1
"Baiklah, untuk kedua peserta saling berhadapan memberi hormat," ucap wasit.
Mereka berhadapan dan memberi hormat.
Mulai.
Keduanya saling menyerang saling menjatuhkan lawan, yang tidak sanggup mengangkat tangan akan dinyatakan kalah.
Ali menendang perut lawannya dan dengan sigap lawannya menangkap kaki Ali lalu memutarnya hingga Ali terjatuh. Ali kembali bangun dan menyerang balik lawannya.
"Aku berharap ada pemenang salah satu di antara kalian," ucap Zeiro melihat ke arah pesertanya.
"Kau meragukan kemampuan ku?" tanya Dewi melipat tangan.
"Kamu itu peserta bebas dan tidak terikat pada ku, mana mungkin aku berharap lebih," ucap Zeiro.
"He-he-he, kalau kau memberi ku gaji 50 juta mungkin aku akan berpikir untuk menjadi peserta mu," goda Dewi menyenggol Zeiro.
"Setuju," jawab Zeiro tanpa basa basi.
__ADS_1
"Kau serius?" tanya Dewi membelalakkan matanya.
"Kenapa tidak, petarung tangguh sepertimu jangan sampai di ambil orang," jawab Zeiro mencolek hidung Dewi.