Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 34


__ADS_3

"Akhhh! Ini benar-benar menyebalkan," ucap Dewi mengacak-acak rambutnya.


Dewi kembali menghempaskan tubuhnya di kasur, memeluk bantal guling dan memejamkan mata.


***


Tok!


Tok!


Tok!


"Dewi! Dewi!" panggil Zeiro dari balik pintu.


Mata Dewi terbuka dan terus mendengar namanya di panggil. Ia pun bangun mendekati pintu kamarnya.


"Dewi!" panggil Zeiro lagi sambil mengetuk pintu.


Cklek!


Pintu terbuka.


"Ada apa?" tanya Dewi dengan mata sayup karena masih mengantuk.

__ADS_1


"Kamu baru bangun rupanya, sana cepat mandi, malam ini kita ada pertemuan dengan kepala kompetisi dan ketua masing-masing peserta," ucap Zeiro.


"Siapa ketua peserta Dewi pembunuh?" tanya Dewi penasaran.


"Mungkin pacarnya Dewi pembunuh, siapa namanya ya? Aku tidak terlalu memperhatikannya," jawab Zeiro mencoba mengingat-ingat.


"Jangan bilang itu Andika," jawab Dewi.


"Aku rasa dia," ujar Zeiro mengangguk.


"Baiklah jika begitu, aku bersih-bersih dulu," jawab Dewi yang langsung menutup pintu dengan kuat membuat Zeiro terkejut.


"Oh dia ya, aku ingin lihat dia bagaimana bergaul dengan orang-orang setelah aku tiada," ucap Dewi mengambil handuk lalu menuju kamar mandi.


"Benar juga ya kata orang-orang, wanita kalau berdandan sangat lama," ucap Zeiro tersenyum.


"Aku tidak memakai hiasan apa pun," jawab Dewi menatap Zeiro.


"Ayo kita pergi," ajak Zeiro merangkul pundak Dewi membawanya ke suatu gedung di mana tempat itu akan di adakan kompetisi secara live ke seluruh dunia.


"Sebenarnya aku nggak memintamu untuk menang, aku hanya menyayangkan jika bakat mu terpendam dan tidak di saksikan oleh dunia jika kau punya kemampuan," ucap Zeiro menatap ke depan, mereka melewati lorong masuk ke dalam gedung.


"Kau tidak ingin aku menang, tapi aku ingin menang," jawab Dewi tegas.

__ADS_1


"Nah itu dia, percaya diri seperti mu ini sangat mirip denganku," puji Zeiro.


"Jangan samakan aku dan kamu, kita berbeda dalam segi apa pun," jawab Dewi datar.


Mereka pun sampai di gedung dan duduk di kursi yang sudah di sediakan, terlihat Andika dan ketua peserta lain juga duduk di kursi, mereka membawa masing-masing perwakilan dari peserta mereka, sedangkan perwakilan peserta dari kelompok Zeiro adalah Dewi, biasanya perwakilan peserta adalah peserta yang terkuat antara peserta yang lain.


"Oh Tuan Zeiro, apa kabar?" tanya Andika menyalami Zeiro. Zeiro membalas jabatan tangan Andika sambil tersenyum.


"Aku baik-baik saja, bagaimana keadaan Anda?" tanya Zeiro.


"Saya luar biasa baik. Oh ini adalah perwakilan peserta Tuan Zeiro ya?" tanya Andika tersenyum melihat Dewi. Dewi menatapnya balik.


"Benar sekali, dia menurut saya adalah peserta yang terkuat," jawab Zeiro tersenyum.


"Tidak tahu Tuan Zeiro mendapat peserta kuat ini dari mana," ucap Andika tersenyum sinis.


"Oh, dia adalah penyelamat ku, bisa di bilang aku berhutang nyawa padanya," ucap Zeiro merangkul pundak Dewi sambil tersenyum melihat Dewi.


"Oh begitu ya, baiklah, semoga sukses selalu," jawab Andika mengangguk dan ia pergi meninggalkan Zeiro dan duduk di kursinya.


"Sepertinya kalian berdua punya masalah?" tanya Dewi melepaskan tangan Zeiro yang ada di pundaknya.


"Ya dulu dia berpikir jika aku adalah saingan untuk merebut Dewi pembunuh, meskipun aku sebenarnya memang menyukai Dewi pembunuh, setelah aku tau jika Dewi pembunuh berpacaran dengan aku lebih baik mundur saja. Yang aku heran kan entah apa yang di lihat Dewi pembunuh dari pria jelek itu, bahkan hidupnya saja menumpang dari Dewi pembunuh dan dia tenar karena berpacaran dengan Dewi pembunuh," ucap Zeiro melipat tangannya melihat tidak suka ke arah Andika yang tersenyum palsu kepada petinggi yang lain.

__ADS_1


'Benar juga, entah apa yang aku lihat dari Andika,' batin Dewi sambil mengangguk kepalanya dengan pelan.


__ADS_2