
Tok!
Tok!
Tok!
"Dewi!" panggil Zeiro dari balik pintu.
Dewi terbangun mendengar ketukan pintu dan suara Zeiro. Ia pun mendekati pintu lalu membukanya.
"Kamu, ada apa?" tanya Dewi yang matanya masih sayup.
"Hey! Ini sudah malam, ayo kita pergi makan malam dulu, setelah itu kau ingin melihat pria yang kau hajar itu kan," ucap Zeiro melingkarkan tangannya di leher Dewi dan membawanya menuju mobil.
"Hey! Aku belum mandi," ucap Dewi memegang lengan Zeiro yang ada di lehernya.
"Tidak perlu mandi, kau tetap cantik meskipun tidak mandi," ucap Zeiro.
"Berhenti mengatakan gombal yang menjijikkan, aku tidak termakan rayuan yang membosankan itu," ucap Dewi menatap Zeiro tajam.
"He-he-he, aku mana bisa mengobati, itu adalah kata yang ku ucap dari hati," ucap Zeiro melepaskan tangannya dan masuk ke dalam mobil.
Mobil pun melaju di jalanan, mereka berhenti di salah satu restoran mewah.
Mereka pun masuk ke dalam di sambut oleh pegawai restoran.
"Selamat datang Tuan, Nona, silakan masuk," ucap pegawai itu tersenyum ramah.
Zeiro dan Dewi duduk di kursi meja nomor 10, seorang pelayan datang.
Kali ini mereka mendapati pelayan yang sama sekali tidak ramah, wajahnya masam dan jutek. biasanya pelayan itu ramah tamah dan murah senyum. Ia memberikan buku menunya kepada Dewi dan Zeiro tanpa berkata apa-apa.
__ADS_1
"Aku pesan sapi panggang, jus jeruk peras selasih dan dessert box strawberry," ucap Zeiro.
"Aku juga sama," jawab Dewi.
Pelayan itu mengambil kembali buku menu itu dan pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa.
"Dia kenapa?" tanya Dewi mengangkat alisnya melihat kepergian pelayan itu.
"Mungkin dia ada masalah keluarga kali," jawab Zeiro menyengir.
"Dan kamu kenapa suka meja nomor 10?" tanya Dewi memegang papan kayu yang bertuliskan angka 10.
"10 adalah angka keberuntunganku," jawab Zeiro.
"Lalu di mana kau pergi tadi?"
"Aku? Tentu saja mengurus pria itu."
"Kau punya markas di sini kan?" Dewi membolak balikan dengan papan itu lalu meletakkan di atas meja kembali.
"Aku tau itu, hanya saja aku tidak tahu di mana markas mu," jawab Dewi.
"Tenang saja, nanti aku bawa kau ke sana," jawab Zeiro menaik turunkan alisnya.
Tak lama makanan mereka pun sampai, pelayan itu meletakkan makanan di atas meja, tapi itu sangat membanggongkan, karena makanan yang mereka pesan tidak seperti yang di harapkan.
Pelayan yang berwajah masam itu itu menyelonong begitu saja.
Makanan yang tersedia bukan sapi panggang, melainkan ayam goreng tepung, minuman jus jeruk manis, bukan jeruk peras dan dessert puding mangga, bukan lagi dessert box strawberry.
Dewi tertawa menyengir melihat pesanan mereka yang berubah 100%.
__ADS_1
"Dia punya masalah apa sih?" tanya Zeiro heran.
"Udahlah, makan saja apa yang ada, yang penting kenyang," ucap Dewi mengambil satu ekor ayam goreng Kentucky itu lalu melahapnya.
"Ini terakhir aku datang ke sini, habis itu aku kapok," jawab Zeiro yang terpaksa memakan makanan yang ada di depannya.
Setelah selesai makan, Zeiro membayarnya. Mereka pun memilih cepat-cepat pergi dari restoran itu.
"Horor banget pelayannya," ucap Zeiro melajukan mobilnya menuju markasnya.
Mobil pun melaju di jalanan yang penuh kendaraan, saatnya mereka memasuki jalanan yang sedikit sepi.
Saat melewati jalan sepi itu, Dewi melihat ke arah luar jendela mobil, ia melihat beberapa orang pria yang sedang berkumpul di dalam gang, mereka terlihat biasa saja, tapi bagi Dewi ada yang tidak beres.
"Berhenti!" pinta Dewi. Seketika Zeiro memberhetikan mobilnya secara mendadak.
"Ada apa?" tanya Zeiro. Dewi tidak menjawabnya dan ia langsung turun dari mobil dan menuju perkumpulan pria itu.
"Sedang apa kalian di sini?" tanya Dewi melihat para wajah pria itu yang terlihat cuek.
"Tidak ada apa-apa, lagian kamu seorang wanita ngapain ke sini sendirian? Ingin menemani kami bermain?" tanya pria itu dengan senyum mesumnya.
Dewi melihat sekitar pria itu, ada seorang pria yang bersembunyi di belakang para pria itu, Dewi menerobosnya dan mendapati seorang pria yang wajah yang babak belur.
"Oh, ini kerjaan kalian rupanya," ucap Dewi menatap mereka semua dengan tatapan membunuh.
Dewi menarik kerah baju dua orang pria itu lalu mendekatkan mereka ke wajahnya.
"Dia punya kesalahan apa sampai kalian keroyok hingga dia seperti itu?" tanya Dewi dengan membelalakkan matanya.
"Dia … dia … dia menganggu kami," ucap pria itu gagap. Dewi melihat ke arah pria yang babak belur itu agar ia berkata jujur.
__ADS_1
"Mereka meminta uang ku, sedangkan aku tidak punya uang, dan barulah mereka menyiksaku demi kepuasan mereka," jawab pria yang terluka itu menundukkan kepalnya.
"He-he-he, begitu ya, kalau begitu, bagaimana jika kalian ku hajar demi kesenangan ku," ucap Dewi menyengir.